
Kini Bianca berada di rumah Sabrina. Plak dia melayangkan tamparan ke pipi Sabrina, lalu menghunus kan tatapannya yang tajam. "Aku tidak akan tinggal diam jika kamu berani menyakiti kakakku.
"Wanita sialan itu merebut Dirga dariku bocah. " teriak Sabrina.
Plak Bianca menamparnya lagi setelah itu ke luar dari apartemen Sabrina.
"Cepat kejar gadis itu. " bentaknya pada kedua anak buahnya.
"Baik Nona!
anak buah Sabrina mengejarnya, Bianca langsung berlari kencang dengan sekuat tenaga. Karena tadi dia datang menggunakan taksi bukan mobil ayahnya.
Host hosh hosh Bianca mulai kelelahan, diapun langsung bersembunyi di dekat mobil mewah berwarna silver. Sedangkan dua anak buah Sabrina gagal menangkapnya dan langsung pergi.
Ehem
Bianca menoleh, seorang pria berdiri di belakangnya dengan raut datar. Diapun segera berdiri dan membersihkan tubuhnya. " Maaf tuan saya menghalangi Anda, saya permisi!
Bianca berjalan melewati pria itu, namun tiba tiba kepalanya pusing dan hampir limbung jika pria itu tidak menahannya. "Wajah kamu sangat pucat nona!
Bianca jatuh tak sadarkan diri, Pria asing itu segera mengangkatnya, lalu memasukkan ke dalam mobil mewah miliknya. Mobil Audi itu melesat kencang meninggalkan area kantor.
Skip di rumah sakit
Bianca terbangun, dia mencium bau obat obatan dan mengedarkan pandangannya kearah sekeliling. Pria yang menolongnya langsung bangun dan mendekatinya. " Kata dokter kamu punya penyakit asma nona, perlu istirahat dan harus selalu makan. "
"Terimakasih Tuan, anda telah membawaku ke mari. " ucap Bianca dengan tulus.
Drt drt drt
Bianca mengambil ponsel dari dalam tasnya, dia terlihat gelisah karena kakaknya menghubungi dirinya. "Halo kak ada apa? "
"Kamu kemana Bi kok belum pulang, ayah dan ibu khawatir sama kamu. " omel Lila.
"Bi lagi jalan jalan kak bentar lagi pulang! Bianca terpaksa bohong, jika orang tua dan kakaknya tahu mereka pasti mengomelinya habis habisan dan khawatir.
" Ya sudah kalau gitu. " sambungan terputus, Bianca menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas. Diapun langsung duduk dan turun dari brangkar di bantu pria itu.
__ADS_1
"Oh ya Tuan nama Tuan siapa? "
"Rezvan!
" Terimakasih tuan Rezvan. " Rezvan hanya mengangguk, lalu mereka ke luar dari ruangan dan pergi ke parkiran.
Drt drt ponsel Bianca kembali bergetar, mereka masuk ke dalam mobil dan Rezvan langsung tancap gas, meninggalkan area rumah sakit.
"Ada apa sih kakak ipar playboy. " seru Bianca dengan ketus.
(...........)
Bianca menutup sambungannya, dia menggerutu mendengar ucapan Dirga yang sangat menyebalkan. "Dua hari lagi mau nikah, kayaknya dia gak sabaran banget dasar buaya buntung. " gerutu Bianca.
"Siapa yang kau maksud nona!
" Aku Bianca tuan bukan nona, tadi calon iparku yang menelepon. " balas Bianca tersenyum tipis.
Rezvan hanya mengangguk, setelah itu diam dan fokus menyetir. Sedangkan Bianca kini mengirim pesan pada Zivana, saudarinya. Tiba tiba Rezvan menepikan mobilnya, lalu merogoh ponsel dalam sakunya.
"Halo sayang ada apa nak? "
" Iya ini Daddy dalam perjalanan pulang. " Rezvan mengulas senyumnya, mendengar suara cadel putera kesayangannya itu. Setelah selesai Rezvan menyimpan ponselnya dan kembali melajukan mobilnya.
30 menit kemudian mereka sampai di Apartemen mewah milik Rezvan. Bianca terlihat bingung dan langsung menatap Rezvan. "Maafkan aku Bi, puteraku sudah memintaku pulang, sebaiknya kamu menginap di rumahku saja dulu besok baru aku antar pulang.
" Eh iya. " Bianca segera mengirim chat pada kakaknya setelah itu turun dari mobil.
Mereka masuk ke dalam Penthouse, seorang bocah cilik menghampiri mereka. Rio mengerjapka matanya melihat kehadiran Bianca dan seketika matanya berbinar cerah. "Mommy, yeay mommy Lio sudah pulang. " pekik Rio.
Bianca dan Rezvan saling melirik satu sama lain, Rezvan mengangguk. Biancapun menahan nafas dalam dalam lalu menghembuskannya pelan. Diapun meraih Rio dalam gendongannya, Rio langsung memeluknya dengan erat. "Iya sayang Mommy pulang. " ujarnya dengan senyuman canggung.
Merekapun pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa, Rio masih memeluk tubuh Bianca. Bianca mengusap kepala Rio dengan lembut, lalu mendaratkan kecupan di sana. Rezvan terdiam, memperhatikan interaksi puteranya dengan Bianca. Rio melepaskan pelukannya, dia menoleh kearah sang daddy. "Daddy kenapa diam, daddy idak au ium mommy? "
Kedua pipi Bianca merona mendengar ucapan Rio, Rezvan diam diam tersenyum melihat reaksi dari Bianca. Kini dia duduk di sebelah Bianca, mereka bertiga bagaikan keluarga kecil yang manis. "Iya ini Daddy mau cium mommy. " balas Rezvan.
Rezvan mendaratkan kecupan di kepala dan kening Bianca dengan lembut, lalu menjauhkan wajahnya. Bianca menunduk, mencoba menyembunyikan pipinya yang merona dan kembali fokus pada Rio. Rio tersenyum lebar melihat sang Daddy mencium mommy. "Mommy Lio ingin tulun dan main di kamal. "
__ADS_1
Biancapun menurunkan Rio dari pangkuannya, Rio mencium pipi orang tuanya lalu pergi ke kamarnya di lantai atas. Setelah kepergian Rio, Bianca menoleh kearah pria dewasa di hadapannya itu. "Memangnya ibu kandung Rio di mana tuan? "
"Dia menghilang, meninggalkan Rio sewaktu bayi dan sepertinya panggilanmu padaku harus diubah!
" Huft baiklah Mas Rezvan, jahat banget sih wanita itu padahal Rio sangat lucu dan menggemaskan. "
Rezvan menatap Bianca dengan tatapan intens, Bianca nampak salah tingkah di buatnya. Rezvan mengenggam tangan Bianca, lalu menatapnya lembut. "Bi, kamu jangan mengatakan yang sebenarnya pada Rio, aku tak tega melihat puteraku itu kecewa, sekarang dia sangat bahagia dengan kehadiranmu karena dia pikir kamu mommynya. "
Bianca tersenyum manis, menaruh tangannya di atas tangan Rezvan sambil berkata. "Iya Mas, aku tak akan mengatakannya!
Rezvan tersenyum hangat kearah Bianca, gadis di depannya memang sangat ramah dan menyenangkan pikirnya. Bianca menarik tangannya, di sangat malu memegang tangan Rezvan. Rezvan hanya tersenyum kecil melihat tingkah Bianca.
🌹
Di kediaman Rahadian
Lila menyakinkan Ayah dan ibunya jika Bianca baik baik saja. " Tadi Bianca chat aku Ayah, katanya dia pulang besok karena temannya memintanya menginap. "
"Ayah hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada adikmu sayang. " ujar Ayah dengan raut cemasnya.
"Iya Lila tahu kalau Ayah khawatir pada
Bianca. " Lila mengusap punggung pria paruh baya itu, Ibu dan lainnya tersenyum senang melihat kedekatan Ayah dan puteri sulungnya.
Lilapun melirik jam di tangannya, waktu menunjukkan angka 06.00 sore.
"Baiklah Bunda dan Ibu akan pergi ke dapur. " dua wanita paruh baya langsung pergi dari ruang tamu. Kini menyisakan Lila dan papah serta ayahnya, Lila menatap kearah Papah Felix dan ayahnya secara bergantian sambil tersenyum. "Nanti Lila tidur sama Bunda dan Ibu, Papah dan Ayah tidur peluk guling saja ya. " seru Lila dengan jahil.
"Ck mana bisa gitu nak, Papah gak bisa tidur tanpa Bunda kamu, " protes Papah.
"Ayahpun sama!
"Yaampun Papah, Ayah kalian nyebelin banget, Lila cuma malam ini tidur sama Bunda dan Ibu setelah itu besok besok aku tidur sama suamiku kali. " ujar nya sambil memasang wajah cemberut
Kedua pria paruh baya itu langsung tertawa melihat wajah cemberut puteri mereka itu. Mereka telah berdamai dan melupakan masa lalu, keduanya sama sama akan memberikan kasih sayang dan cinta pada Lila, Bianca, Zivana dan Kenzo dengan porsi yang sama.
"Baiklah papah izinkan kamu tidur sama Bunda nak!
__ADS_1
Wajah Lila berubah ceria, dia langsung memeluk Papah dan Ayahnya secara bergantian. Lila sangat bahagia, nyatanya berdamai dengan masa lalu bisa membuat hidup menjadi tenteram dan malah semakin bahagia seperti sekarang ini.
bersambung