
Rafael membawa Zivana ke apartemennya, dia mengambil segelas air lalu menyodorkannya pada Zivana. Zivana langsung meneguk nya hingga tandas, lalu menaruh gelasnya di meja. Dia bernafas lega, setidaknya dia menjauh sementara dari tuan muda menyebalkan itu pikirnya.
Rafael memperhatikan sahabatnya itu dengan raut tanda tanya, terlihat jelas ingin menanyakan sesuatu. "Zi, ada hubungan apa kamu dengan tuan muda Ray terus urusan apa!
"Beberapa hari lalu aku menolong seorang pria yang habis kecelakaan, membawanya ke rumah sakit dan pria itu tuan muda. Tuan muda membalas kebaikanku dengan cara, ingin menjadikanku permaisurinya, gila 'kan! Zivana langsung memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Rafael manggut manggut, dia mengerti dengan penjelasan Zivana. " Lalu apa keluargamu tahu mengenai hal ini Zi!
"Enggak Rafael, aku enggak mau mereka ikut terseret masalahku dan jangan sampai tuan muda menyebalkan itu menggunakan orang tuaku, untuk memaksaku. "
Tiba tiba masuklah Vania, kekasih Daniel. Vania selama ini memang tak pernah suka akan kedekatan sang kekasih dengan Zivana hal itu di sadari Zivana sendiri. Vania langsung mendekati Daniel, lalu menyentuh lengannya. "Sayang, ayo katanya mau cari cincin pernikahan kita. " desak Vania.
"Tapi Vania.. "
"Sudahlah kalian pergi saja, lagian aku akan pulang ke rumah ayah dan ibuku kok! Daniel mengangguk, lalu mereka bertiga ke luar dari apartemen. Mobil Daniel melesat lebih dulu meninggalkan Zivana. Zivana kini tengah menunggu taksi yang dia pesan.
Tin tin tin
suara klakson membuatnya menoleh, dia memasang wajah datar seketika setelah melihat Chris turun dari mobilnya. Chris berjalan dengan langkah lebar menghampiri Zivana dan berdiri didepan gadis itu.
"Saya berhasil menemukan kamu!
Zivana merasa kesal dengan pria di hadapannya, diapun memilih mengabaikannya dan masuk ke dalam taksi. Chrispun langsung menyunggingkan senyumnya, sepertinya calon istrinya ini benar benar sangat sulit untuk di taklukkan.
Chris kembali ke mobilnya, melajukannya dengan kencang dan ya dia sengaja mengirim orang untuk mengikuti Zivana kemanapun.
***
" Sayang kenapa kamu bersikap seperti tadi di depan Zivana!
Vaniapun memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan dari calon suaminya ini. Diapun hanya diam dan fokus pada makannya, Rafael menghela nafas panjang melihat sikap kekasihnya ini. "Aku hanya enggak suka kamu dekat dengan sahabatmu itu, ingat Raf sebentar lagi kita menikah so jangan urusi Zivana terus. " pungkas Vania dengan nada kesalnya.
__ADS_1
"Tapi Zivana dia.. "
"Cukup Rafael, berhenti membelanya terus terusan di depanku, aku muak mendengarnya. " bentak Vania dengan nada tinggi.
Cemburu dan kesal tentu saja, Vania sangat tidak suka jika Rafael selalu perhatian pada Zivana itu. Diapun bangkit dan pergi meninggalkan kekasihnya itu, Rafael menatap kepergian Vania sambil menghela nafas kasar.
##
Sementara Zivana hanya bisa tersenyum paksa, menatap pria tampan di depannya yang sungguh menyebalkan di matanya. Chrispun mengukung tubuh Zivana, lalu tangannya menyelipkan anak rambut gadisnya itu. "Tuan muda sungguh sungguh pengangguran ya, kenapa kamu selalu mengikutiku. " ujar Zivana kesal.
"Karena kamu calon istriku honey, takutnya kamu kabur bersama pria lain. " ujarnya setengah bercanda.
"Tapi Chris, apa tidak apa apa aku tinggal di mansion ini. "
"Iya, Mansion ini aku beli khusus untukmu. " Chris terkekeh melihat reaksi berlebihan dari gadis nakalnya. Dia menaruh ibu jarinya di depan bibir Zivana kemudian menggeleng.
"Pokoknya kamu tinggal di sini, selain itu kamu bebas melakukan apapun asalkan tak bersama pria lain. " tegasnya. Zivana menghela nafas kasar, pria ini tetap saja selamanya menyebalkan pikirnya.
Drt drt drt
"Ya Ares, ada apa kenapa kamu menghubungi aku? "
"Tuan siang ini di kantor, tuan Reymond berbuat ulah. " balas Ares.
Chris mengeraskan rahangnya, sepertinya pria tua itu benar benar mencari masalah dengannya. Setelah selesai Chris menyimpan ponselnya dalam saku, lalu kembali memandang lekat kearah Zivana. Zivana terkejut melihatnya, dia baru lihat Chris saat marah begitu menakutkan pikirnya.
"Kamu tetap di sini, jika perlu sesuatu mintalah sama pelayan, ingat kamu calon istriku. " ujar Chris serius. Chris berbalik dan melangkah melewati Zivana dan ke luar dari mansion. Zivana menaikkan sebelah alisnya, melihat kepergian Chris yang sepertinya terburu buru.
"Huft sudahlah, lagian bukan urusanku jika dia punya masalah. " Zivana tiba tiba rindu dengan orang tuanya, namun yang pasti saat ini dia tak ingin melibatkan ayah dan ibunya serta keluarga besarnya. Sementara Chris dalam perjalanan menuju ke perusahaan Dimitry Grup.
Setibanya di sana Chris langsung turun dari mobil, bergegas menuju ke ruangan meeting diikut Ares dari belakang. Keduanya masuk ke dalam, semua orang begitu terkejut melihat kedatangannya begitu juga dengan paman Reymond dan Ammar.
__ADS_1
Prok
Prok
prok
Chris bertepuk tangan sambil tersenyum miring pada anggota dewan direksi serta paman dan sepupunya itu. "Saya sangat salut pada keberanian kalian, mengadakan pertemuan diam diam tanpa sepengetahuan saya, pewaris sah perusahaan Dimitri. "
Semua orang terdiam mendengar penuturan dari Chris, Chris beralih memandang sang paman dengan raut dinginnya. "Paman Reymond, apa perlu saya ingatkan status paman di sini, lancang sekali paman mengambil alih tugasku!
" Heh Chris, kamu sangat lambat dalam menentukan tindakan, makanya paman mengadakan pertemuan ini. " desisnya dengan sinis.
"Oh begitu rupanya, kalau begitu bisa saja saya mengakuisi perusahaan kalian semua, serta menarik saham saya dari sana dengan mudahnya, menurut kalian bagaimana!
Wajah semua orang langsung pucat dan panik seketika, Ammar diam diam mengepalkan tangan karena sepupunya berada di atas angin sekarang ini. Para dewan direksi langsung berdiskusi setelah itu kembali memandang kearah Christian dengan raut menyesal.
" Maafkan kami Tuan Muda, kami mengaku salah karena berani berbuat lancang, mengadakan pertemuan tanpa anda karena ini semua ide tuan Reymond. " ujar salah satu dari mereka.
Chris menyeringai kearah pamannya, Paman Reymond merasa tersudutkan saat ini dan memilih diam. Dalam hatinya pria tua itu mengumpati Christian.
"Bubarkan pertemuan kali ini, jangan mengadakan pertemuan penting jika saya tidak hadir dan malah orang lain yang mewakili! Paman berdecak kesal mendengar sendirian Chris padanya. Chrispun berbalik dan ke luar dari sana di susul Ares sang asisten.
Paman Reymond dan Ammar segera menyusul kepergian Christian. Mereka berdua langsung menghadang Chris dengan raut penuh amarah.
" Kenapa kalian menghadang saya, apa kalian ingin memuji kehebatan saya tadi!
Ammar berdecih mendengar ucapan Christian, dia menatap tajam kearah sepupunya dengan tatapan penuh permusuhan. Dia hendak maju dan menghajar Christian namun Ares menghalanginya dengan wajah datarnya.
"Tuan Ammar, jaga sikap Anda atau Terima akibatnya!
" Tunggu waktunya Chris, akan kupastikan hidupmu hancur dalam genggaman tanganku. " seru Ammar berjalan melewati Chris dan Ares di susul paman. Setelah kepergian keduanya, Ares memandang heran kearah tuan yang hanya diam dan tersenyum.
__ADS_1
"Sepertinya tuan Ammar semakin membenci Anda tuan muda, saya yakin dia akan mencari cara untuk menghancurkan Anda!
"Abaikan saja ucapan Ammar sebaiknya kita pulang. " Chris melenggang pergi, Ares hanya menggeleng dan menyusulnya ke mobil.