Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 60


__ADS_3

"Kalian serius mau kembali besok? Padahal di rumah belum juga genap satu minggu, tapi ...." Asloka terlihat sangat sedih, dia juga ingin menahan anaknya tapi semua sudah berbeda karena Kanaya sudah bersuami.


"Pa, maafin Naya, tapi disini benar-benar tak nyaman untukku, belum lagi sikap keluarga Kak Kennan, yang masih saja belum berubah," balasnya penuh penyesalan. Kanaya sendiri juga sangat sedih, tapi jika dia ingin tetap hidup lebih lama, maka harus segera menjauhi orang-orang itu.


"Benar kata, Naya. Dia lebih baik pergi dari sini, aku yakin keluarga itu akan terus mengusik kehidupan anakku, jadi biarkan mereka kembali ke Paris, masalah kangen nanti kita bisa pergi ke sana," sahut Anne merasa ucapan anaknya itu benar.


Seketika, Kanaya tersenyum lega ke arah Anne, setidaknya ada yang mendukung dirinya dan memahami perasaannya saat ini. "Mama, aku akan selalu merindukan Mama, nanti." Kanaya segera menghampiri Anne. Dia peluk erat Anne, sampai tak tar ada air mata mulai menetes kembali.


"Baiklah, jika itu memang keputusan yang terbaik, maka Papa hanya bisa pasrah harus berjauhan lagi dengan putri tercintaku, ini." Asloka juga tak mau kalah, dia mendekati anaknya dan memeluk mereka berdua.


"Baik-baik disana, Nak. Papa akan selalu mendoakanmu disini," lirih Asloka sambil menahan tangis. Sedih, itu sudah pasti namun Asloka tak bisa egois.


"Papa, tenang saja, ada aku yang selalu menjaga Kanaya dan akan ku bahagiakan dia sampai mau memisahkan kita."


Asloka menganggukkan kepala, selepas memeluk Kanaya dia beralih memeluk Hans sambil berkata, "aku serahkan anakku, bahagiakan dia dan jangan pernah sakiti Kanaya. Anakku sudah cukup menderita, jadi aku harap kali ini hidupnya akan selalu bahagia."


"Papa pegang janjiku, jika aku sampai menyakiti Kanaya, hari itu juga aku siap dihukum mati."


Semua orang pun tertawa mendengar ucapan Hans, baru kali ini ada seorang lelaki berani mati, jika menyakiti wanitanya. Suasana sedih pun berakhir bahagia, sampai akhirnya Lusi datang dengan wajah murung.


"Nyonya, biarkan aku ikut denganmu. Berpisah selama bertahun-tahun membuat saya rindu, tolong bawa saya dan saya akan mendidik Non Aileen," lirih Lusi sambil menunduk, dia tak berani menatap mereka karena menurut Lusi ucapannya ini benar-benar keterlaluan.


Awalnya dia hanya ditugaskan untuk menjaga Kanaya saat berada dirumah Kennan, namun semenjak kabar kematian itu, dia merasa amat bersalah sampai setahun menyalahkan diri sendiri. Sekarang Lusi ingin menebus semua, tapi entah permintaannya akan dituruti atau tidak.


"Terus keluargamu bagaimana, Lus?" tanya Asloka.


"Saya rasa mereka akan mengerti, tapi izinkan saya ikut Nyonya Kanaya, Tuan." Mohon Lusi.


Asloka tak bisa memberikan keputusan, sekarang Aileen milik Hans yang notabene lelaki baik, berbeda dengan Kennan.


"Mama, Aileen mau sama Mbak Lusi. Bawa Mbak Lusi juga ya, Aileen nggak mau kembali kalau nggak sama Mbak Lusi pokoknya!" seru Aileen tiba-tiba turun dari atas. Padahal bocah itu tadi sedang tidur siang, tapi ternyata terbangun secepat ini.


"Non Aileen ...."


Lusi amat terkejut karena Aileen juga menginginkan dia, rasanya sangat terharu, padahal mereka baru kenal beberapa hari tapi Aileen sudah menginginkannya.


"Kak, apa boleh aku bawa Lusi?" tanya Kanaya juga tak tega melihat anaknya enggan berpisah dari Lusi.


"Aileen anak yang sulit sekali percaya dengan orang, tapi beberapa hari bersamanya, Aileen langsung lengket. Jika dia mau ikut, maka silahkan. Tapi, harus izin dengan keluarganya, aku nggak mau Lusi selisih paham karena hal ini," balas Hans membuat Kanaya maupun Lusi sangat bahagia.


Lusi berlutut di hadapan Hans sebagai ucapan terimakasih, tapi dengan cepat lelaki itu menghindar dan melarang Lusi berbuat hal seperti ini. Baginya, semua manusia sama saja, jadi dia tak ingin Lusi berbusana seperti itu.

__ADS_1


***


Suasana canggung terjadi di kamar Kanaya, malam ini mereka tidur satu kamar tanpa ada seseorang. Hans duduk di pojok ranjang, begitu juga Kanaya. Jantung mereka berdetak sangat kencang, sehingga membuat rasa canggung semakin menjadi.


"Nay ...."


"Kak ...."


Mereka pun langsung tersipu malu, tanpa sadar mereka saling memanggil dan nyali yang mulai terkumpul hilang begitu saja.


'Kok jadi canggung seperti ini sih, padahal kan setiap hari bertemu dengan Kanaya. Bahkan merawatnya bertahun-tahun,' lirihnya dalam hati.


"Nggak bisa seperti ini, aku harus —"


"Harus apa, Kak?"


Sontak Hans terkejut mendengar suara Kanaya, wanita itu kini sudah ada di belakangnya sambil berbisik di telinganya tadi.


"Nay, kamu nakal ya ternyata!" seru Hans.


"Suasananya begitu canggung, kalau tak ada yang memulai terlebih dahulu maka sampai besok pagi kita hanya duduk di pojokan," lirih Kanaya semakin menggoda Hans. Bahkan tangannya kini mulai mendarat sempurna di atas lele berkarat milik Hans.


"Nay, jangan menggodaku," lirihnya menahan agar tak tergoda. Dia masih ingat apa kata Andreas kalau Kanaya belum boleh terlalu kecapean, atau stres.


"Memang nggak boleh ya menggoda suami sendiri?"


Kanaya semakin membusungkan dadanya agar sedikit menekan punggung Has, tangan nakalnya juga tak bisa diam, perlahan-lahan dengan lembut dia membelai Lele berkarat yang tak pernah merasakan gua Amazone.


'Eh, mulai bangun, aku harus apa lagi ini.' Kanaya terlihat panik, apalagi setelah melihat ukuran lele berkarat Hans. 'Besar sekali.' Sambungnya dalam hati.


"Naya, kamu yang meminta semua ini!'


Hans segera membalikkan tubuhnya agak berhadapan dengan Kanaya, namun baru saja berbalik Hans dibuat tersedak melihat baju istrinya. 👀


"Uhuk ... kapan, kamu memakai baju ini dan, dan kenapa seexy sekali." Hans sampai sulit menelan ludahnya sendiri, baginya Kanaya sangat cantik dan terlihat sangat menawan meski tubuhnya sangat kurus. Kulit putih istrinya juga terlihat sangat mulus, sehingga membuatnya semakin tegak berdiri di barisan terdepan.


"Apa terlihat jelek?"


"Nggak, bukan seperti itu." Hans membantahnya.


"Terus kenapa berkata seperti itu." Kanaya semakin mempertanyakan, sedangkan Hans berusaha menahan hasrat.

__ADS_1


"Nay, aku bukan tak berselera, tapi aku takut menyakitimu," balas Hans penuh penyesalan.


"Aku baik-baik saja, dulu aku pernah melakukannya dengan kak Kennan, tapi baik-baik saja kok."


Terkejut, Hans sangat terkejut mendengar Kanaya menyebut nama Kennan. Rasa cemburu mulai menggerogoti hatinya, bisa-bisanya Kanaya masih ingat hal bersama Kennan.


"Kamu pernah melakukan itu dengan Kennan?" Hans terlihat sangat tak bersahabat, sedangkan Kanaya merasa sangat bersalah.


"Kak, maaf. Aku bukan bermaksud lain, hanya saja kamu selalu bilang takut aku kenapa-napa, jadi aku keceplosan karena aku ingat waktu nggak terjadi apapun pada tubuhku," jelas Kanaya.


Hans hanya mengangguk lesu, setelah Iyo dia belai lembut kedua pipi Kanaya. "Berapa kali kalian melakukannya?" Meski terlihat sangat konyol, tapi Hans penasaran.


"Hanya dua kali, sumpah! Pertama waktu kecelakaan, kedua saat kak Kennan berkata akan berbuat adil. Aku sangat bodoh, karena mempercayai ucapannya."


Meski cemburu, tapi Hans merasa sangat lega, setidaknya mereka tak memiliki banyak kenangan indah. Bahkan Hans juga mulai mengatur rasa cemburunya, karena sekarang masa depan Kanaya adalah dirinya.


"Nay, jangan pernah ungkit dia disaat seperti ini lagi ya," lirih Hans.


"Iya, Kak. Maaf, ini semua salahku."


Kanaya langsung memeluk suaminya sangat erat, dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Hans dan mencium kuat aroma tubuh suaminya. Tak lama kemudian, Kanaya merasakan sebuah elusan lembut di punggungnya.


Hans, juga menarik tubuhnya perlahan-lahan sampai tatapan mata mereka berdua saling beradu. Hans semakin lama semakin mendekat, dia ciumm lembut bibir istrinya, sedangkan Kanaya segera memejamkan mata dan mengalungkan tangan ke leher Hans.


Mereka berdua terhanyut dalam cumbuaaan, perlahan-lahan Hans juga memindah posisi Kanaya menjadi di atas pangkuannya. Puas bermain dengan bibir manis itu, Hans beralih ke leher putih istrinya.


Dia meninggalkan banyak sekali bekas stroberi di sana, sedangkan Kanaya hanya bisa menikmati sambil meremass rambut Hans sampai berantakan.


"Nay, jika aku melakukannya, apa kamu akan baik-baik saja?" Hans masih menanyakan kondisi Kanaya.


"Aku yakin, pasti baik-baik saja," balasnya.


Perlahan Hans merebahkan tubuh istrinya, dia tarik selimut dan langsung memeluknya dari belakang. "Nanti saja, setelah kita sampai Paris dan sudah kontrol. Aku lebih baik menahan, daripada nanti menyesal hanya karena menuruti hawa nafsu," ucap Hans berkali-kali menciumm ubun-ubun istrinya.


"Kamu serius?" Kanaya terlihat kesal, dia ingin membalikkan tubuhnya dan menatap Hans, tapi lelaki itu sudah mengunci pergerakannya agar tak bisa berbalik.


"Sangat serius, sudah jangan bergerak terus, sudah malam lebih baik tidur. Selamat malam, istriku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_1


__ADS_2