
Hari berikutnya
Di bandara Alex dan Monica menjemput kepulangan Rafa dan Tari di bandara. Suasana menjadi haru kala Monica meminta maaf atas sikapnya dulu pada Mentari dan juga Rafa. Mentari tersenyum manis, melihat ketulusan dikedua manik Monica. " Sudahlah Monic, lupakan saja masa lalu lagian kami sudah bahagia begitu juga denganmu dan Alex 'kan. " godanya.
Dengan malu malu dia mengangguk kecil. Sementara para pria hanya tergelak keduanya masuk ke dalam mobil dan Alex melajukannya meninggalkan bandara. Di kursi belakang, Mentari mengulum senyumnya merasakan sentuhan tangan suaminya diatas perut buncitnya. "Kita langsung saja ke mansionku Lex. " seru Rafandra.
"Hn. " gumamnya singkat.
"Oh ya Mas bagaimana kalau kita adakan pesta penyambutan kepulangan kita berdua. Sekalian aku ingin mengundang kakak tercintaku itu dan juga Sandra. " tawar Mentari tersenyum misterius.
"Tapi berbahaya Yank, Sandra orangnya nekat lho. Rafa sangat khawatir dengan keselamatan istri dan calon anak mereka. Mentari mengusap rahang suaminya dengan lembut dan meyakinkannya. Pada akhirnya Rafandrapun mengangguk menyetujui saran yang diberikan istrinya tersebut.
"Tari, Memangnya kapan pestanya akan diadakan. " Monica nampak penasaran dengan rencana dari Mentari tersebut. Saat pesta ulang tahun Rafa, lebih tepatnya lima hari lagi.
Monica manggut manggut mengerti setelah itu dia mengobrol dengan Alex. Mentaripun menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, tak lama terdengar dengkuran halus. Rafandra tersenyum tipis, membawa Mentari dalam rengkuhannya. Dia memberikan posisi nyaman agar istrinya istirahat dengan tenang.
Satu jam berlalu akhirnya mereka sampai dikediaman Rafandra. Mentari terbangun dari tidurnya, lalu dibantu keluar oleh suaminya. Mereka semua bergegas masuk ke dalam.
"SURPRISE. " pekik Reina membuka pintu mansionnya. Semua keluarga dan para sahabat mereka berkumpul menyambut kepulangan Rafa dan Tari. Mentari segera berpelukan dengan sahabatnya yang juga tengah hamil itu setelah itu bergantian memeluk orang tua mereka.
"Sudah sudah sebaiknya kita semua ke dalam. " seru Mommy Claudia.
Mereka semuapun masuk ke dalam mansion. Mentari merasa terharu melihat kejutan yang diberikan oleh keluarganya. Dia merasa beruntung dikelilingi orang orang yang menyayangi dirinya. Rafandra merangkul istrinya, ikut merasakan apa yang kini dirasakan oleh istrinya saat ini.
Di ruang tamu para wanita duduk di sofa sedangkan para pria memilih duduk di tikar ruang tamu. Mentari mengusap perut buncit Reina dengan senyum mengembang dibibirnya.
"Sudah berapa bulan nih Reina. "
__ADS_1
Reina mengulum senyumnya, mengusap perut buncitnya yang kian hari membesar. "Udah masuk usia 5 bulan Tari. "
Mentari mengangguk. Kini dia terlihat serius membahas pesta yang ingin diadakannya. Rafandrapun bangkit, menghampiri istrinya kemudian membantunya berdiri. "Semuanya aku ajak Tari ke kamar, kami ingin istirahat. " ucap Rafa dengan senyum penuh artinya.
"Halah si Rafa paling ngajak Tari *** ***. " sahut Felix sambil meledek.
Seketika tawa semua orang pecah mendengar ucapan Felix. Rafa mengajak istrinya pergi dari sana menuju ke kamar mereka di lantai atas. Mommy Felisia menggeleng, mengerti dengan gairah menantunya itu. Davin kini memilih bergabung dengan Reina di sofa, sesekali mengusap perut buncit istrinya itu.
Reina menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Kini dia memperhatikan Felix yang tengah memilih bermain catur bersama Daddy James dan mertua Rafandra. Sedangkan para wanita paruh baya pergi ke dapur dan kini hanya tersisa dirinya dan Davin. "Honey, aku sudah tidak sabar menanti kelahiran calon anak kita. "
"Akupun sama Mas Davin. "
"Mas kayaknya aku mau bantu Tari, memberi pelajaran pada Sandra deh. " Reina menatap lekat wajah suaminya, menghembuskan nafas berat melihat reaksi suaminya.
"Tapi enggak pakai baku hantam ya kamu sedang hamil besar sayang. " Reina mengangguk, berhambur ke dalam pelukan suaminya dengan hati hati.
Di Kamar Rafa dan Tari
Rafa menyandarkan tubuhnya di ranjang dengan Tari bersandar di dadanya. Keduanya tak melakukan apapun, mengingat mereka kelelahan. Dia usap perut sang istri yang mulai menonjol dengan lembut. Keheningan kini merayap diantara mereka, Mentari menoleh keatas menatap lekat suaminya. "Kenapa Darling kok diam saja sejak kita masuk ke dalam kamar. " cecarnya.
Rafa menatap lekat wajah istrinya, kemudian mengecup bibirnya sekilas. "Aku hanya khawatir jika Sandra akan berusaha mencelakai kamu sayang dan calon anak kita sayang. "
"Sst sayang aku pasti akan baik baik saja. Sebaiknya kita istirahat dulu dan lupakan masalah Sandra sejenak. " Rafa terdiam melihat ketenangan dalam diri istrinya.
Setelah itu mereka memejamkan kedua mata mereka. Memgistirahatkan tubuh mereka yang cukup lelah karena perjalanan pulang dari honeymoon.
Kini waktu menunjukkan angka 03.00 sore. Mentari turun dari ranjang, pergi ke kamar mandi. Beberapa menit berlalu selesai dengan aktivitasnya, Tari buru buru memakai pakaiannnya dengan cepat.
__ADS_1
Drt drt Tari mengambil ponselnya dan sambungan terhubung.
"Halo Damar, apa yang tengah dilakukan Sandra sekarang! Mentari sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Sandra.
"Kini Sandra membawa seorang laki laki masuk ke dalam apartemennya. "
"Kamu awasi dia ya Mar dan ambil video tak senonoh Sandra dengan pria itu. " Setelah panggilan terputus, Mentari tersenyum sinis mendengar kabar Sandra. Dia tak menyangka wanita yang menjadi rivalnya itu hanyalah wanita murahan yang mengobral tubuhnya.
Kini Dia tersenyum licik, mendapat sebuah ide untuk mempermalukan Sandra dan memberi pelajaran berharga padanya. "Lets play the game dan sebentar lagi hidupmu akan sengsara Sandra. " gumam Mentari dengan senyum liciknya.
Yes. Mentari kegirangan mendapat kartu as untuk mengancam Sandra. Dia usap perutnya yang mulai terlihat dengan senyuman di wajahnya. "Doakan Mommy, supaya Mommy berhasil mendepak pelakor itu nak dari hidup kita. Kalau bisa depak dia dari muka bumi saja sekalian. " celetuknya sambil terkekeh mengajak berbicara bayi dalam kandungannya.
💕💕
Di Apartemen Sandra
Sandra nampak tengah bercumbu dengan pria kenalannya dan keduanya berada di sofa ruang tamu. Suara desahan dan erangan terus bersautan menambah gairah keduanya yang kian membara. Tanpa merasa curiga, di sudut ruangan apartemen terdapat cctv yang tersembunyi merekam kegiatan Sandra dan prianya.
"Emh Oo faster. " gumam Sandra diiringi desahan.
"Tentu saja sayang. " Randy mempercepat gerakannya, membuat Sandra terus menerus mendesah menyebut namanya. Keduanya nampak sangat menikmati penyatuan ini membuat Sandra ketagihan. Obsesinya yang tak bisa mendapat Rafandra, membuatnya melakukan hal gila dengan bercumbu bersama Randy.
Dua jam kemudian mereka mengakhiri kegiatan panas mereka. Sandra jatuh di tubuh polos Randy dan keduanya masih dalam keadaan menyatu. Randy mengusap peluh di dahi Sandra, nampak senyum kepuasan tersungging di bibirnya. Sekali lagi dia daratkan kecupan dibibir Sandra setelah itu menjauhkan wajahnya.
"Terimakasih sayang kamu membuatku puas. " Sandra mengangguk, memeluk erat tubuh Randy. Sementara Randy diam diam tersenyum penuh arti karena berhasil mencapai tujuannya.
"Akhirnya aku bisa menikmati tubuhmu Sandra dan tinggal satu lagi rencana yang aku susun untukmu. " Randy mengusap punggung polos Sandra, setelah itu membopongnya ke kamrlar Sandra lalu mengulang lagi kegiatan panas mereka berdua.
__ADS_1
TBC