Istri Nakal Sang Billionaire

Istri Nakal Sang Billionaire
Epson 59 - Kepergian penuh Luka


__ADS_3

Di kediaman keluarga Felix


Renita nampak terdiam, memperhatikan puterinya Lila yang tengah bermain bersama Oma Riana. "Re, apa kamu enggak berniat memberikan sosok ayah untuk Lila. " ucap Felix sambil melirik kearah Renita.


Renita bergeming, dia mencerna ucapan Felix barusan setelah itu membuang nafas berat. "Enggak Mas, lagian aku hanya ingin hidup berdua bersama Lila saja, sudah cukup aku tersiksa karena seorang laki laki. " ungkap Renita tanpa menoleh kearah Felix.


"Lila sayang. " panggil Renita pada puterinya.


Lilapun berlari menghampiri sang bunda tercinta. Renita mengusap kepala puterinya itu dengan lembut. "Sayang, sebaiknya kita pulang dan bersiap siap karena kita akan pindah ke rumah nenek bagaimana. " ujar Renita dengan lembut.


"Mau Bunda. " jawab Lila dengan semangat.


Renita pun bangkit, menoleh kearah Mami Riana dan Felix secara bergantian. "Terimakasih Mami, Mas Felix kalian telah menolong kami berdua dan kami akan pulang untuk berkemas. "


"Tapi Ren, apa enggak sebaiknya kalian tinggal di sini saja! bujuk Felix.


" Enggak Mas, lagian aku dan Lila ingin membuka lembaran baru tanpa terbayang masa lalu. " Mami Riana langsung memeluk Lila setelah itu bergantian memeluk Renita.


Kemudian Keduanya langsung pergi meninggalkan Felix dan Maminya itu, namun Felix justru lu tak tinggal diam segera menyusul Renita dan Lila.


"Padahal aku sudah terlanjur sayang sma Lila! keluh Mami Riana dengan lirih.


Di jalan Felix berusaha membujuk Renita agar masuk ke dalam mobilnya. Renita menghela nafas kasar kalau mobil Felix berhenti di depannya. " Please Mas, jangan paksa aku dan keputusanku sudah bulat saat ini. " tegas Renita.


"Aku tidak akan memaksa, hanya saja aku ingin membantumu Renita, mengantarkanmu ke rumah orang tuamu. " tegas Felix.


Renita menghela nafas lalu mengangguk, dia dan Lila masuk ke dalam mobil. Felix bernafas lega dan melakukan mobilnya dengan kencang.


🌺🌺


Di kediaman Rafa


Tari kini tengah bersantai membuka majalah fashionnya. Dirga berjalan menghampiri mommy tercintanya, tangan kecilnya menarik dress sang mommy. "Ommy, Ommy. " panggil Dirga.


Tari langsung menoleh kearah puteranya, dia taruh majalahnya. "Iya Dirga sayang ada apa hm?


" Ila pergi ke mana Ommy kok gak puyang puyang. " keluh Dirga dengan nada cadelnya.


"Bibi Renita dan Lila pergi ke rumah neneknya Lila sayang, memang nya Dirga kangen ya sama Lila. " Dirga mengangguk kecil, Tari menahan senyumnya melihat tingkah malu malu puteranya itu.

__ADS_1


"kalau Iga dah dewasa, iga pasti jemput Lila dan ajakin ila puyang ke sini. " ungkap Dirga dengan wajah seriusnya.


"Iya sayang, tapi sekarang Dirga main saja sama Calvin atau Divya ya. "


Dirga mengangguk, mencium pipi sang mommy setelah itu kembali bermain dengan Divya dan Calvin. Mentari menggeleng pelan melihat tingkah puteranya yang sangat menggemaskan itu.


"Yank " Rafa pun datang dan langsung duduk di sebelah istrinya itu.


"Hm. "


Rafa menghela nafas, langsung merebut majalahnya dari tangan sang istri. Mentari terkekeh, menoleh ke samping menatap suaminya sambil mengulas senyumnya. "Entar malam sudah bisa 'kan aku minta hakku lagi. " ucap Rafa dengan pelan.


"Bisa lagian aku sudah selesai haid!


Raut wajah Rafa berbinar cerah, hal itu sontak membuat Mentari mencibirnya pelan namun diabaikan Rafa. " Ya sudah nanti malam kita main dan Dirga kita titipin ke Alex dan Monica. "


"Iya jangan lupa pakai peng******n oke. " ujar Mentari.


Rafa mengangguk lesu, Mentari tersenyum geli melihat raut tak bersemangat dari suaminya itu. Dia hanya bisa menggeleng pelan, tak menyangka sikap mesum suaminya tak pernah berubah.


Rafa melirik jam tangannya, menunjukkan angka 10.00 pagi. Diapun bangkit, dan bergabung bersama Dirga dan dua keponakan dirinya yaitu Divya dan Calvin.


Alex dan Monica datang berkunjung, Monica melihat puteranya yang tengah sibuk bermain setelah itu bergegas menemui Mentari di ruang tamu. "Mon, aku titip Dirga bentar ya untuk sehari soalnya nanti malam mau urus bayi besarku. " ujar Mentari sambil terkekeh.


Mentari mengangguk, menyetujui ucapan sahabatnya itu.


Drt drt drt


Mentari mengambil ponselnya yang bergetar, tanpa ragu dia langsung mengangkatnya. "Ada apa Mommy?


Mentari terkejut mendengarnya di langsung mengakhiri obrolannya dengan sang mommy. Monica nampak khawatir melihat ekspresi sahabatnya itu membuatnya penasaran. " Ada apa Tari, kenapa kamu terlihat cemas? "


"Melodi tertabrak mobil dan kini dia kini tengah dioperasi. " ungkap Mentari dengan bibir bergetar ketakutan.


"Ya sudah kita doakan semoga Melodi dan bayinya baik baik saja, apa perlu kita datang ke sana. "


"Mommy Felisia bilang enggak usah, soalnya di sana sudah ada Mommy, Daddy dan juga Reyhan. " jelasnya.


Monica pun bangkit, duduk di sebelah Tari setelah itu memeluknya. Dia mengerti dengan perasaan Tari saat ini.

__ADS_1


"Kamu baik banget sih Tar, mudah maafin saudarimu yang jelas jelas dulu berusaha mencelakaimu. Kalau aku jadi kamu aku tidak akan semudah itu memaafkan Melodi. " batin Monica.


Monica melepaskan pelukannya, mengusap tubuh sahabatnya yang bergetar. Setelah merasa tenang, Tari membuang nafasnya kasar berdoa dalam hati supaya saudarinya itu baik baik saja.


"Eh aku buatin minum dulu ya. " Taripun langsung bangkit dan pergi ke dapur. Monica menatap kepergian sahabatnya dengan raut sedihnya.


Monica menoleh dan menatap lekat kearah Alex, suaminya. "Aku kagum Mas sama Tari, dia begitu baik dan memaafkan Melodi dengan mudah padahal Melodi sangat banyak menyakiti hatinya. " ujar Monica.


"Ya dan Rafa sangat beruntung memilikinya, Oh ya Honey jangan lupa nanti malam kita olahraga. " ucap Alex langsung mengalihkan pembicaraan. Dia menatap wanitanya itu sambil tersenyum nakal sontak membuat Monica berdecih.


"Hm. "


Tak lama kemudian Mentaripun kembali, menyuguhkan minuman dan camilan di atas meja lalu duduk di sofa. Mentari menyandarkan tubuhnya di sofa, pikirannya saat ini masih tertuju pada Melodi dan bayinya.


Sudah lima bulan lebih dirinya tidak bertemu dengan saudarinya itu. Dia bukannya benci hanya saja belum siap bertemu lagi dengan Melodi.


Tring


Melodi membuka chat masuk dalam ponselnya, kedua manik matanya langsung melotot seketika. Diapun bangkit dan bergegas ke kamarnya, beberapa menit kemudian Mentari kembali ke bawah. "Mon, Lex aku titip Dirga dulu kami harus ke rumah sakit


sekarang. "


"Emang apa yang terjadi Tari? "


"Nanti aku chat kamu. " Tari bergegas langsung menghampiri suaminya yang bermain bersama putera mereka.


"Mas ayo kita ke rumah sakit sekarang juga, entar aku jelasin di jalan. Dirga sayang kamu di rumah sama uncle Alex dan Aunty Monica ya. " Dirga mengangguk, Rafa dan Mentari langsung pergi dengan terburu buru.


Mobil melesat meninggalkan mansion dengan cepat. Mentari langsung mengatakan berita buruk itu pada sang suami. "Ya sudah kamu tenang dulu ya sayang. " tegur Rafa dengan bijak.


20 menit, setelah memarkirkan mobil keduanya langsung turun dan masuk ke dalam rumah sakit. Melodi berjalan cepat menghampiri orang tuanya yang ada di luar ruangan. "Mom, Dad. " panggil Tari dengan mata berkaca kaca.


"Nak, kakak kamu Melodi tidak selamat, padahal mommy sudah memaafkan kesalahannya tapi kenapa dia ninggalin kita hiks. " gumam wanita paruh baya itu dengan histeris.


Mentari ikut menangis, dia mengedarkan pandangannya kearah Reyhan yang sama sama terpuruk akan kehilangan Melodi. Diapun langsung menghambur ke dalam pelukan sang mommy, keduanya langsung menangis bersama. Sementara Rafa menenangkan Daddy Bram dan juga Reyhan.


"Aku tahu ini berat Daddy, tapi Dadd UNy dan juga Reyhan harus melepas kepergian Melodi agar dia tenang. " tegur Rafa.


"Oh ya Rey bagaimana keadaan anak kamu?

__ADS_1


" Dia seorang bayi perempuan Rafa dan lahirnya premature. " terlihat jelas kesedihan di kedua manik kelamnya.


TBC


__ADS_2