Istri Nakal Sang Billionaire

Istri Nakal Sang Billionaire
Epson 50 - Duo D


__ADS_3

Othor percepat kelahiran babynya Reina dan Davin dan Babynya Mentari.


jangan protes soalnya othor masih jomblo


Dua bulan kemudian


Sementara itu Sandra di tempatkan di sebuah rumah kecil di sebuah desa serta dijaga oleh beberapa bodyguard. Rafandra melakukan hal itu demi keselamatan istri dan calon anak mereka. Selain itu Mentari meminta Liam untuk mengawasi Sandra, takut takut kalau Sandra kabur ataupun mengamuk.


Seperti saat ini Mentari mendapat laporan medis mengenai kesehatan Sandra. Diapun membuang nafas berat, menghadapi kenyataan bahwa Sandra terkena depresi berat.


"Seharusnya kamu menerima kenyataan Sandra, aku kasihan padamu tapi lebih baik kamu menenangkan diri di desa itu. " elusan lembut terasa di kepalanya, Mentari menoleh dan tersenyum melihat kehadiran suaminya.


Rafandra mendaratkan kecupan di perut buncit istrinya kemudian duduk di sebelah Mentari. Dia melirik laporan medis itu setelah itu menatap istrinya lekat. "Sudah jangan dipikirin sayang lebih baik kita pikirin nama buat calon anak kita ini. "


Drt drt


Mentari menyambar ponselnya dan kemudian tersenyum.


"Halo Mommy ada apa?


"(................)"


"Sebentar Mom, ini mau aku bicarakan dengan suamiku, bye Mommy. "


Mentari mendesah pelan, Dia sebenarnya keberatan dengan keputusan orang tuanya. Diapun menoleh kearah suaminya kemudian mengatakan semuanya pada Rafandra.


"Mommy dan Daddy sepakat untuk menjadikan aku direktur perusahaan Daddy Bram mas. Tapi saat ini aku tengah hamil besar selain itu masih ada Melodi yang bisa menempati posisi itu. " ungkap Mentari.


Rafandra tersenyum tipis, mengerti dengan perasaan istrinya yang terlihat keberatan dengan keputusan orang tuanya. "Sebaiknya nanti kita bicarakan sama Mommy Felisia dan Daddy Bram oke. "


Mentari mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya yang ada benarnya. Lagipula dia tidak ingin serakah hingga membuat hubungan saudara anatar dirinya Dengan Melodi semakin renggang. Mentari hanya ingin menjadi ibu rumah tangga, fokus pada calon anak dalam perutnya dan suaminya itu.


"Lagipula aku sudah cukup senang dengan apa yang aku miliki saat ini yaitu kamu dan calon anak kita ini Mas. " cetusnya.


"Aku bangga padamu sayang, kamu cukup dewasa dalam menanggapi hal ini. Lagian aku juga setuju denganmu, bila Melodi 'lah yang lebih pantas menempati posisi itu menggantikan Daddy Bram. "


Tap tap tap suara langkah kaki dengan cepat

__ADS_1


Hiks hiks suara tangisan seseorang membuat Rafa dan Tari menoleh. Tari terkejut, diapun bangkit dan duduk disebelah sahabatnya itu. Mentari terlihat bingung dengan sahabatnya yang terus menerus menangis itu.


"Reina ada apa kenapa datang datang kamu menangis, lalu di mana Davin?


Dengan sesegukan Reina menceritakan semuanya pada Mentari, kejadian di mana suaminya Davin memeluk seorang wanita saat di toilet Restauran. Mentari menepuk jidatnya pelan, sepertinya sahabatnya itu tengah cemburu dan salah paham.


"Tapi kamu enggak harus lari juga 'kan Reina, kamu ini sedang hamil besar sebentar lagi mau lahiran lho. " omel Mentari dengan nada kesalnya.


"Lagian kamu pasti kabur sebelum suamimu itu menjelaskannya padamu 'kan cecar. " Mentari.


Reina menunduk dan masih terdengar isakan kecil. Mentari menghela nafas kasar, tebakannya memang benar jika sahabatnya itu cuma salah paham.


"Mas, coba kamu hubungi Davin suruh dia ke sini. "


Rafa mengangguk, dengan cepat menghubungi Davin. Setelah selesai dia kini memperhatikan istrinya dan sahabatnya itu kembali. Mentari dengan lembut mengusap punggung sahabatnya dengan lembut sambil berkata. "Kalau ada masalah jangan kabur Reina, soalnya bentar lagi kamu brojol. " Celetuknya asal.


Rafa tertawa mendengar ucapan absurd istrinya itu. Tak lama kemudian Davin datang dengan nafas tersengal sengal. Mentari kembali ke tempatnya semula, membiarkan Davin membujuk Reina. Tari menghembuskan nafas lega melihat kedua sahabatnya kembali mesra.


"Aakh Mas Davin perutku sakit. " Reina memegangi perutnya, menunduk kebawah melihat cairan keluar dari sela sela kakinya. Davinpun panik, dia langsung menggendong istrinya ke luar dari mansion di susul Rafa dan Mentari.


Skip Di rumah sakit


"Vin lu bisa diam tidak sih, aku pusing


melihatmu dan sebaiknya hubungi semua keluargamu sana. " omel Mentari dengan galaknya.


Davin segera menghubungi semua keluarganya.


Rafapun tertawa melihat raut kesal diwajah sahabatnya itu. Mentari mencengkeram tangan suaminya membuat Rafa menoleh. Dia terlihat panik melihat istrinya kesakitan.


"Kamu mau lahiran juga Yank. "


Mentari mengangguk, tanpa memunggu lama Rafa berteriak memanggil suster. Susterpun datang, Rafa menaruh istrinya ke atas brankar kemudian membawanya ke dalam ruangan bersalin. Rafa segera menghubungi orang tua dan mertuanya setelah itu menyimpan ponselnya dalam saku.


"Akhirnya kamu merasakan hal sama Raf, istrimu juga akan melahirkan bukan. " sindirnya dengan sinis.


45 menit berlalu

__ADS_1


Semua keluarga mereka berkumpul di sana. Susterpun keluar dari ruangan bersalin sambil berkata. "Suami Nyonya Reina dan Suami nyonya Mentari silakan masuk ke dalam. "


"Iya suster. "


Davin dan Rafandra masuk ke dalam ruangan bersalin. Keduanya menemani istri masing masing, Rafa nampak tak tega melihat istrinya kesakitan begitu juga dengan Davin pada Reina.


"Sudah pembukaan sepuluh nyonya silakan ikuti intruksi saya. "


"Atur nafas dan dorong nyonya. "


Mentari mengatur nafasnya kemudian mulai mengejang mengeluarkan bayinya. Kali pertama belum berhasil, dia kembali mencobanya hingga ketiga kalinya dengan seluruh kemampuannya.


Oek oek oek suara tangisan bayi menggema dalam ruangan disusul bayi milik Reina.


Rafandra terharu melihat betapa sulitnya perjuangan istrinya melahirkan bayi mereka. Tanpa malu Rafa menciumi wajah istrinya dengan kecupan kecupan singkat. Sementara bayi Rafa dan bayi Davin tengah dibersihkan.


Kedua Hot Daddypun ke luar dari sana. Mereka berdua berpelukan, memberikan selamat pada satu sama lain. Keluarga merekapun memberikan selamat pada Rafa dan Davin secara bergantian.


Setelah dibersihkan ibu dan bayinya dipindahkan ke ruangan lain. Rafa dan Davin serta lainnya langsung menuju ke sana. Kini Rafa memasuki ruangan istri dan bayi mereka berdua. Dengan langkah pasti dia langsung memeluk istrinya, mengucapkan terimakasih atas perjuangannya.


"Ini sudah tugasku Mas Rafa!


"Coba kamu gendong putera kita itu biar aku menyusuinya. " Senyuman diwajah Mentari nampak merekah kala melihat buah hatinya lahir. Rafandra dengan hati hati menggendong puteranya kemudian memyerahkan pada sang istri.


"Jadi siapa nama putera tampan kita Mommy! Rafa mengubah panggilan sayangnya pada sang istri.


"Keano Dirgantara Romanov Daddy, nama panggilannya Dirga. " Tari tersenyum manis dihadapan suaminya. Kini dia mulai memberikan asi pada bayi kecilnya itu, Rafa yang melihatnyapun mengulum senyumnya.


Tak lama kemudian masuklah Davin dan keluarga kecilnya beserta lainnya. Di atas kursi roda Reina menggendong bayi mungilnya. Memtari turut bahagia mendengar kelahiran bayi Reina dan Davin. "Vin siapa nama anak kalian! cecar Mentari begitu penasaran.


"Divya Merlinda Kirania. " Reina menatap puteri kecilnya dengan senyum mengembang dibibirnya. Setelah itu kembali memandang sahabatnya itu.


"Yeay baby Dirga punya teman baru. " Mentari menirukan suara anak kecil dihadapan semua orang.


"Kamu benar Tari, Dirga dan Divya. "


Rafandra dan Davin merasa bersukur melihat bayi dan istri mereka selamat tanpa kekurangan apapun. Sementara para orang tua kini menitikkan air matanya merasa terharu dengan kelahiran cucu mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2