
Tepat pukul 01.00 siang Bianca kini berada dalam kamarnya, dia mengenggam pil kontrasepsi yang ada di tangannya saat ini. Tangannya tampan bergetar, dia sangat ragu dengan keputusan sepihaknya saat ini.
Brak Bianca terkejut hingga menjatuhkan pilnya, Rezvan datang dan melirik ke bawah sekilas. Dia kembali memandang sang istri dengan tatapan datar dan kecewanya, Rezvan berbalik dan melangkah keluar tanpa berkata apapun
Blam Rezvan menutup pintunya dengan kasar. Bianca langsung ke luar dari kamar dan menuruni tangga, dia langsung berlari ke luar dari mansion dan terlambat mobil Rezvan melesat pergi.
Hiks hiks hiks
"Apa yang harus aku lakukan sekarang! Mas Rezvan pasti sangat kecewa, tapi saat ini situasinya belum tepat, " gumamnya sambil sesegukan.
Bianca mengambil ponselnya dan menghubungi bunda Renita, setelah itu dia memilih duduk di sofa ruang tamu.
Tak lama Bunda dan Ibu datang dan bergegas menghampirinya. "Nak ada apa kenapa kamu nyuruh Bunda ke sini sayang? "
Bianca langsung memeluk Ibunya, Ibu dan Bunda saling menatap satu sama lain, keduanya terlihat bingung. Setelah puas menangis, Bianca melepaskan pelukannya dan mengatakan semuanya pada kedua ibunya itu.
"Wanita gila itu memang perlu di beri pelajaran, tapi sayang soal menunda kehamilan tidak seharusnya kamu pendam sendiri dan diam diam membeli obat pencegah itu nak. " tegur Bunda.
"Tapi Bu, Rio masih kecil dan sebaiknya aku tak hamil dulu soalnya waktunya belum tepat tapi sepertinya mas Rezvan enggak mau ngerti, kini malah marah sama aku. " ucap Bianca dengan nada kecewa.
Ibu hanya bisa menghela nafas panjang, menantu dan puterinya sama sama keras kepala. Bunda mengusap kepala Bianca dengan lembut, setelah itu memegang kedua tangannya. "Turunkan egomu sayang, kamu bisa bicarain ini baik baik dengan suami kamu Rezvan. "
"Tadi pagi aku sudah bicara tapi dia tak mau dibantah keputusannya yang ingin aku segera hamil secepatnya. "
"Sudahlah Bunda jangan bahas mas Rezvan dulu, aku kangen Rio bisakah Bunda minta Papah antar Rio ke sini. " pinta Bianca. Bunda mengangguk, dia menghubungi papah Felix dan menyuruhnya ke sini setelah selesai menyimpan kembali dalam tas.
Beberapa saat kemudian
Papah Felix datang bersama Rio, Rio berlari menghampiri Bianca. Bianca langsung memeluk putera tirinya itu dengan erat sesekali mencium kedua pipinya. "Kita ke luar yuk sayang, duduk di gazebo, "
__ADS_1
"Lalu di mana Daddy, mommy? "
"Daddymu lagi ke luar sayang. " Bianca menggendong Rio, lalu membawanya pergi dari ruang tamu. Papah Felix menatap Bunda sambil menaikkan sebelah alisnya, bundapun menjelaskan masalah Bianca dan Rezvan.
"Bunda, urusan rumah tangga biar Bianca dan suaminya yang nyelesain, soal Sabrina papah sudah menyuruh orang untuk mengawasinya. " ujar Papah dengan bijak.
"Iya Pah, papah benar!
***
Di Gazebo
Bianca berkali kali membuang nafas kasar, sesekali memperhatikan puteranya yang bermain di sebelahnya. Permintaan Sabrina masih terus terngiang ngiang di kepalanya, kini Bianca tengah mengalami dilema yang besar.
"Seandainya ada kak Lila, aku pasti sudah mengatakan semua masalahku padanya. " gumam Bianca mendesah kecewa.
Tin tin terdengar suara mobil, namun Bianca tak beranjak dari tempatnya sepertinya Rezvan telah kembali pikirnya. Diapun kembali memperhatikan Rio hingga tanpa di sadarinya Rezvan berada di hadapannya sekarang!
"Kamu enggak berniat menjelaskan pil tadi Bianca? " ucap Rezvan dengan nada datar dan dinginnya.
"Enggak! Percuma aku jelaskan mas Rezvan tetap pada pendirian mas 'kan. " balas Bianca tanpa menoleh kearah sang suami. Rezvan mengusap wajahnya kasar, dia ingin sekali marah pada Bianca namun dia memilih menahannya.
"Bukankah sejak awal kita sudah sepakat Bi. " desak Rezvan.
"Cukup mas, aku tak mau berdebat lagi dengan mas apalagi di hadapan Rio. " tegas Bianca. Diapun bangkit dan berlalu pergi dari sana, menahan kekesalannya pada sang suami. Rezvan membuang nafas kasar, memangku putera kesayangannya itu.
Skip
Di kamar
__ADS_1
Bianca mengunci pintu kamarnya dari dalam, dia memilih duduk di balkon menenangkan dirinya di sana. Ingin sekali dirinya berteriak sekeras mungkin, dia dan Rezvan baru menikah tapi sudah bertengkar hebat seperti ini.
Tok tok tok
"Bi, buka pintunya kita perlu bicara!
Bianca menulikan telinganya, dia bukannya tak mau hamil hanya saja suasana tidak tepat saat ini, Sabrina masih berkeliaran di luar sana dan mungkin saja dia nekat mencelakai dirinya kalau seandainya dia hamil. Suaminya itu tak mengerti sama sekali hanya ego yang dia tinggikan tanpa memikirkan akibat atau bahayanya.
Merasa bosan dia masuk dan berbaring di atas ranjang, menoleh kearah jam dinding menunjukkan angka 02.00 siang. Merasa lelah, Bianca memejamkan matanya dan tak lama terlelap.
Dua jam kemudian
tepat pukul 05.00 sore Bianca langsung bangun, turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Selesai dengan kegiatan sorenya, diapun ke luar dari kamar dan tak sengaja berpapasan dengan Rezvan. Bianca hanya diam melewati suaminya, menuruni anak tangga.
Rezvan segera menyusulnya dan grep dia mencekal tangan sang istri. Dia segera menariknya menjauh dan Bianca menepis tangan suaminya itu. " Apa lagi sih Mas, Mas gak capek ngajak debat terus. " geram Bianca dengan nada datarnya.
"Untuk sementara aku tunda memiliki anak, karena Sabrina bisa saja berbuat nekat mengingat dia masih menginginkanmu Mas. Tapi sepertinya kamu memang egois ya mau mikirin diri sendri, ingat Rio anak kandung kamu yang perlu kamu perjuangkan di pengadilan nanti. " jelas Bianca.
Bianca berbalik dan melangkah pergi, Rezvan menatap punggung istrinya dengan tatapan nanarnya. Diapun ikut bergabung di ruang tamu, berkumpul bersama mertuanya. Bianca memilih mengajak main Rio, gelak tawa mereka rasakan. Rezvan kini tengah memperhatikan istrinya yang tertawa bersama putera kecilnya serta interaksi keduanya. Terlihat sangat jelas jika Bianca sangat sayang sama Rio meski Rio bukan anak yang dia lahirkan, hal itu membuat Rezvan sedikit tercubit hatinya.
"Maafkan aku sayang, kamu benar tidak seharusnya aku egois. Kamu benar benar sangat sayang sama Rio hingga mau berkorban apapun untuk putera kita ini. " batin Rezvan.
Rezvan sangat kecewa melihat istrinya tak menoleh kearahnya sepertinya Bianca benar benar marah dan kecewa padanya. Papah Felix yang sejak tadi memperhatikannya, segera menepuk pelan pundak Rezvan hingga membuatnya menoleh. "Kamu harus sabar menghadapi kekeras kepalaan Bianca, tapi apa yang diputuskannya ada benarnya nak. " ujar Papah Felix dengan bijak.
"Iya Pah, papah benar dan aku mengaku salah karena bersikap egois hingga membuat Bianca marah padaku. Dia bersikap acuh dan tak peduli lagi padaku Pah!
"Kalau begitu minta maaflah sama istrimu nak, akui kesalahanmu di depannya!
Rezvan mengangguk mengiyakan ucapan Papah Felix barusan.
__ADS_1
bersambung