Istri Nakal Sang Billionaire

Istri Nakal Sang Billionaire
Season 2 Part 2 - BUBU & CICI


__ADS_3

Othor mewek wkwkwk bisa bisanya ngetik sambil nangis 😭


NOTE :


oh ya ini othor lagi ngerangkai alur cerita si Mafia Kaisar dalam novel Tawanan Mafia Arogan tapi belum publish ya, kayaknya entar sad ending tapi masih kayaknya wkwk dan enaknya di gabung sama Mafia boss apa pisah???


Sepulang dari kantor, Dirga bersiul dengan wajah tengilnya melajukan mobilnya kencang menuju ke kantor gadis es kutub baratnya eh wkwk. Dia abaikan chat Sabrina yang mengajak dirinya ketemuan. Sampai di sana dia tersenyum lebar melihat Lila yang ke luar dari kantornya.


Dirga bergegas turun dari mobil, mempercepat langkahnya mendekati Lila. "Hai sayang, selamat sore. " sapa Dirga dengan senyuman manisnya.


"Heh kau lagi BUBu, buaya buntung. " ujar Lila dengan malas.


"Wah Bubu, itu panggilan kesayanganmu untukku, kalau begitu aku panggil kamu dengan panggilan Cici atau Cinta. " jelas Dirga.


Lilapun merasa jengah dengan kelakuan Dirga, diapun masuk ke dalam mobilnya, melesat meninggalkan Dirga. Dirga tersenyum miring, segera melajukan mobilnya menyusul gadis kutub selatannya itu.


"Dasar kekanakan. " Lila melirik dari spionnya, mendengar suara klakson dari belakang, Diapun menambah kecepatan, hingga mobil Dirga tertinggal jauh.


Tak butuh waktu lama Lila akhirnya tiba di mansion keluarga Rahadian. Setelah dia memarkirkan mobilnya, Lila tak berniat untuk turun setelah tahu ada mobil milik ayah kandungnya dan dia benci mengakui itu.


Kenapa mereka harus datang lagi?


Lila menghembuskan nafas berat, kemudian membuka pintu lalu turun dan tak lupa menutupnya lagi. Dia berjalan pelan, menarik handle pintu kemudian masuk ke dalam. Dari kejauhan Lila mendengar suara yang sangat dibencinya sejak dia kecil. "Rasa rasanya aku jadi malas pulang. " batin Lila.


Tapi tapi tap langkah kakinya mendekat kearah ruang tamu, Ayah Ardhan tersenyum lebar melihat kepulangan puterinya itu. Lila mengambil posisi duduk di dekat Bunda dan papahnya, Dia memasang wajah datarnya di hadapan keluarga kecil ayah kandungnya.


"Hai kak Lila apa kabar. " sapa Bianca dengan senyuman di bibirnya.


"Seperti yang kamu lihat! sikap acuh dan tak acuh dari kakak kandungnya Lila sudah biasa Bianca terima. Ayah Ardhan hanya bisa menghela nafas pelan melihat sikap Puteri kandungnya yang masih sama saja, belum menerima dan memaafkan dirinya.


Lila mengalihkan perhatiannya kearah sang bunda yang ada di sebelahnya. " Oh ya Bunda, Ziva dan Kenzo ke mana sih mom. " cecar Lila penasaran.


"Kalau Ziva pergi ke rumah tante Mentari, sedangkan Kenzo sepertinya main sama teman temannya. "

__ADS_1


Lila beroh ria mendengar penjelasan sang bunda. Diapun bangkit, sebelum pergi dia berpamitan pada semua orang di sana. Lila menaiki tangga menuju ke kamarnya di lantai dua. Bianca merasa iri dengan Ziva dan Kenzo, mereka mendapat kasih sayang dan perhatian dari Lila sementara dirinya hanya mendapatkan sorot kebencian dan sikap dingin Lila.


"Kak, Bi juga ingin mendapat perhatian dari kak Lila apa itu salah. Bi tahu kalau kakak benci sama ayah tapi jangan benci juga sama Bi


kak. " batin Bianca dengan sedih.


Bunda Renita menghela nafas pelan melihat raut sedih di wajah Bianca. "Bianca sayang jangan sedih nak, Bunda akan bujuk kakakmu itu lagi oke. " ujar Bunda.


"Iya Bunda terimakasih! wajah Bianca kembali ceria di hadapan orang tua Lila, Ibu Citra pun mengusap kepala puterinya dengan lembut.


Tak lama kemudian Lila kembali turun ke bawah, Bunda menatap kearahnya. " Lila ke sini sayang, bunda mau bicara sama kamu. "


"Bunda saja yang kemari!


Bunda pun bangkit, dia melirik kearah Bianca untuk mengikutinya dan Bianca pun menurut. Lila berdecak kesal kala sang bunda mengajak serta Bianca. Bunda pun membawa kedua gadis itu ke taman samping mansion. " Lila sayang, Bunda enggak pernah ngajarin kamu buat benci orang lain apalagi ini adik kamu sendiri. " tegas Bunda.


"Bianca tidak salah sayang, harusnya sebagai kakak kamu juga menyayanginya sama seperti Ziva dan Kenzo. " jelas Bunda.


Lila terdiam, apa yang dikatakan Bunda nya memang benar. Meski dia dan Bianca satu ayah lain ibu, tetap saja Bianca itu adalah adik kandungnya. Lila langsung menatap kearah adiknya, kemudian merentangkan tangannya. Bianca tersenyum manis dan berhambur ke dalam pelukan sang kakak. "Maafin kakak ya Bi, sikap kakak sangat jahat sama kamu. " gumam Lila dengan lembut.


Bunda bernafas lega melihat Lila sayang pada Bianca adiknya. Lilapun melepaskan pelukan nya setelah itu mengacak acak rambut adiknya itu.


Tok tok tok


"Biar aku saja yang buka Bun, Bunda dan Bianca kembali saja ke ruang tamu. "


Bunda dan Bianca mengangguk, mereka berdua kembali ke ruang tamu. Lilapun berjalan lurus ke depan dan langsung membukakan pintu.


Setelah pintu di buka, Dirga dengan pakaian kasialnya berdiri di depan pintu. Lila hanya memasang wajah datarnya dihadapan si Bubu.


"Sore my CiCI. " sapa Dirga dengan senyum manisnya.


"Bisa tidak kamu bersikap normal!

__ADS_1


"Haduh my cici sayang, hidupmu terlalu kaku dan coba saja kamu terima aku, kamu pasti akan bahagia. " serunya dengan asal.


"Prettt, dasar buaya. " Lilapun berbalik masuk ke dalam di susul Dirga yang menutup pintunya dengan pelan. Menjahili Lila adalah jalan ninja si Dirga dalam meluluhkan hati si ice princess eaaa wkwk.


Di ruang tamu


Dirga tersenyum manis di hadapan semua orang, terlebih orang tua Lila. "Sore bunda dan papah mertua. " sapa Dirga dengan senyum jahilnya.


"Papah mertua palamu Dirga. " sahut Papah Felix jengkel pada putera Rafandra itu.


Dirga tertawa melihat raut kesal di wajah calon mertuanya itu. Lila hanya memasang wajah datarnya, melihat kelakuan si buaya buntung itu. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Lila, namun Lila membuang muka setelah itu kembali menatap papah Felix. "Pah eh Paman, bolehkan aku mengajak cici ke rumahku. " ujar Dirga.


"Cici siapa? "


"Maksudku Lilaku sayang. " ralat Dirga sambil nyengir. Papah Felix mendengus keras, mendengar panggilan Dirga pada puterinya. Entah setan apa yang merasuki putera dari sahabatnya itu ckckck.


"Lila panggil aku Bubu, aku panggil Lila dengan sebutan Cici alias Cinta. " jelas Dirga.


"Bubu, Buaya buntung Pah! sambung Lila singkat.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Lila, sementara Dirga berdecak kesal namun memilih tak ambil pusing. Bianca tersenyum penuh arti melihat perdebatan kakaknya dengan Dirga. " Kak Dirga, lawan yang cocok untuk kakakku yang keras itu. " batinnya sambil tertawa.


"Cepat sana pulang! usir Lila.


" Lila. " tegur Bunda dengan mata melotot, Lila hanya mendengus keras mendapat teguran dari bundanya gara gara si Bubu wkwk. Dirga pun duduk di sebelah Lila, kemudian merangkul bahu gadisnya itu. "Ila, bisakah aku bicara dengan kamu, hanya berdua di kamar. "


Papah Felix langsung melotot begitu juga dengan Lila, Dirga hanya nyengir kemudian berkata. "Bercanda aku, ayo Cici aku ingin bicara sama kamu. " Dirga menarik tangan Lila, mau tak mau Lila bangkit dan mengekori Dirga, berlalu dari ruang tamu menuju ke teras samping.


Sampai di sana Lila menghempaskan tangan Dirga, kemudian menatapnya datar. "Jangan cari kesempatan dalam kesempitan tuan Keanu Dirgantara Romanov. " ujar Lila penuh penekanan.


"Kenapa kamu berubah seperti sekarang Cici, aku kangen kamu yang dulu ceria, ramah dan malu malu. " ujar Dirga dengan wajah seriusnya.


"Bukankah kamu tahu apa alasanku Dirga, tanpa harus aku jelaskan!

__ADS_1


Dirga langsung terdiam, dia berulang kali membuang nafas berat, menatap lekat gadis di hadapannya.


tbc


__ADS_2