
Hari Berikutnya
Rezvan dan Bianca mengantar pasangan Lila dan Dirga ke bandara. Sampai di sana mereka saling berpelukan satu sama lain. "Jangan lupa ya kak sepulang dari bulan madu, oleh olehnya dan calon keponakan aku. " goda Bianca.
"Iya iya dasar bawel. " Lila sekali lagi memeluk adiknya itu, lalu mereka bergegas menuju ke pesawat. Setelah kepergian keduanya, Bianca dan Rezvan segera kembali ke mobil, Rezvan melajukan mobilnya kencang meninggalkan bandara.
"Oh ya Mas bagaimana dengan Sabrina, apa mas Rezvan sudah menyuruh orang untuk mengawasi wanita itu. " ujar Bianca dengan wajah paniknya.
"Sudah sayang, jangan cemas oke lebih baik mikirin masa depan kita!
Bianca langsung tersipu mendengar ucapan sang kekasih. Rezvan tersenyum tipis, dia kembali fokus menyetir mobilnya menuju kediaman keluarga Bianca.
30 menit kemudian
Mereka berdua turun dari mobil, terdengar suara teriakan dari dalam mansion. Rezvan dan Bianca bergegas masuk ke dalam, mereka berdua terkejut melihat Rio yang menangis dalam gendongan Sabrina. Keduanya berlari mendekati mereka, Bianca langsung merebut Rio dari pelukan Sabrina.
Sabrina sangat terkejut dengan tindakan Bianca, dia melirik tajam kearah gadis itu dengan sinis. " Kembalikan Rio padaku, dia anak kandungku sialan. " maki Sabrina.
"Tidak akan, apa kamu enggak lihat Rio takut melihat kamu Sabrina. " geram Bianca, sedikit menekan suaranya agar tak berteriak.
"Bianca cepat bawa Rio ke kamar kamu, biar aku yang urus wanita gila ini. " Bianca mengangguk, dia membawa pergi Rio dari hadapan Sabrina. Sabrina berniat menyusulnya, namun Rezvan mencengkeram tangannya dengan kuat lalu menghempas nya kasar.
"Untuk apa kamu menganggu Rio lagi Vita, bukankah kamu tak peduli padanya. "
"Aku ibu kandungnya, akulah yang berhak atas dia bukan wanita sialan itu. "
"Tutup mulutmu! bentak Rezvan, dia tak menerima jika orang lain menghina Bianca di hadapannya. Sabrina berdecih, melihat mantan suaminya itu membela Monica habis habisan.
"Kamu sebut dirimu ibu heh, ibu mana yang tega meninggalkan anak dan suaminya demi mengejar pria lain, Ibu mana hah. " teriak Rezvan dengan keras.
Sabrina terdiam, dia kalah telak atas ucapan Rezvan barusan. Diam diam dia mengepalkan tangannya, dia kembali menatap mantan suaminya dengan sorot tajamnya. "Wanita sialan itu bukan siapa siapanya Rio, tapi akulah Ibunya dan kamu harus ingat itu Rezvan. " tandasnya.
__ADS_1
Dari kejauhan Bunda dan lainnya menyaksikan pertengkaran Rezvan dan Sabrina. Mommy Tari ikut geram melihat wanita tak tahu malu seperti Sabrina. "Ingin sekali aku gantung wanita itu di tiang bendera. " gerutu mommy. Daddy Rafa menelan salivanya, dia bergidik mendengar gumaman sang istri.
"Serahkan Rio padaku, setelah itu aku akan membiarkan kamu menikahi Bianca. " ucap Sabrina dengan santai.
"Tidak, aku tidak akan menyerahkan puteraku padamu. " kekeh Rezvan.
Sabrina semakin kesal, dia hendak menyerang Rezvan namun ketiga wanita paruh baya itu langsung mendekat dan menyeret Sabrina ke luar dari mansion.
Blam
Mommy Tari menutup pintunya dengan kasar, dia bernafas lega setelah mengusir rubah betina itu. Rezvan merasa tidak enak hati dengan keluarga Bianca. "Maafin aku tante, om karena Vita berbuat keributan di sini. "
"Sudahlah nak enggak papa kok, sebaiknya kamu temui Rio di kamar Bianca! ujar Bunda.
" Iya Bunda! Rezvan langsung pergi ke kamar Bianca di lantai atas.
Sementara para orang tua berkumpul di ruang tamu. Mommy Tari berkali kali mengumpati Sabrina, sontak membuat Daddy Rafa hanya bisa menggeleng. "Ck wanita tak tahu malu, huh untungnya wanita itu tak jadi menantuku, jika iya hancurlah dunia persilatan. " ujarnya sambil bercanda.
Daddy dan Papah tertawa mendengar candaan dari Mommy Tari. Bunda hanya menggeleng melihat kelakuan besannya itu. Ibu terlihat khawatir mengingat ucapan Sabrina sebelum pergi tadi. "Tapi, Vita pasti ngelakuin segala cara untuk mengambil hak asuh Rio. "
"Daddy, cepat segera hubungi pengacara kita!
" Siap Ratu! Daddy Rafa langsung mengambil ponselnya, menghubungi pengacara dan mengatakan semuanya.
Di Kamar Bianca
Bianca membiarkan Rio tertidur di atas kasur, diapun bangun dan mengobrol dengan kekasihnya di balkon. Bianca menyentuh lengan kekasihnya, lalu menenangkannya.
"Sabrina menuntut hak asuh atas Rio, tapi tentu saja aku tak akan membiarkannya. Wanita itu tak pantas menjadi seorang ibu bagi Rio. "
"Sabar mas, kamu jangan marah marah kayak gini entar Rio takut mas! bujuk Bianca dengan nada lembut.
__ADS_1
Mereka berdua duduk di sofa sambil menatap lurus ke depan, Rezvan menoleh kearah Bianca sambil mengenggam tangannya. " Sayang, bagaimana kalau pernikahan kita di percepat agar kita bisa melindungi Rio. " ujar Rezvan dengan nada serius. Bianca terdiam, memikirkan tawaran yang di berikan sangat kekasih, setelah memikirkan matang matang diapun mengangguk.
"Iya mas aku setuju, lagian aku tak mau Rio di rebut oleh Sabrina, meski dia ibu kandungnya. Aku sudah sangat sayang sama Rio, dia sudah aku anggap sebagai puteraku sendiri mas. "
"Terimakasih sayang, kamu benar benar sayang sama Rio. " Rezvan membawa Bianca ke dalam pelukannya, Bianca membalasnya dengan senyum di bibirnya.
"Ya sudah mas ke luar dulu, berbicara sama orang tua kamu. " Bianca mengangguk, mereka berciuman sekilas lalu bangkit dan ke luar dari kamar. Bianca duduk di sebelah Rio, mengusap lembut pipi putera kesayangannya itu.
"Mommy tak menyangka sayang, kamu melewati hari yang berat dari kamu bayi hingga sekarang. Meski bukan ibu kandungmu, mommy akan selalu bersamamu dan tak pernah meninggalkanmu sayang. " gumam Bianca dengan tulus.
Matanya tampak berkaca kaca, cairan bening meluncur bebas di kedua pipinya, mengingat raut ketakutan di wajah Rio. Dia meraih kdua tangan bocah kecil itu dengan lembut lalu mengecupnya berulang ulang.
"Em. " Rio membuka matanya dan menatap kearah BIanca.
"Mommy, Lio engeh dipeyuk Mommy! rengeknya.
"Iya sayang. " Bianca naik ke kasur, lalu berbaring di samping Rio, dia membawa tubuh kecil Rio dalam pelukannya. Rio membalas pelukan mommy nya sambil tersenyum sumringah.
"Mommy, ante tadi jahat cekali, Lio takut dan tak au bertemu ante itu lagi. " gumam Rio.
"Iya sayang Rio tak akan bertemu tante itu kok, 'kan ada mommy dan daddy sayang! Rio mengangguk, Bianca mengambil buku cerita, lalu membacakan dongeng supaya Rio tak merasa ketakutan lagi.
" Mommy, ante tadi kayak nenek cihir ya Mommy. " Bianca tertawa pelan mendengar ucapan puteranya, dia mengusap sayang kepala Rio dengan lembut.
"Emangnya Rio sudah pernah lihat nenek sihir, "
"Cudah di buku mommy. " Bianca mengangguk, dia mengecup kening Rio sekilas dan melanjutkan ceritanya lagi. Keduanya saling bercerita, Bianca tersenyum lega melihat puteranya yang berceloteh lucu.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa mampir, genre romantis komedi lagi hehe seru kok!!!
cari saja di pencarian dengan ketik Bucin Nathan entar ketemu