Istri Nakal Sang Billionaire

Istri Nakal Sang Billionaire
Epson 31 - Belum dimaafkan


__ADS_3

Mentari melepaskan dekapan suaminya. Dia tidak boleh goyah atas keputusannya, Tari segera menghapus air matanya dan menghembuskan nafas kasar. Lalu mengambil tas dan menyeret kopernya tanpa berkata apapun pada Rafandra.


Rafandra langsung panik. Dia berusaha mencegah kepergian istrinya, Rafa langsung merebut koper istrinya itu, "Mas kamu apa apaan sih balikin koperku. " geram Mentari.


Rafandra menggeleng.Menjauhkan kopernya dari jangkauan sang istri, sontak hal itu membuat Mentari berdecak kesal.


Dia berusaha menahan emosinya agar tidak berdampak pada janinnya, Mentari menatap Rafa sambil berkata. "Biarkan aku pergi menenangkan diri dulu Mas Rafa, kamu jangan egois seperti tidak punya salah. " desis Mentari.


"Maafin Mas sayang, jangan pergi kumohon. Rafandra menekuk kakinya, tunduk dihadapan wanita tercintanya. Mentari memalingkan wajahnya berusaha agar tidak luluh. Dengan paksa merebut kopernya lalu menyeretnya ke luar.


"Mentari. " teriak Rafa memanggil manggil istrinya, Mentari mengabaikan teriakam suaminya tersebut. Rafa kembali berdiri, berlari menyusul istrinya ke luar dari mansion mereka.


Hosh hosh hosh Rafa terengah engah menyusul istrinya. Dia semakin kalut melihat Mentari memasukkan kopernya dalam taksi. Rafandra segera menarik tangannya agar tidak masuk ke dalam taksi.Mentari menoleh dan kembali menepisnya kasar, " Jangan hentikan aku pergi Mas atau kita akan bercerai dan kupastikan suratnya akan sampai ditanganmu besok lusa. " ancamnya.


"Jangan sayang. Aku tahu aku salah, tapi bisakah kita bicarakan ini dengan kepala dingin. " Rafandra mencoba membujuk istrinya agar batal pergi.


"Mas mohon jangan pergi. Mentari mencoba memberontak, berusaha melepaskan genggaman tangan Rafa.


"Auw. Mentari memegangi perutnya, Rafa langsung panik mengeluarkan koper istrinya, membiarkan taksi pergi. Setelah itu membopong istrinya ke dalam sambil membawa kopernya.


Dia membawanya ke ruang tamu, Rafa segera mengusap perut rata sang istri. Mentari menetralkan emosinya supaya perutnya tidak kembali kram. Dia memilih diam membiarkan Rafa mendekapnya dari belakang.

__ADS_1


"Maafkan aku Yank. Rafa benar benar diselimuti rasa bersalah, mencaci maki istrinya tanpa mau mendengarkan penjelasan Mentari. Istri mana yang tidak sakit hati akan ucapan suaminya yang masih membekas di hatinya.


Mentari mendorong tubuh suaminya, menatap datar kearah Rafa sambil berkata, " Bosen tahu dengar kamu minta maaf terus. " geram Mentari dengan nada sinis. Rafa tertegun mendengar nada bicara sinis istrinya untuk pertama kali, dia tahu ini semua karena kebodohannya.


Dia turun dari atas pangkuan Rafa. Segera mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. "Dam, ini aku Tari aku butuh bantuanmu, kamu suruh orang tuk awasi gadis bernama Sandra dan Melodi. "


"Okey Tar, jangan lupa kirim fotonya ya. " Mentari memutus sambungannya, segera mengirim foto Sandra dan Melodi pada Damar.


Rafa tidak mengerti. Diapun mendekati istrinya, meminta penjelasan. Mentari menoleh kembali memasang wajah datarnya."Jauh jauh dariku, jangan dekat dekat. " desis Mentari.


"Yank, kenapa kamu minta bantuan Damar. " nada suara Rafa terlihat cemburu melihat istrinya meminta bantuan Damar sahabatnya daripada dirinya.Mentari menghembuskan nafas kasar, melirik suaminya kembali. "Karena aku tidak percaya padamu sama halnya kamu. " sindir Mentari.


Mentari berlalu pergi setelah mengambil kopernya. Rafa merasakan sesak melihat istrinya tidak mempercayainya.Mungkin ini yang dirasakan Mentari tadi, saat dia menuduhnya yang tidak tidak ditambah cacian dan makian darinya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, menghempaskan dirinya diatas sofa.


Rasanya Rafandra ingin sekali berteriak, melampiaskan rasa penyesalan yang kini membelenggu hatinya. Dia tidak mau kehilangan Mentari apalagi sampai bercerai dari wanitanya, ibu dari calon anak anaknya itu.


Hah, Rafa berulang kali menghembuskan nafas kasar. kepalanya terasa pusing memikirkan masalahnya dengan Mentari. Dia mengambil ponselnya, menghubungi Liam untuk mencari tahu siapa yang mengirim foto itu.


Di Kamar


Pemandangan dari balik balkon membuat suasana hatinya membaik, namun rasa kecewa dan sakit hati pada suaminya masih ada hingga saat ini. Terlebih cacian dan makian Rafa padanya kembali menyesakkan dadanya.

__ADS_1


Ingin rasanya dia mengatakan keluh kesahnya pada sang mommy, namun Mentari tidak ingin orang tuanya ikut campur dalam masalah rumah tangganya, "Kamu bisa nyelesaiin masalah ini Tari, lihat saja jika benar Sandra dan Melodi, terbukti merekalah dalangnya. Aku sendiri yang akan memberi pelajaran berharga bagi keduanya. " gumam Mentari tersenyum licik.


"Untuk sementara lebih baik aku tidur di kamar ini. Luka dihatiku belum sembuh, melihat Rafa teringat ucapannya dan aku tidak ingin kembali sakit hati lagi.


💕💕


Merasa lapar, Mentari ke luar kamar. Menuruni anak tangga dan pergi ke dapur. Di sana, segera saja membuat spagetti dan segelas jus. Setelah selesai Mentari membawanya ke meja makan dan menyantapnya di sana. Dari kejauhan Rafandra memperhatikan apa yang dilakukan istrinya, ingin sekali dia rengkuh dan ciumi tubuh Mentari namun itu hanya akan membuat mereka kembali bertengkar.


Selesai makan, Mentari melirik jam tangannya. pukul 01.00 siang. Sebenarnya Dia tahu kalau suaminya tengah memperhatikan dirinya namun Mentari memilih cuek dan tak peduli, "Aku hanya tidak ingin berbicara sesuatu yang kasar yang menyakiti hatinya, lebih baik aku tidak peduli pada Mas Rafa. "


Mentari bangkit. Dia pergi ke ruang tamu, di sana berbaring malas malasan di sofa sambil menonton tv kabel. Gadis bermata cokelat itu memindah mindah chanel televisi dengan cepat, mencari acara yang bagus asalkan bukan kasus pembunuhan.


Mentari melihatnya, acara tv yang membahas seorang aktor tampan. Diapun semangat memperhatikannya dengan modus cuci mata hehe, setidaknya bisa melihat pria tampan yang membuat mood cerah, " serunya dengan keras. Mentari sengaja melakukannya supaya suami kurang ajarnya itu terbakar api cemburu kayak cacing kepanasan.


"Akan kubalas kau Mas, rasakan akibatnya karena kamu mencaci makiku. " Mentari dengan segala pikiran absurdnya membalas perbuatan suaminya,meski ada rasa kecewa dan marah namun tak dipingkiri dia merindukan Rafandra.


Rafa merasa kepanasan mendengar pekikan istrinya, segera saja dia hampiri dan duduk disebelahnya. Hendak merebut remotenya, Mentari dengan gesit mengambilnya lalu melirik tajam Rafandra sambil berkata, "Mau apa kamu Mas, jangan ganggu aku. "


"Apa sih yang kamu lihat. Lebih tampan juga aku daripada pria ditv juga mantanmu. " Rafandra mengucapkannya dengan penuh percaya diri. Mentari mendengus keras mendengar pernyataan suaminya, "Oh ya Tampan, kenapa tidak kamu gunakan untuk menggoda wanita lain, setelah itu aku akan mencaci makimu karena aku menuduhmu selingkuh. " ujar Mentari dengan santai.


Rafandra merasa hatinya tertohok mendengar penuturan istrinya. Dia mengepalkan tangannya menahan segala penyesalan dalam hatinya, Mentari memilih acuh dan melanjutkan menonton tv.

__ADS_1


Setelah itu keheningan melanda keduanya, hanya suara televisi yang menemani mereka berdua siang itu.


TBC


__ADS_2