
...Emak Tanya Dong, kalian sedih nggak sih liat Kennan mati. Apa hanya emak yang lebay ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜...
...----------------...
Kanaya menggenggam erat jemari-jemari suaminya ketika sampai di depan rumah sakit, dia sudah memantapkan diri untuk menemui Kennan dan mengakhiri semua dengan baik-baik, tanpa ada permasalahan lagi di antara mereka.
Kanaya lakukan semua bukan semata-mata demi dirinya saja, tapi juga demi Aileen. Dia ingin hidup lebih lama lagi, agar anaknya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lebih lama, agar waktu-waktu yang terbuang bisa ditebus saat ini.
"Kamu siap, Nay?" tanya Hans memastikan jika istrinya baik-baik saja.
"Huft, aku siap Kak. Ayo kita masuk," balas Kanaya penuh senyuman.
Hans mengangguk, dia segera menggendong Aileen dan masuk ke dalam gedung rumah sakit. Perlahan-lahan, langkah kaki mereka menyusuri seluruh lorong-lorong rumah sakit, sampai akhirnya mereka menemukan lorong ruangan Kennan.
Jantung Kanaya mendadak berdetak sangat kencang, langkah kakinya terhenti, dia menjadi takut akan melangkah tapi melihat wajah polos anaknya membuat Kanaya harus tegar menghadapi masalah.
"Bagaimana ini, Ma. Mas Kennan selalu memanggil-manggil, Naya dan Aileen. Aku sampai nggak tega mendengarnya."
Cicitan dari Nabila pun terdengar ke telinganya, dia sangat yakin jika mereka saat ini tengah panik sekaligus takut, seperti keluarganya dulu. 'Dulu, keluargaku yang ada dalam posisi ini. Sekarang kalian,' batin Kanaya.
"Nay ...."
"Ayo kita kesana, Kak. Mungkin saja Kak Kennan sudah menungguku dan Aileen," ajaknya.
Mereka kembali berjalan mendekati keluarga Kennan, dengan langkah santai Kanaya melewati dan tak memperdulikan keterkejutan Rita maupun Nabila. Kanaya lebih memilih mendekat ke arah Burhan, untuk bertanya keadaan Kennan.
"Pa, bagaimana keadaan Kak Kennan?" tanyanya tanpa menoleh ke siapapun, Kanaya hanya fokus pada Burhan dan tak menyadari jika di samping mantan mertuanya ada Ferbian sosok lelaki yang pernah menjadi sahabatnya dulu.
"Sangat buruk, Nay." Burhan terlihat sangat tenang, karena dia sudah paham jika anaknya itu tak akan bertahan lama.
"Boleh Naya masuk, melihat kondisi Kak Kennan?" tanyanya sangat lembut.
"Boleh, Nay. Kennan menunggumu dan Aileen, segeralah masuk agar Kennan tak terlalu lama menghadapi sakaratul mautnya." Burhan sangat bahagia mendengar Kanaya mau bertemu dengan anaknya. Setidaknya mantan menantunya itu masih memiliki hati nurani, agar tidak menyulitkan jalan Kennan.
__ADS_1
"Aileen, sini Nak. Ikut Mama masuk, Papa sudah menunggu kita di dalam," ajak Kanaya.
Aileen pun turun dari gendongan Hans, dia menggandeng tangan Kanaya dan segera masuk ke dalam. Sebelum benar-benar masuk, mereka berdua di arahkan ke ruang ganti demi mensterilkan diri. Selesai itu, Kanaya baru boleh melihat Kennan dari dalam.
Langkah kaki Kanaya terasa gemetar ketika telinganya mendengar bunyi alat bantu Kennan, dia jadi ingat waktu dirinya berada dalam kondisi seperti ini, antara hidup dan mati. Dia juga sempat berpikir, jika hidupnya tak akan lama lagi, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.
Buktinya dia sampai saat ini masih hidup dan bisa melihat anaknya tumbuh dewasa, juga bisa menikah dengan lelaki yang sangat dinanti-nanti dari dulu.
"Saya tinggal dulu ya, Bu," ucap Perawat yang mendampinginya masuk tadi.
"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih, karena sudah diizinkan masuk," balas Kanaya dan perawat itu mengangguk kecil sambil tersenyum lembut ke arahnya.
Setelah itu, Kanaya mulai fokus pada Kennan. Dia melihat mantan suaminya itu terkapar tak berdaya di atas ranjang pesakitan, bahkan Kanaya juga mendengar jika Kennan mulai mengorok tapi bukan ngorok karena tidur.
Dengan perlahan dan memantapkan diri, Kanaya mulai mendekati Kennan. Dia berusaha meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja, sehingga Kanaya berani menggenggam lembut punggung tangan Kennan.
"Kak, aku sudah datang bersama Aileen," bisik Kanaya sangat lembut tepat di telinga Kennan.
Tak terasa air matanya mulai menetes, perasaan tak tega mulai merasuki relung hatinya. Meski dia sangat sakit hati akan sikap Kennan, tapi Kanaya juga pernah mencintai lelaki ini.
"Katanya mau bertemu anak kita. Aku sudah membawanya kesini, kamu harus bangun Kak," lirihnya semakin tak kuasa.
Meski Kennan tak menjawab ucapannya, tapi Kanaya melihat air mata mulai menetes dari mata Kennan. Seakan-akan Kennan tahu mereka sudah datang, tapi matanya enggan terbuka.
"A-a-ai ...." Kennan seakan ingin memanggil anaknya, tapi bibirnya terlihat sangat sulit terbuka sehingga hanya seruan tak jelas yang keluar.
"Aku sudah memaafkanmu, Kak. Jauh dari lubuk hatiku paling dalam, aku buang semua rasa kecewa, rasa sakit yang pernah kamu berikan. Aku memaafkanmu, Kak," ucap Kanaya sambil menghapus jejak air mata Kennan.
Tak lama setelah itu, Kanaya mendengar Aileen menangis. Aileen seperti takut dan tak berani mendekati brankar Kennan, bocah itu terus berdiri dipojokkan sambil menangis.
"Sayang, kemarilah. Ini Papa Aileen, jangan takut Sayang." Kanaya memanggil anaknya itu.
"Aileen takut Mama, Aileen nggak tega melihat om — papa seperti ini. Aileen takut ...." Aileen semakin keras menangis.
__ADS_1
Namun, ternyata tangisan Aileen membuat Kennan reflek menggenggam erat jemari-jemari Kanaya. "Kak, kamu ingin bertemu Aileen kan. Aku akan kabulkan." Kanaya meminta anaknya mendekat, dia tak mungkin melepaskan tangan Kennan, untungnya perlahan-lahan Aileen mau mendekat sampai akhirnya bocah itu ada di samping Kanaya.
"Sayang, meski Papa jahat tapi dia tetap Papa Aileen. Sekarang Papa Aileen ingin bertemu, Aileen mau ya mencium Papa?" tanya Kanaya. Meski dirinya tak kuat, tapi dia harus berusaha memberikan pengertian pada anaknya.
"Sekarang Aileen naik ke atas bangku, ajak bicara Papa agar Papa respon dan cepat bangun, oke?"
Aileen hanya menganggukkan kepala, meski dalam keadaan sesegukan karena menangis, bocah itu mau mengikuti perkataan Kanaya. Setelah itu, Aileen merangkak naik agar lebih dekat dengan Kennan.
"Papa ...."
Kanaya semakin merasa sesak dalam hati, ketika Aileen menyebut Kennan Papa, pada saat itu juga mantan suaminya itu menggengam erat jemarinya lagi. Berkali-kali Kanaya berusaha menghapus air matanya, tapi ternyata tak bisa.
"Papa, cepat bangun ya. Aileen sangat merindukan Papa, maaf jika Aileen sempat jahat sama Papa, maaf ya Pa."
Aileen langsung mencium kening Kennan, pada saat itulah Kanaya melihat Kennan tersenyum. Namun, tak lama kemudian layar monitor jantung Kennan mulai tak beraturan.
Kennan terlihat seperti sulit bernafas, Kanaya maupun Aileen pun panik dan hanya bisa menangis, bahkan detik itu juga Aileen segera memeluk Kennan sangat erat.
"Papa kenapa? Jangan buat Aileen takut, Aileen janji akan jadi anak yang baik, gak jahat lagi, tapi Papa harus sembuh," ucap Aileen penuh kepiluan.
Kanaya semakin panik, dia segera memencet tombol darurat. Sampai akhirnya banyak perawat maupun dokter menghampiri mereka.
"Tolong sedikit menjauh, kamu akan melakukan tindakan," kata salah satu perawat.
Kanaya segera menurunkan Aileen, meski sangat sulit tapi dia harus membawa anaknya menjauh. "Mama, Aileen mau sama Papa! Papa, jangan tinggalin Aileen, Papa ...."
Kanaya tak bisa melihat anaknya seperti ini, dia langsung memeluk erat Aileen dan menutup telinganya. Meski Aileen terus memberontak, tapi Kanaya berusaha menahan agar anaknya itu tak mengganggu dokter.
"Dokter bagaimana?" Kanaya mulai gemetar hebat tatkala suara monitor mulai lurus, pertanda Kennan telah menyerah.
"Maaf, Pak Kennan sudah meninggal."
"PAPA!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...