
Sementara Arjuna tak henti hentinya mengejar Bianca. Segala hal dia lakukan demi mendapatkan perhatian dari gadis pujaan hatinya itu. Daddy James terbahak melihat kelakuan putera bungsunya itu. "Pepet terus Jun jangan sampai ditikung orang. " seru Daddy sambil terkekeh.
Bianca memutar bola matanya malas melihat Juna yang merapatkan tubuhnya. Dia langsung memberikan tatapan mautnya namun Juna tak memperdulikannya. Tanpa malu Arjuna, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Bianca. "Arjuna lepaskan tanganmu dari pinggangku. " geram Bianca.
Cup Arjuna mencium bibir Bianca dihadapan kedua orang tuanya. Mommy Claudia melotot, melihat kelakuan Arjuna sedangkan Daddy hanya tersenyum puas dan bangga. "Kamu putera Daddy yang hebat nak. " ucapnya penuh bangga.
"Daddy James ih malah dukung anaknya. Lagian anak orang main dicium saja dasar anak sama bapaknya sama aja. " omel Mommy Claudia dengan raut jengkelnya.
Kedua pipi Bianca menyembulkan rona merah, menyembunyikan wajahnya didada bidang Juna. Junapun terkekeh sekaligus gemas dengan Bianca kemudian langsung memeluknya.
"Mom jangan ngomel mulu, entar Daddy ajak olahraga di ranjang oke. " rayunya dengan tatapan mesum. Mommy mendelik, melipat tangannya di dada menatap tajam pria paruh baya tersebut. Arjuna terbahak melihat kelakuan Daddynya yang super mesum dan tak tahu malu. Bianca menjauhkan dirinya, melirik Arjuna dengan tatapan serius. "Lalu apa yang akan kita lakukan pada Sandra, aku yakin dia tidak akan tinggal diam. " seru Bianca.
"Tenanglah Bianca. Bagaimana kalau kita beri dia obat pelumpuh ingatan. " celetuk Arjuna.
Bianca mendelik. Dia langsung meninju keras perut Juna hingga dia meringis kesakitan, lalu berkata. "Itu sangat beresiko Juna dasar bodoh. " maki Bianca dengan nada jengkelnya.
"Yank sakit. " rengek Juna. Bianca hanya acuh, Arjuna berdecak sambil mengusap perutnya yang ditinju gadisnya. Daddy James semakin tertawa puas melihat wajah kesakitan puteranya.
10 menit kemudian tiba tiba
brak suara pintu di banting dengan kasar, membuat mereka terlonjak kaget. Sandra datang dengan raut wajah penuh amarahnya. Biancapun bangkit dan langsung menghampiri gadis itu. "Untuk apa kamu ke mari. " sinisnya.
"Bukan urusanmu. Om,Tante katakan di mana keberadaan Rafandra dan Mentari. " desak Sandra dengan nada tak sabaran.
"Jaga batasanmu Sandra. Rafandra sudah menikah, Tante takkan memberitahu keberadaan mereka padamu. Sandrapun mengertakkan giginya, namun dengan sigap Bianca menahannya.
__ADS_1
"Minggir!
"Tidak akan. Sandra mencoba mendorong Bianca. Bianca dengan sigap melintir tangan Sandra, lalu membantingnya di atas lantai.
Auh suara ringisan kesakitan keluar dari bibir Sandra. Bianca berkacak pinggang, menatap Sandra dengan aura membunuhnya. "Dasar lampir tak punya sopan santun. Sadar diri dong, Rafandra sudah menikah dengan sahabatku. " geram Bianca.
Sandrapun kembali berdiri menahan kesakitan diseluruh tubuhnya. Dia berdecih, menatap benci terhadap gadis dihadapannya ini.
"Aku tidak peduli. Rafandra hanya milikku, jika aku tidak bisa memilikinya maka Mentari juga tidak bisa. " teriak Sandra penuh emosi. Hilang sudah kesabaran Bianca, Plak dia langsung menampar kedua pipi Sandra berulang ulang.
Setelah itu Dia menyeretnya hingga ke luar dan melemparnya ke jalanan. "Sebaiknya kamu pergi dan jangan lagi kemari atau mau aku laporkan kamu kepolisi wanita murahan. " gertak Bianca.
Sandrapun menatap Bianca penuh kebencian setelah itu pergi dari sana. Biancapun menghembuskan nafas kasar, merasa khawatir dengan keselamatan Mentari. Tidak, dia tak akan membiarkan Sandra menyakiti Mentari dan calon anak dalam kandungannya.
Biancapun menoleh melihat Juna yang kini ada dibelakangnya. Juna mengusap pipi Bianca dengan lembut sambil berkata. "Kita masuk lagi Bi dan rencanakan sesuatu untuk menjauhkan Sandra dari Rafandra dan Mentari apapun caranya. " Bianca mengangguk, membiarkan Juna membawanya masuk ke dalam mansion.
Sementara Alex dan Monica telah kembali ke Jakarta. Kini keduanya berada di mansion Alex, mereka berdua tengah berdebat mengenai apartemen. "Kenapa kamu tidak mau menginap di sini Nica, atau jangan jangan kamu masih mengharapkan Rafandra. " tebak Alex dengan rahang mengeras.
Monica mendesah lelah. Berkali kali dia telah menjelaskannya pada Alex, namun Alex sepertinya masih tidak mengerti. "Udahlah Mas, aku capek kalau harus berdebat dengan kamu Terserah kamu menganggapku bagaimana!
Monica berbalik meninggalkan Alex. Alex menggeram emosi, segera ditariknya tangan Monica dengan kuat hingga terjatuh dalam pelukannya. Monica memberontak berusaha melepaskan diri hingga berhasil melepaskan kungkungan Alex. "Kamu terlalu berlebihan dalam segala hal Mas, selama beberapa bulan ini aku sudah tidak memikirkannya saat aku bersama kamu. "
"Lebih baik aku tinggal sendiri daripada setiap hari bertengkar denganmu Mas Alex. "
Aura Alex semakin menggelap. Diapun membopong Monica dengan bridal style menuju ke kamarnya di lantai atas. Tak lupa Alex mengunci kamarnya, kemudian melempar Monica ke atas ranjang. Setelah itu hanya suara desahan dan erangan kesakitan yang menggema dalam kamar.
__ADS_1
Dua jam berlalu Alex menyudahi aksinya. Dia menjatuhkan dirinya disebelah monica. Monica menarik selimutnya berbaring membelakangi Alex. Untuk kedua kalinya dia dicumbu oleh Alex yang tengah dikuasai amarah.
Terdengar isak tangis membuat rasa bersalah menghantam jiwa Alex. Segera saja dia langsung rengkuh tubuh wanitanya tersebut dari belakang. "Maafkan aku sayang, maaf. "
Monica membalikkan tubuhnya, menatap sendu Alex dengan wajah sembabnya. Ada rasa kecewa dan terluka dikedua manik mata Monica, membuat Alex semakin diliputi rasa bersalah. "Kenapa Mas lakukan ini padaku. Mas Alex tidak mencintaiku begitupun juga denganku hiks hiks. " isaknya sesegukan.
"Sayang apakah selama ini kamu tidak merasakannya. Aku selalu cemburu jika kamu berdekatan dengan pria lain dan masih mengingat Rafandra. " ujar Alex.
"Aku sangat mencintaimu Monica dan maaf aku terlambat mengatakannya padamu. "
Mata Monica berkaca kaca. Dia langsung berhambur ke dalam pelukan Alex. Alex membalasnya, mengusap punggung wanitanya yang bergetar. Tak lama kemudian, Monica menjauhkan dirinya lalu tersenyum manis. "Aku juga mencintaimu Mas Alex. "
"Benarkah! Monica mengangguk. Sontak senyuman lebar tersungging di wajah rupawannya itu. Kini tatapan Alex tertuju pada Selimut yang digenggam Monica melorot hingga terlamlang kedua buah persiknya, membuat Alex menelan ludah kasar.
Monica menunduk ke bawah dan segera menutupinya namun dicegah Alex. Alexpun kembali mendorongnya hingga terlentang, lalu mulai menyesap rakus seperti bayi dua buah persik istrinya. Monicapun pasrah, mengelus kepala pria yang dicintainya itu. "Jangan lagi ragukan aku mas Alex. Hanya kamu pria yang aku cintai dan pemilik jiwa serta ragaku. "
Selesai dengan aksinya, Alex kembali menatap Monica dengan tatapan lekat. "Maafkan aku, Cemburu buta membuatku menyakitimu. " sesalnya.
"Semuanya sudah terjadi Mas. " Monica menarik selimut saat Alex kini telah berbaring disebelahnya.
Alex mengulum senyumnya. Dia sangat berharap banyak agar salah satu benihnya tumbuh dalam rahim wanitanya. Jika hal itu terjadi mungkin bisa menguatkan cinta mereka berdua. "Secepatnya kita harus menikah dan mungkin dihitung lima hari lagi dari sekarang. "
"Apa. " kedua mata Monica membulat mendengar ucapan Alex barusan.
"Iya sayang, aku takutnya benihku ada yang tumbuh dalam rahimmu dan juga aku tidak mau kamu mendapat cemoohan dari orang orang. " Monica terdiam, lalu mengangguk menyetujui pernyataan Alex.
__ADS_1
TBC