
Othor Cepetin Biar Kalian Gak Bosan
Jangan Lupa Vote Dan Komen, Jangan Jadi Silent Reader!!
**
Dua bulan kemudian
Pagi itu Bianca tersenyum lebar melihat texpack dalam genggamannya. Dia kembali hamil setelah beberapa waktu lalu dirinya keguguran, Bianca segera ke luar dari kamar dan mendekati sang suami, menyerahkan texpacknya.
"Coba lihat deh mas! Rezvan menatapnya, senyum terbit di bibirnya lalu bangkit dan memeluk tubuh sang istri.
Rezvan melepaskan pelukannya namun sebelah tangannya memeluk pinggang sang istri, menatap lekat wanitanya dengan lembut. "Akhirnya kamu hamil sayang, calon adiknya Rio dan aku sangat sangat bahagia!
Bianca tersenyum manis mendengarnya, mengusap lembut dada sang suami lalu mencium bibirnya sekilas. Rezvan langsung mengendong tubuh istrinya, lalu membawanya ke atas ranjang. Kini Bianca duduk di atas paha suaminya, dia tertawa kala suaminya berkali kali menciumi dirinya.
"Mas Rezvan jangan ke mana mana ya, aku enggak mau jauh dari mas! ujarnya dengan nada manja.
"Iya sayang mas janji akan temani kamu! Senyuman Bianca kian melebar, dia bersandar di dada bidang suaminya. Rezvan menyibak rambut istrinya, memberi kecupan di leher sang istri dengan lembut. Bianca merasa geli sebenarnya, namun memilih membiarkannya karena dia tahu suaminya tengah bahagia atas kabar kehamilan dirinya.
Mereka segera turun dari atas kasur, bangkit dan ke luar dari kamar. Keduanya menuruni anak tangga dan bergegas pergi ke meja makan. " Selamat pagi semuanya!
"Pagi juga sayang. "
Rezvan dan Bianca menarik kursi masing masing lalu duduk setelah itu menatap kearah keluarga mereka dengan senyuman di bibir.
"Ayah, Ibu dan semuanya aku tengah hamil lagi sekarang. "
Semua orang sangat bahagia mendengar kabar kehamilan dari Bianca. Lila yang ada di sampingnya langsung memegang tangan adiknya itu. "Selamat ya Bi atas kehamilan kamu, kamu harus jaga kesehatan dan calon baby kamu. " ujar Lila.
"Iya kak, kak Lila juga ya. " balas Bianca sambil menyentuh perut Lila yang membuncit diusianya ke lima bulan. Lila mengangguk, dia ikut mengusap perutnya kemudian sarapan bersama sama.
__ADS_1
Selesai sarapan Rezvan dan Bianca berpamitan pulang begitu juga dengan Ayah dan Ibu. Sementara Bunda dan lainnya mengobrol di ruang tamu, membiarkan pelayan mengerjakan tugasnya.
***
"Bun, ikut papah yuk!
" Emang mau ke mana sih Pah? " Bunda nampak mengerutkan dahi menatap kearah suaminya. Papah mengerlingkan matanya, bangkit dan membopong tubuh bunda pergi.
"Dasar papah, masih saja mesum padahalkan sudah tua. " gerutu Lila, dia sangat hafal kelakuan papahnya itu. Dirga menanggapinya dengan kekehan, tangannya mulai mengusap perut buncit sang istri. Selama ini Dirga menutup akses agar Sabrina tak menganggu kehidupan rumah tangga mereka.
"Aku sangat senang melihat Bianca kembali hamil setelah kejadian kemarin, sebagai kakaknya aku enggak bisa berbuat apa apa untuknya Mas! Kini Lila memanggil Dirga dengan sebutan mas, supaya lebih romantis katanya.
" Sst jangan berkata seperti itu jika Bianca mendengar ucapan kamu dia pasti akan marah begitu juga Zivana dan Kenzo. " balas Dirga dengan nada lembutnya.
Dirga beralih menciumi perut istrinya dengan lembut syarat penuh kasih sayang di dalamnya, selama ini dia sangat posesif pada sang istri, terkadang hal itu membuat Lila kesal dan merajuk padanya. Hati Lila menghangat, kala suaminya mengecup perut buncitnya dan mendapat respon dari calon buah hati mereka berdua. "Little Boy sangat tahu kalau yang menciumi dia adalah papahnya, "
"Enggak sayang, semuanya sudah aku limpahkan pada asistenku! Lila hanya manggut manggut, menyandarkan dirinya di sofa.
**
Di sisi lain Sabrina datang berkunjung ke kediaman Rezvan dan Bianca. Raut wajah Rezvan nampak mengeras melihat kehadiran Sabrina dan orang tuanya. "Untuk apa kamu ke sini lagi, belum puas kamu kemarin kemarin mendorong istriku hingga dia keguguran. " geram Rezvan berusaha menahan amarahnya.
"Maafkan aku Rezvan, Bianca atas kesalahanku kemarin. Aku kesini ingin meminta maaf dan juga menjenguk Rio, aku merindukan puteraku! Sabrina menoleh dan menatap lekat bocah kecil yang kini tengah di pangku sang kakek.
Bianca berusaha menenangkan sang suami, lalu mengenggam tangannya. " Mas izinin ya Sabrina bertemu Rio, please dan maafkan kesalahannya kemarin!
Rezvan berdecak menatap istrinya kemudian mengusap lembut pipi Bianca. "Kenapa kamu mudah sekali memaafkannya sayang, setelah apa yang dialami oleh kamu karena perbuatannya. "
"Menyimpan dendam enggak baik Mas, lebih baik kita maafin dia agar kejadian buruk tak terjadi sama kita. " Rezvan menghela nafas panjang, lalu mengangguk kecil. Rio turun dari pangkuan sang kakek dan pergi menemui Bianca. Terlihat jelas sekali jika Rio takut sama Sabrina, ibu kandungnya. Sabrina nampak berkaca kaca melihat puteranya ketakutan melihat dirinya.
__ADS_1
Bianca segera mengusap kepala puteranya dengan lembut kemudian mengenggam tangan mungil bocah tampan itu. "Sayang jangan takut, dia mama Vita, ibu kamu juga dan dia bukan orang lain sayang. "
"Rio mau 'kan dekat dan memeluk mama Vita, mama Vita kangen banget sama Rio. " Bianca dengan sabar menasehati putera tirinya itu dengan nada lembutnya.
Riopun akhinya mengangguk, dia berbalik dan berlari kearah Sabrina. Sabrina langsung memeluknya, menangis di hadapan keluarga Sabrina dan orang tuanya, Dia sangat senang bisa memeluk tubuh kecil putera kandungnya itu. Bianca bernafas lega, dia sangat senang melihat Rio yang mau memeluk Sabrina.
Rio melepaskan pelukannya, menghapus air mata Sabrina. Semua orang terharu melihat betapa manisnya Rio. "Mama Vita jangan nangis, Lio tak suka melihat mama menangis sama sepelti Mommy. "
Sabrina tersenyum kecil mendengar ucapan puteranya. Dia mengacak acak rambut Rio kemudian mengecup kening Rio dengan lembut kemudian duduk di sofa. Dia kembali menatap kearah Bianca sambil tersenyum. "Bianca, aku datang ke sini ingin berpamitan sama kalian, terimakasih karena kamu mau memaafkan aku!
" Aku bukan ibu yang baik bagi Rio, tolong sayang dan besarkan dia sampai dia dewasa karena aku tak bisa membesarkannya!
Bianca mengerutkan keningnya mendengar ucapan Sabrina yang terdengar ganjal di telinganya.
"Maksud kamu apa Sabrina!
" Enggak papa kok, ya sudah aku pamit pergi. " Sabrina bangkit dan pergi begitu saja setelah pamit pada Rio di susul kedua orang tuanya. Bianca menatap kepergian Sabrina dengan raut penasaran dan terkejut. Rezvan segera memangku puteranya kemudian mengenggam tangan sang istri.
"Mas apa kamu tahu apa maksud dari
Sabrina? "
"Dia kemarin sudah pamit pada aku sayang, dia akan menanggung semua perbuatan jahatnya yang dia lakukan sama kita, selain itu berusaha merubah sikap angkuh dan tamaknya. " jelas Rezvan.
Bianca terdiam namun tangannya langsung mengusap kepala Rio, dia merasa senang sekaligus sedih mendengar keputusan Sabrina namun tak bisa berbuat apa apa.
"Aku janji akan menyayangi dan menjaga Rio dengan baik Sabrina. " batin Bianca.
End???
Mau ending sekarang apa nanti wkwk??? 🤣🤣
__ADS_1