Istri Nakal Sang Billionaire

Istri Nakal Sang Billionaire
Epson 51 - Merasa tersisih


__ADS_3

Othor ada kepentingan pribadi menyangkut masa depan makanya telat up


Jangan lupa gift dan votenya dikencengin brayyyyy


Mentari dan baby Dirga telah pulang ke mansion. Para orang tua saling berebut menggendong baby Dirga membuat Tari menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mertua dan daddynya itu.


Mommy Felisia merasa pusing melihat kelakuan kedua paruh baya tersebut. "Hentikan tingkah kekanakan kalian, apa kalian tidak kasihan pada cucu kita, pasti dia pusing. " geram Mommy Felisia dengan wajah jengkelnya.


Daddy James dan Daddy Brampun berhenti, mereka semua duduk di sofa dengan tenang. Tari mengambil alih puteranya ke dalam gendongannya. Disana juga Melodi turut hadir, mengingat itu perintah dari Daddy Bram jadi dia memilih menurut.


"Mommy, Daddy, keputusanku tetap sama, fokus pada suami dan putera kecilku ini. Untuk itu sebaiknya Daddy memberikan posisi direktur itu pada Melodi. " ucap Tari dengan lembut.


Melodi tertegun mendengar ucapan Mentari, dirinya tak percaya bahwa Tari menyerahkan jabatan itu padanya. Tari melirik kearah sang kakak sekilas setelah itu kembali menimang putera kecilnya. Sementara Daddy Bram kecewa dengan keputusan puteri bungsunya, meski begitu dia tetap menghargainya.


Sekarang hanya Mentari yang dibanggakan oleh Mommy dan Daddy pikirnya.


Kini suasana nampak canggung, Mentari menghembuskan nafas berat. Dia berharap Daddynya setuju dengan keputusan yang dipilihnya ini.


Daddy Bram mengulas senyumnya dihadapan puteri bungunya sambil berkata. "Baiklah nak Daddy setuju, biar Melodi yang akan menggantikan Daddy di kantor. "


Mentari merasa lega mendengarnya dan turut senang. " Terimakasih Daddy. " Sementara Melodi hanya diam tak berkomentar dengan keputusan dari Daddynya itu.


"Semuanya aku mau ke kamar menidurkan Dirga. " Mentaripun bangkit, berjalan meninggalkan keluarganya. Melodipun ikut berpamitan dan langsung menyusul adiknya ke lantai dua.


Tari menciumi puncak kepala puteranya kemudian menidurkannya dalam box bayi. Setelah itu berbalik, terkejut melihat kehadiran Melodi di depan kamarnya. Diapun langsung ke luar dan tak lupa menutup pintu kamarnya dengan pelan, takut membangunkan bayi kecilnya itu.


"Apa ada yang penting untuk dikatakan!


"Kamu menawarkan posisi direktur padaku, agar mommy dan daddy semakin bergantung padamu begitu. " cecar Melodi.

__ADS_1


Hah Tari merasa jengah, entah kenapa Melodi selalu berfikiran negatif padanya. Padahal apa yang dilakukannya itu demi kebaikan dirinya selain itu Tari memang tak berniat menjadi direktur.


"Ck apa otakmu selalu berfikiran buruk terhadapku. Selama ini aku diam, ternyata saudariku sendiri bekerjasama dengan Sandra berniat melenyapkan aku 'kan. " sindir Mentari dengan sinis.


Melodi tak berkutik. Tubuhnya gemetaran, takut kalau rahasianya akan dibongkar oleh Mentari. Sementara Mentari merasa sangat kecewa dengan kakaknya itu. Dia mengguncang tubuh Melodi dengan keras kemudian berkata. "Sebenarnya apa salahku padamu Mel, kenapa kamu selalu jahat padaku. " bentak Mentari dengan dipenuhi amarah.


Melodi mendorong tubuh Mentari kemudian tersenyum sinis kearahnya. "Salahmu banyak, semua orang hanya sayang dan peduli padamu serta kamu dicintai oleh suamimu sedang'kan aku tidak ada siapapun, hanya sendiri. " desis Melodi mengeluarkan uneg unegnya.


Mentari menghela nafas kasar, ternyata kakaknya itu iri padanya hingga melakukan cara kotor untuk menyingkirkannya. Dia berusaha sabar agar tidak menampar wajah kakaknya itu dan lagian putera kecilnya tengah tidur sekarang.


"Aku malas meladenimu, lebih baik kamu pulang saja sekarang. "


"Cih lihat saja aku akan membuat kebahagian kamu dalam sekejab menjadi tangisan dan duka. " bisik Melodi. Melodi langsung pergi begitu saja meninggalkan adiknya yang kini tengah terpaku akan kepergiannya.


Mentari mengepalkan tangannya, ternyata kakaknya itu masih belum saja jera. Tidak, dia dia tidak akan tinggal diam jika Melodi berani menyakiti putera kecilnya ataupun suaminya.


Tap tap tap Rafandra menghampiri istrinya dan tanpa ragu Tari berhambur memeluknya. Rafa nampak keheranan dengan sikap istrinya yang terlihat aneh. "Ada apa katakan saja, kenapa kamu terasa aneh setelah berbicara dengan Melodi. " cetus Rafa penasaran.


"Iya ayo. " Rafa mengajak istrinya ke dalam kamar. Dia bergegas menyiapkan air untuk istrinya mandi, setelah itu membiarkan Tari membersihkan diri di kamar mandi.


30 menit kemudian


Mentari selesai mandi dan berganti pakaian. Dia mengulum senyumnya, melihat suaminya tengah mengajak bicara putera mereka.


"Eh sayang kamu mencium bau tidak sedap enggak!


Mentaripun datang mendekat, setelah mengendus endus lalu dia tersenyum penuh arti kearah suaminya. "Kayaknya putera kita pup deh Mas, sebaiknya kamu ganti popoknya sekalian dimandiin. " pinta Mentari.


"Eh. "

__ADS_1


Rafandrapun akhirnya mengangguk, mengingat bagaimana perjuangan istrinya melahirkan putera mereka. Dia segera mengangkat baby Dirga kemudian menaruhnya di ranjang dan mulai membawanya ke kamar mandi di bantu Mentari.


Keduanya dengan telaten memandikan putera mereka setelah selesai memasangkan popoknya. Sedangkan Mentari memberikan minyak telon ditubuh puteranya dan terakhir memakaikannya pakaian.


"Sekarang baby Dirga sudah wangi Daddy. " Mentari meniru suara anak kecil, dia kemudian duduk di sebelah sang suami dengan baby Dirga ditengah tengah mereka berdua.


"Mulai hari ini sampai 40 hari kedepan si krucil harus puasa masuk sarangnya. "


Wajah Rafandra nampak lesu mendengarnya. Mentari tersenyum geli melihat sikap manyun suaminya itu. Dia usap pipi suaminya dengan lembut setelah itu mendaratkan kecupan di sana. Senyum kembali terbit dibibir Rafa, dia sangat menyayangi istri dan putera kecil mereka berdua.


"Ini sudah sore sayang, sebaiknya Daddy mandi sana. "


Rafapun turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Sementara Mentari kini kembali menggendong baby Dirga dengan hati hati. diapun bangkit dan membawa puteranya itu ke balkon. "Di kamar kamu merasa gerah ya sayang, kita disini dulu ya setelah itu turun ke bawah menemui kakek dan nenekmu. "


💔💔


di Mansion keluarga Hutama


Melodi kini tengah berdebat dengan kedua orang tuanya. Kebenciannya pada Mentari semakin memuncak kala kedua orang tuanya membanding bandingkan mereka. Diapun menghembuskan nafas kasar, berusaha tidak mengatakan hal hal jahat pada orang tuanya.


"Kenapa Daddy sekarang meragukan kemampuanku. Ayolah Dad, biarkan adikku itu mengurusi bayinya dan jangan selalu memujinya dihadapanku. " geram Melodi sambil menahan kekesalannya.


"Mommy dan Daddy selalu menomor duakan aku semenjak kalian bertemu kembali dengan Tari. "


Mommy Felisia langsung memijit kepalanya, Dia tidak menyangka puteri sulungnya akan berpikiran seperti itu. Mentari menjatuhkan dirinya di sofa kemudian melipat kedua tangannya di dada. Daddy Bram menghela nafas pelan, kembali menatap Melodi dengan tatapan lekat.


"Daddy dan Mommy tidak pernah pilih kasih sama kamu ataupun Tari nak. Maafkan kami jika kamu sampai berpikiran seperti itu, lebih baik kamu carilah pasangan daripada harus berpikiran buruk sama kami ataupun pada adikmu. " tegas Mommy Felisia.


Melodi bangkit dan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apa apa. Mommy Felisia hanya bisa menggeleng tak percaya melihat kelakuan puteri sulungnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2