Istri Nakal Sang Billionaire

Istri Nakal Sang Billionaire
Extra Part 2 Season 1 end - Kebencian Lila


__ADS_3

Extra partnya segini ya


kisah Dirga dan Lila di gabung sini apa di pisah????


Felix dan Renita telah menikah, usia pernikahan mereka masuk ke 5 tahun. Lila gadis muda itu kini berusia, 8 tahun dan kini memiliki adik perempuan bernama Zivana berusia 5 tahun dan adik laki laki bernama Kenzo.


Siang itu di kediamannya, Renita kini memperhatikan ketiga anaknya yang tengah memakan puding dengan lahap. Dia sangat bersyukur, akhirnya setelah melalui badai dalam hidupnya, kini dia bisa menemukan kebahagiaan bersama suaminya Felix dan ketiga anak mereka.


Selesai makan Lila pun menatap kearah Bundanya. "Bunda, ayah ingin Lila menginap di rumahnya. "


Renita mengulas senyumnya, menatap lekat Puteri sulungnya itu. "Terus Lila jawab apa pada ayah!


"Lila menolaknya Bunda, aku masih tidak ingin berdekatan dengan Ayah! ujar Lila.


Renita menghela nafas pelan, dia tak mungkin memaksa puterinya itu untuk memaafkan Ardan, ayah kandungnya. " Ya sudah Lila jagain Ziva dan Kenzo ya, bunda mau ke depan


sebentar. "


"Iya Bunda!


Renitapun bangkit, berlalu dari ruang tamu kemudian ke luar. Tes tes airmatanya terjatuh, dia tak menyangka rasa benci puterinya Lila tertanam di hati Puteri sulungnya itu pada ayah kandungnya. Dia sengaja ke luar, agar Lila tidak melihat dirinya menangis. Jika Lila tahu puterinya itu akan langsung memarahi dirinya habis habisan.


Grep sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang, Renita buru buru menghapus air matanya. Felix membalik tubuh istrinya kemudian menatapnya lekat. " Bunda, kenapa kamu menangis lagi? "


"Pah, Lila Puteri kita sangat membenci Ardan, ayah kandungnya. Meskipun sikap Ardan dulu padaku salah, tapi tak seharusnya Lila membenci ayahnya. " ucap Renita dengan lirih.


Felix menghela nafas berat, kemudian memeluk istrinya sambil mengusap punggung sang istri. "Sabar sayang, Lila hanya butuh waktu untuk memaafkan dan menerima Ardan sebagai Ayahnya. " ujar Felix dengan bijak.


Renita mengangguk, mengeratkan pelukannya di tubuh sang suami setelah itu langsung melepaskannya. Felix langsung mengajak istrinya masuk ke dalam. "Tunggu! "


Felix dan Renita berhenti lalu menoleh ke belakang. Seorang pria turun dari mobil dan mendatangi mereka. "Bisakah aku mengajak Lila ke rumahku Ren. " pinta Ardan.


"Bicaralah sama Lila mas, ayo masuk ke dalam!


Renita dan Felix masuk ke dalam disusul Ardan yang mengekor dari belakang. Merekapun sampai di ruang tamu, Lila hanya diam kala melihat kedatangan Ayah kandungnya. Mereka semuapun duduk di sofa, Lila memilih duduk di sebelah kedua adiknya. Mata Ardhan berkaca kaca melihat puteri kandungnya yang sangat dia rindukan. "Lila sayang, kamu maukan menginap di rumah Ayah nak! . "

__ADS_1


"Aku tidak mau! jawab Lila dengan singkat.


Raut wajah Ardhan seketika kecewa mendengar ucapan dari puteri kandungnya itu. Renita dan Felix hanya bisa menghela nafas pelan melihat sikap puteri mereka itu. "Kenapa nak kenapa Lila menolak menginap di rumah Ayah. " ujar Ardhan mencoba sabar.


"Karena Lila masih takut sama sikap Ayah dulu terhadap Bunda. " ujar Lila dengan nada tinggi.


"Lila. " tegur Renita pada puterinya.


Lilapun hanya diam menunduk mendapat teguran dari Bundanya. Diapun bangkit dan langsung mengajak Ziva dan Kenzo pergi dari sana menuju ke Kamar mereka di atas.


Renita kembali membuang nafas berat, melihat kepergian puterinya Lila setelah itu kembali menatap Ardhan, mantan suaminya. Dia hanya diam melihat raut kecewa di wajah mantan suaminya itu. "Lila masih butuh waktu mas, kejadian lalu mungkin membuatnya trauma. "


"Iya Aku tahu, ini semua salahku hingga Lila seperti sekarang. " ujar Ardhan dengan nada lirih.


Sementara Felix memilih diam tak menyahuti ucapan mantan rivalnya itu, namun memilih merangkul erat istrinya. Dia menahan egonya, agar tidak mengusir pria bre******k di hadapannya itu. Ardhan kembali menatap Renita dan Felix secara bergantian, ada rasa iri dalam dirinya melihat kebahagiaan Felix bersama Renita, mantan istrinya itu.


"Ya sudah aku pamit pulang! Ardhanpun bangkit, berbalik dan melangkah jauh meninggalkan Renita dan Felix.


Setelah kepergian Ardhan, Felix melepaskan rangkulannya dan melirik istrinya itu kemudian mengenggam tangannya erat. " Bunda harus percaya, kelak Lila akan memaafkan Ayahnya dan menerima sosok Ardhan dalam hidupnya.


"Biarkan Lila tenang dulu Bunda. "


D Kamar Lila


Lila menangis di atas ranjang, mengingat sikap ayahnya dulu saat dia masih kecil. Sikap kasar serta cacian yang diterima bundanya membuat kebencian bersarang dihatinya terhadap ayah kandungnya itu.


"Lila benci banget sama ayah, kenapa ayah dulu sangat kasar dan menghina bunda. " gumam Lila sambil sesegukan.


Zivana dan Kenzo langsung naik ke ranjang duduk di sebelah sang kakak. "Kak Lila jangan nangis, nanti Ziva dan Kenzo ikut nangis lho kayak kakak. " ujarnya.


Lilapun bangun dan duduk mendekat kearah kedua adik adiknya. Dia mengusap air matanya kemudian mengusap kepala Ziva dan Kenzo secara bergantian. "Maafin kakak ya, tadi kakak berteriak di hadapan kalian dek. " sesal Lila.


"Iya enggak papa kak, tapi jangan sedih lagi


ya. " cetus si kecil Kenzo.

__ADS_1


Lila mengulum senyumnya kemudian mengangguk kecil, setelah itu mereka bertiga berpelukan di atas ranjang. Dari balik pintu Renita dan Felix mendengar percakapan ketiga anak mereka, Renita diam diam menitikkan air mata melihat Puteri sulungnya menangis.


Renitapun masuk ke dalam kamar di susul Felix. Dia langsung duduk di sebelah puterinya sulungnya, Lila. Lila melepaskan pelukannya dari tubuh kedua adiknya kemudian mendekat dan berhambur ke dalam pelukan sang Bunda.


Ziva dan Kenzo di jaga oleh Papah Felix. Ketiganya menyaksikan Lila yang tengah menangis dalam pelukan sang bunda. Renita mengusap punggung Lila yang bergetar, kemudian melepaskan diri dan menatapnya lekat. "Maafin Bunda sayang, tadi Bunda bentak kamu. Tapi Bunda lakuin itu agar kamu tetap sopan sama Ayah meski di masa lalu Ayah berbuat jahat sama kita nak. " tegur Renita dengan nada lembutnya.


"Maafin Lila juga Bunda, tapi jangan paksa Lila untuk memaafkan Ayah dengan cepat. Lila mohon Bunda! pinta Lila sambil memohon.


"Iya sayang Bunda tak akan memaksa kamu. " Lila bernafas lega, kemudian tersenyum kearah sang Bunda dan juga Papahnya. Mereka semua pun ke luar dari kamar, menuruni tangga.


Kini mereka semua kembali ke ruang tamu, Lila kembali ceria seperti sedia kala. "Bunda, Ayah bagaimana kalau kita semua pergi liburan. " usul Lila menyampaikan pendapatnya.


"Lalu bagaimana dengan sekolahmu sayang, 'kan belum waktunya liburan! ujar Renita.


" Ih Bunda lupa ya besok lusa, Lila sudah libur. " sungut Lila.


Renita menepuk dahinya pelan, kemudian tersenyum kearah puterinya tersebut. Felix hanya tersenyum geli melihat istrinya yang pelupa. "Maafin Bunda sayang, Bunda benar benar lupa!


"Lila mau liburan ke mana? " tanya Papah Felix.


"Australia Pah, setuju 'kan Ziva, Kenzo sama ide kakak, " Lila meminta pendapat kedua adiknya itu.


"Setuju. " jawab Ziva dan Kenzo secara bersamaan.


Felix dan Renita mengulas senyum mereka melihat bagaimana semangatnya ketiga anak anak mereka itu.


Lila menatap kedua orang tuanya sambil tersenyum manis, dia menatap lekat papahnya sambil berkata. "Pah, aku sangat beruntung bisa di besarkan dan mendapatkan kasih sayang dari papah. " batinnya dalam hati.


"Pah, Lila janji akan menjadi Puteri kebanggaan bagi Papah dan Bunda juga Ziva dan Kenzo. " gumamnya pelan.


"Iya sayang, asalkan Lila giat belajar. " sambung papah dengan tulus.


Lila langsung mendekat kemudian mencium papahnya diikuti Ziva dan Kenzo. Merekapun tertawa bersama dan saling menggoda satu sama lain.


End

__ADS_1


__ADS_2