
"Papa, ada Om Jahat dan Tante jahat. Lihatlah disana, mereka mau pergi!"
Seruan kencang dari Aileen sontak membuat semua orang menoleh ke arah dua manusia yang kini bersiap akan pergi. Banyak dari mereka mulai berbisik-bisik jika Kennan datang, hanya ingin merebut anaknya sehingga Kanaya mulai menatap tak suka dan menggandeng Hans sangat erat.
"Aileen, kamu masuk sama Opa Aslan ya. Jangan sampai keluar kemana-mana dan Papa, aku titip Aileen sebentar," ucap Hans membuat suasana semakin genting.
Aslan yang paham akan hal itu segera menggendong Aileen dan membawanya masuk. Sedangkan Hans, segera menghampiri dua manusia lucknut itu dengan tatapan sengit.
"Mau apa kalian datang kemari? Mau menculik Aileen lagi, atau mau merusak pesta pernikahan kita!" seru Hans. Sedangkan Kanaya hanya diam dengan tatapan marah, sambil menggandeng Hans sangat erat seperti menunjukkan ke arah Kennan, jika lelaki di sebelahnya sangat melindunginya.
Kennan merasakan sakit luar biasa dalam hatinya, dulu Kanaya selalu ingin menggandeng tangannya tapi dia selalu menepis, terkadang juga dia menolak lantaran takut terlihat oleh Nabila.
"Nay, izinkan Mas Kennan dekat dengan anaknya. Beri kami kesempatan sekali saja, Nay, untuk menebus semua kesalahan kami," ucap Nabila tak menghiraukan ucapan Hans.
"Nggak ada kesempatan, Kak. Semua sudah selesai disaat Kak Kennan menalakku waktu itu, dia sudah bertekad untuk melepaskan, jadi itu sudah konsekuensi dari ucapannya sendiri," balas Kanaya terlihat sangat tenang. Dia seperti sudah berdamai dengan keadaan, jadi ketika melihat Kennan hatinya tak lagi sakit maupun merasa rindu.
"Berhenti bersikap seperti ini, karena yang ada kamu akan capek sendiri. Dia anakku, sampai kapanpun hanya anakku dan kalian nggak ada hak apapun terhadap Aileen. Tolong, jaga mental Aileen juga, karena dari awal sampai akhir dia hanya mengenal Kak Hans sebagai papanya." Lanjut Kanaya.
Hans menatap tak percaya mendengar perkataan Kanaya, selama ini istrinya selalu diam meski disakiti oleh keluarga Kennan, tapi ternyata sekarang tidak. Istrinya berani mengungkapkan semua isi hatinya, tanpa peduli Kennan akan sakit hati atau tidak nanti.
"Tapi kamu egois, Nay. Mas Kennan berhak bertemu dengan anak kandungnya, meski hanya sebentar saja," tegur Nabila dan Kanaya langsung tertawa sumbang.
__ADS_1
"Ternyata mukamu muka tembok, ya Kak! Berapa kali Kakak mengatakan aku egois? Padahal yang egois disini itu kalian berdua! Kalian selalu menjadikan aku boneka, yang seenaknya dimainkan dan ditindas!" serunya semakin menggebu-gebu.
Hans tak ingin melerai, karena dia membiarkan istrinya ini mengeluarkan semua unek-uneknya selama menikah dengan Kennan agar mereka semua sadar diri.
"Sebelumnya, apa Kakak pernah berpikir perasaanku sebelum menjebakku dengan kak Kennan? Nggak kan? Yang ada di otak Kak Nabila hanya anak, namun setelah anak itu hadir kamu malah lebih kejam karena kecemburuan tanpa dasar itu sehingga meminta kak Kennan mencampakkan kami berdua. Jadi yang egois sebenarnya siapa? Aku atau kalian!" teriak Kanaya sangat kencang.
Semua orang disana hanya bisa diam, mereka mulai berkaca-kaca mendengar luapan emosi Kanaya. Apalagi Kanaya adalah sosok wanita pendiam, tanpa banyak kata tapi setelah marah dia meluapkan semuanya langsung.
"Dan kamu, Kak! Kamu lelaki plin-plan nggak memiliki prinsip sama sekali, selalu menurut pada kak Nabila, apa kamu sadar jika selama ini diperalat dia! Jadi karena ini juga, aku sangat menolak Aileen dekat denganmu, karena aku yakin anakku pasti akan tertular sikap plin-plan, egois dan kejam kalian!"
Plakk!
"Berani kamu menampar, istriku!" Hans siap-siap memukul Nabila tapi dicegah oleh Kanaya.
"Kam —"
"Nabila cukup!" teriak Kennan sangat kencang sehingga membuat Nabila berhenti dan tak melanjutkan perkataannya sedikitpun.
"Mas, dia sangat keterlaluan!" Protes Nabila.
"Tapi apa yang diucapkan mereka memang benar adanya, kita sudah memperalat Kanaya dan aku juga menjadi bonekamu selama ini. Kenapa harus marah, Nabila?" tanya Kennan.
__ADS_1
"Cintaku padamu sangat besar, sampai mataku buta. Selama ini aku sudah bersikap tak adil pada Kanaya, aku juga sebagai lelaki tak memiliki prinsip maupun ketegasan, sekali digertak olehmu aku selalu menyakiti Kanaya. Jadi benar kata mereka, aku tak ada hak tentang Aileen," sambungnya lagi sambil tersenyum.
Kennan menjalankan kursi rodanya sendiri ke arah Kanaya, tapi dia malah mundur dan menjauh agar tak bertatap muka lebih dekat. "Jangan menjauh, Nay. Aku hanya ingin minta maaf, dosaku sudah terlalu banyak, Nay, jadi maaf atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat."
Kennan berusaha turun dari kursi rodanya dan berlutut di hadapan Kanaya. Sungguh tindakan ini membuat Kanaya membuang muka, dia tak mau luluh akan tindakan Kennan jadi lebih baik dia menghindari tatapan mata.
"Nak, bukan Papa membela Kennan, tapi apa salahnya memaafkan asalkan dia berjanji tak akan mengulangi kesalahannya." Asloka tiba-tiba berkata seperti itu sampai membuat Kanaya menatap tak percaya.
"Papa membela mereka?" Kanaya sangat kecewa.
"Bukan seperti itu, Nak."
"Papa nggak tau bagaimana sakitnya perasaanku waktu itu, mereka selalu menyalahkanku bahkan mulut mereka --"
Kanaya tak jadi melanjutkannya karena tiba-tiba hidungnya mengeluarkan darah, sehingga membuatnya menutup hidung dan memeluk Hans langsung.
"Naya kamu baik-baik saja, Nay!" seru Hans sangat panik, tanpa tunggu lama dia segera menggendong istrinya dan membawanya masuk.
Disaat semua ingin mengikuti Hans, ternyata Kennan juga pingsan dan mereka jadi bingung harus mengkhawatirkan siapa dulu. Apalagi, mereka berdua sama-sama sakit yang dibilang bukan sakit main-main.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1