Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 11


__ADS_3

Di dalam kamar, Kanaya merasa perutnya sakit. Seperti kram, bahkan sampai melilit. Tapi, dengan rileks Kanaya menahan semua dan mencoba tenang. Jika dirinya panik, maka rasa sakitnya semakin menjadi. Jadi, lebih baik Kanaya tenang sampai rasa sakitnya mereda.


"Duh, ini kenapa sakit banget ya? Biasanya tidak seperti ini, apa aku salah makan?" gumam Kanaya terus mencari posisi ternyaman.


Dia mengusap lembut perutnya yang mulai tampak membulat, ada pergerakan lembut di dalam sana sehingga membuat Kanaya sedikit tenang. "Maafin Mama ya, Nak. Belum bisa memberikan keluarga yang lengkap, tapi Mama yakin kelak jika kamu lahir, banyak orang menyayangimu melebihi apapun," lirih Kanaya.


Tak lama setelah itu, Kanaya mendengar pintunya diketuk dari luar. Karena penasaran siapa yang mengetuk, dia mengizinkan orang itu masuk ke dalam toh memang pintunya tidak di kunci.


"Nay, boleh Kakak masuk?"


Kanaya sangat terkejut melihat Nabila ada di depan pintunya, dengan cepat dia duduk dari rebahan nya dan mempersilahkan Nabila masuk. "Masuk saja, Kak."


Nabila pun masuk, dia berjalan secara perlahan sambil melihat seisi kamar Kanaya. Terlihat sangat mewah, banyak sekali boneka terpanjang di lemari khusus. "Apa aku mengganggumu, Nay?" tanya Nabila.


"Tidak kok, Kak," sahut Kanaya. "Oh iya, ada keperluan apa ya, kok sampai datang ke rumah. Kenapa Kakak nggak bilang, tau seperti itu tadi aku sambut," sambungnya.


"Tadi Kakak datang bersama Kennan dan mama papa, niatnya sih mau melamar kamu, tapi om Asloka menolak itu," kata Nabila membuat Kanaya kaget. Dia baru tahu kalau ada keluarga Kennan datang melamar, karena dari tadi dia hanya di kamar merasakan perutnya sakit.


"Maaf aku nggak tau, Kak."


"Sudah, nggak apa-apa. Kakak kesini juga ingin menanyakan hal ini, Kok. Jadi seperti ini Nay, Kakak mau tanya, jika Kennan mau menikahimu, apa kamu setuju?" tanya Nabila langsung.

__ADS_1


Dia tak mau membuang-buang waktu, apalagi hanya lima menit saja waktu yang diberikan oleh Asloka.


"Naya nggak tau, Kak. Di sisi lain aku mau anakku memiliki status yang jelas, tapi disisi lain aku nggak mau merusak rumah tangga Kakak," jelas Kanaya.


"Nay, jangan pikirkan aku. Memang awalnya sangat sakit, jika di pikir-pikir aku nggak bisa memberikan keturunan untuk Kennan, hanya kamu yang bisa Nay, jadi aku mohon, mau ya menikah dengan Kennan," bujuk Nabila.


Kanaya tak bisa menjawab, dia masih ragu menerima semua permintaan itu. Jujur mendengar ucapan Nabila, dia merasa Nabila hanya memanfaatkannya karena bisa memberikan keturunan bagi Kennan.


"Kak, aku belum bisa memberi jawaban. Nanti akan ku pikirkan, tapi untuk sekarang aku tidak bisa. Tolong hargai keputusanku ini," kata Kanaya sehingga membuat Nabila tak bisa berkutik.


Mereka pun saling diam, tak ada yang berbicara sampai akhirnya Asloka datang dan mengingatkan Nabila, jika waktu yang dia berikan sudah habis. Asloka menyuruh Nabila keluar dari kamar secepatnya, dengan alasan Kanaya harus istirahat sama seperti Nabila.


"Nay, aku harap kamu bisa memikirkan permintaanku. Jika kamu berubah pikiran, langsung datang ke rumah dan kita akan mempersiapkan semua," ucap Nabila sebelum pergi.


***


Satu minggu sudah Kanaya berada di rumah tanpa keluar sedikitpun. Pagi ini dia merasa perutnya semakin sakit, sehingga dia memutuskan untuk memanggil Anne. Kanaya benar-benar tak tahan, berkali-kali dia mengeluh sampai keringat dingin bercucuran keluar.


Biasanya dia akan tahan jika merasa sakit, tapi kali ini Kanaya benar-benar menangis sambil memegang perutnya. Pergerakan janin nya pun, tak dapat dia rasakan lagi seperti biasanya.


"Mama, sakit," ucap Kanaya sambil menangis. Dia menggigit bibirnya demi menahan semua, tapi tidak bisa. Perutnya benar-benar sakit, sampai terasa ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit saja, ya? Mama jadi takut melihat kamu seperti ini," balas Anne dan langsung di iyakan oleh Kanaya.


Sambil menunggu mamanya mengambil tas, dia memutuskan untuk mengganti pakaian. Tapi, baru saja dia berdiri Kanaya melihat darah mengalir begitu saja dari pangkal paha sampai ke betisnya.


Tubuh Kanaya seketika bergetar, tangannya reflek memegang erat perutnya. Dia menggeleng kuat, takut terjadi sesuatu pada anak dalam kandungannya.


"Mama! Kak Brian! Anakku, nggak mungkin!" teriak sangat histeris. Kanaya semakin menangis, dia tak mau kehilangan anaknya. Apapun yang terjadi, anaknya harus selamat walaupun nyawa taruhannya.


Sedangkan orang rumah yang mendengar jeritan itu langsung berlari ke kamar Kanaya, mereka sangat shock melihat Kanaya berdarah-darah sambil menangis di atas lantai.


"Naya, kamu kenapa?" tanya Abrian.


"Nggak tau Kak, perutku sangat sakit. Tolong selamatkan anakku Kak, jika sampai dia kenapa-napa lebih baik Naya mati saja!" serunya membuat Abrian merasa bersalah.


"Cepat gendong Naya, aku akan siapkan mobil!" Setelah berkata Abian langsung mencari kunci mobil.


Mereka semua membawa Kanaya ke rumah sakit, sedangkan Anne menghubungi Asloka untuk datang ke rumah sakit dan menjelaskan kondisi Kanaya saat ini.


Sesampainya di rumah sakit, dokter segera memeriksa keadaan Kanaya. Mulut Kanaya juga selalu memohon agar anaknya diselamatkan, sampai akhirnya dokter memberikan obat penenang agar dia bisa sedikit rileks.


...****************...

__ADS_1


Done 2 episode ya 😄😄


__ADS_2