Istri Nakal Sang Billionaire

Istri Nakal Sang Billionaire
Epson 53 - Kejadian tak terduga


__ADS_3

Jangan lupa GIFT dan VOTE NYA SERTA LIKE, KOMEN BIAR RAMAI


Plak Mommy Felisia menampar pipi Melodi dengan raut kekecewaannya. Dia tak menyangka puteri sulungnya bisa berbuat hal sekeji itu pada Mentari, adiknya sendiri. Melodi terus menangis sambil memegangi pipinya yang berdenyut nyeri.


"Mentari itu adikmu sendiri nak, kenapa kamu sangat tega seperti itu hah. " bentak Mommy Felisia dengan nada tinggi.


Hiks Hiks hiks tangis Melodi langsung pecah. Sementara Daddy Bram sangat kecewa dengan kelakuan puteri sulungnya itu. Sementara orang tua Rafa memilih diam dan tak ingin ikut campur.


"Mommy, Daddy selalu memuji muji Mentari dan selalu memberinya perhatian lebih sementara aku hanya sendiri Mom. " ucap Melodi dengan nada penuh kebencian.


"Kamu memang keterlaluan Melodi, rasa iri dan dengkimu membuatmu gelap mata, Mommy sangat kecewa sama kamu. " ungkap Mommy Felisia dengan lirih.


"Terserah Mommy, selama ini Mommy juga enggak peduli sama aku 'kan. " geramnya. Melodi berjalan melewati orang tuanya dan langsung naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.


Melihat sikap Melodi membuat tubuh Mommy Felisia seketika limbung, lalu jatuh tak sadarkan diri. Daddy Bram langsung sigap menangkapnya dari belakang.Mommy Clau ikut panik melihat besannya itu, Daddy Bram langsung membopongnya kemudian keluar dari mansion disusul orang tua Rafandra.


Mereka kini dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Daddy James melajukan mobilnya kencang hingga 20 menit kemudian mereka


sampai di sana. Daddy Bram membawa mommy ke dalam rumah sakit dan berteriak memanggil dokter.


Dokter dan suster datang membawa brankar, Daddy Bram membaringkan Mommy Felisia di sana. Suster segera mendorongnya ke dalam ruangan UGD. Sementara para keluarga menunggu di luar, Daddy James menghubungi putera dan menantunya umtuk datang ke rumah sakit.


"Tari dan Rafa dalam perjalanan ke sini. " Daddy James menepuk bahu besannya itu dan berusaha memberi dukungan untuk Daddy Bram.


Tak lama kemudian Rafa dan Tari menemui pasangan paruh baya tersebut. Tari nampak sangat cemas sambil beruraian air mata. "Mommy Clau, Daddy James bagaimana keadaan mommyku hiks. " cecar Mentari dengan tangisan pilunya.


"Mommy Kamu sedang ditangani dokter nak. " jawab Mommy Claudia dengan lirih.


Tangis Mentari langsung pecah. Rafa yang ada didekatnya segera merengkuh tubuh rapuh istrinya kedalam pelukannya. Jiwanya ikut hancur kala mendengar tangisan sang istri yang menyayat pilu.

__ADS_1


Lampu merah berganti hijau, Dokterpun keluar dari ruangan UGD. Mentari melepaskan pelukan suaminya dan bergegas menghampiri dokter.


"Dokter bagaimana keadaan mommy saya! Dengan mata berkaca kaca, Mentari berusaha menguatkan dirinya.


"Nyonya Felisia tekanan darah tingginya sangat tinggi, oleh sebab itu jaga pola makannya serta jangan biarkan beliau stress. Kalian boleh menjenguknya setelah kami memindahkan ke ruangan lain. "


Dokterpun berlalu pergi dari sana. Mentari terkejut mendengar pernyataan dokter, dia langsung bergegas pergi ke ruangan mommy tercintanya, disusul Daddy Bram dan lainnya.


Cklek Mentari masuk ke dalam, hatinya berdenyut sakit melihat ibu yang melahirkan dirinya terbaring lemah dibrankar pasien. Dia berjalan pelan mendekatinya, meraih tangan Mommy kemudian mengecupnya berulang ulang. "Mom hiks Tari sangat tidak suka Mommy sakit kayak gini, Tari mohon cepatlah sadar dan sembuh agar bisa mengajak main baby Dirga. " gumamnya lirih.


Pluk Rafa kembali merangkul istrinya, keduanya bersama sama saling menguatkan satu sama lain. Setelah itu mereka ke luar dari sana, membiarkan Daddy Bram masuk ke dalam ruangan Mommy Felisia.


Drt drt drt


Rafandra mengambil ponselnya kemudian memgangkat langsung panggilan dari Davin. "Halo Vin ada apa? "


"Oke. " Rafandra menyimpan ponselnya, melirik kearah istrinya dengan raut wajah sendu.


Rafandra menghembuskan nafas berat, menatap istrinya yang tengah menangis sesegukan. "Yank, baby Dirga rewel dan membutuhkan kamu. " ucap Rafa dengan lembut.


"Tapi bagaimana dengan Mommy!


"Sayang sebaiknya kamu dan Rafa pulang saja. Mommy dan Daddy James yang akan menjaga mommy kamu. " bujuk Mommy Claudia.


Mentari memgangguk, Rafa mengajak istrinya pergi. Sampai di parkiran keduanya masuk ke mobil dan mobilpun melesat kencang. 30 menit berlalu, mereka akhirnya tiba di mansion.


Setelah memarkirkan mobil,Keduanya langsung turun dari mobil dan bergegas ke dalam. Reina tersenyum lega melihat kepulangan kedua sahabatnya itu. Mentari meraih baby Dirga ke. dalam gendongannya, tangisnyapun mereda kala berada dalam dekapan mommy tercintanya. "Maafin Mommy ya nak, mommy ninggalin kamu cukup lama. "


Mentari menepuk nepuk paha puteranya dengan pelan kemudian duduk di sofa. Rasa sedihnya sedikit terobati kala melihat senyuman putera kecilnya dan baby Dirga berceloteh khas bayinya. "Sayang doain oma kamu ya agar oma Felisia cepat sembuh sayang. " gumam Mentari dengan lirih.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi!


Rafandrapun mengatakan semuanya pada Reina dan Davin. Reina nampak terkejut, dia sangat iba melihat sahabatnya kini tengah memikul beban berat. Rafandra melirik arlojinya menujukkan waktu sore jam 03.00.


Setelah itu dia hapus air mata istrinya, Rafa tak sanggup melihat istrinya harus menahan beban berat seperti ini. Reina nampak berkaca kaca melihat sisi rapuh Mentari saat ini. "Tari, kamu harus kuat demi Tante Felisia dan putera kecilmu Dirga. Hadapi semua masalah yang ada dengan lapang dada." tukasnya.


Mentari tersenyum tulus dihadapan sahabatnya itu. "Terimakasih Reina, kamu memang sahabat terbaikku. " Dia beralih menatap baby Dirga yang kini terlelap dalam gendongannya.


"Mbak Renita. " panggil Mentari pada babysitter puteranya.


Tak lama seorang wanita datang menghampiri dirinya. Mentari menyerahkan baby Dirga pada Renita dan Renita dengan sigap menggendong babynya dengan pelan pelan. "Oh ya Mbak katanya mbak juga punya bayi perempuan, dimana puteri mbak Renita. " ucap Mentari penasaran.


"Dia bersama neneknya Nyonya, kalau begitu saya bawa baby Dirga ke kamarnya. " pamit Renita.


"Iya. " Renita berlalu pergi dari sana, Mentari beralih menatap sahabatnya sambil tersenyum.


"Reina kamu juga istirahatlah di kamar dan bawa baby Divya juga, kalian 'kan menginap di sini. " Reina mengangguk membawa baby Divya dan suaminya Davin menuju ke kamar tamu.


Setelah sepeninggal keluarga kecil Reina, Mentari memyandarkan dirinya di sofa. Dia berulang kali membuang nafas berat, mengingat masalah yang menimpanya akhir akhir ini membuat kepalanya terasa pusing.


"Sayang, sini aku pijit kepala kamu. " tawar Rafa sambil menepuk nepuk pahanya.


Mentari mengangguk, diapun berbaring dengan kepala dipaha suaminya. Dengan lembut Rafa memijit kepala istrinya, Tari nampak sangat menikmatinya. Satu jam kemudian Rafa berhenti memijatnya, melihat istrinya tertidur pulas segera membawanya ke pangkuannya.


Cup Rafa mencium kepala istrinya dengan lembut. Setelah itu bangkit, menggendong sang istri menuju ke kamar mereka. Sampai di kamar, Rafa merebahkan istrinya di atas kasur lalu menatapnya lekat sambil mengusap pipi Tari dengan lembut.


"Kamu pasti lelah, setelah melewati hari yang berat selama beberapa hari ini. "


Tbc

__ADS_1


__ADS_2