Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 54


__ADS_3

Aileen kini tengah duduk di kantin rumah sakit bersama Burhan, dia benar-benar tak memperdulikan keadaan Nabila maupun Kennan. Burhan serahkan semua pada istrinya, karena Lusi sama sekali tak bisa menerima Aileen.


"Makan yang banyak, kamu pasti kelaparan setelah perjalanan jauh," ucap Burhan terus memberikan beberapa lauk ke atas piring Aileen.


"Ini apa namanya? Di rumah nggak pernah masak seperti ini, rasanya enak," kata Aileen sangat lahap menyantap semua makanan.


"Ini namanya rawon, Sayang. Terus ini daging lapis, ada juga rendang. Kalau suka makan semuanya, Kakek akan berikan semua." Burhan sangat senang melihat cucunya menyukai makanan yang di pesan.


Hatinya juga berbunga-bunga, setidaknya dia masih memiliki kesempatan bersama meski hanya sebentar saja.


"Kakek berbeda dari mereka, Kakek orang baik." Aileen pun turun dari tempat duduknya dan segera menghampiri Burhan. Tanpa diduga, Aileen mencium pipi Burhan sebagai tanda terima kasih.


"Aileen sayang sama Kakek, tapi Aileen nggak bisa bersama Kakek terus. Jaga kesehatan ya, kalau papa sudah jemput Aileen," lirihnya penuh perhatian.


Siapapun orang nya pasti akan terharu dengan ucapan Aileen, Burhan yang tadinya ingin terlihat tegar mendadak runtuh pertahanannya dan langsung memeluk cucu semata wayangnya.


"Pasti, Kakek akan selalu menjaga diri. Agar bisa melihatmu menikah nanti, Sayang," ucap Burhan sambil menangis.


"Do'akan Kakek sehat terus. Nanti kalau kamu kembali, jangan lupa hubungi Kakek selalu ya, Nak. Sungguh, kamu belahan jiwa Kakek." Burhan semakin erat memeluk Aileen.


Sedangkan Aileen juga membalas pelukan kakeknya penuh sayang, namun semua itu tak berlangsung lama saat seseorang datang dengan memakai kursi roda.


"Aileen ...."


Segera Aileen menoleh ke arah sumber suara, disana sudah ada Nabila dan Kennan yang menuju ke arahnya. Dengan cepat pun, Aileen bersembunyi di samping Burhan agar mereka tak melihatnya.


"Kakek, Aileen nggak mau bertemu mereka," lirih Aileen.

__ADS_1


"Jika itu maumu, Kakek akan halangi mereka bertemu denganmu, meski mereka anak kandung Kakek."


Aileen mengangguk, dia semakin menyembunyikan dirinya. Sedangkan Burhan, segera berdiri dan menatap anak menantunya.


"Kalian kenapa keluar?" tanya Burhan.


"Pa, aku mau bertemu anakku," lirih Kennan.


"Sekarang baru mengakuinya anak? Kemana saja kamu selama Kanaya hamil, Kennan? Dan kamu juga Nabila! Papa sudah ingatkan padamu jika benar-benar menyesali perbuatanmu dulu, minta maaflah bukan menculik anak orang!" tegas Burhan sangat emosi.


Jika tau endingnya akan seperti ini, maka dia tak akan membiarkan semua orang tahu jika Kanaya masih hidup. Semua jadi rumit gara-gara tindakan gegabah Nabila.


"Maaf, Pa. Tapi aku hanya ingin Kanaya kembali, bagaimanapun juga Aileen juga anak mas Kennan," ujar Nabila membuat Burhan sangat kecewa.


"Ck, ternyata kamu sama saja dengan mamamu. Egois, tak pernah bisa sadar akan kesalahan sendiri. Terus, jika kamu ingin mereka kembali, sanggup kalian menghidupi mereka?" Sindir Burhan.


Dia tak bisa berkata apa-apa, Kennan hanya mampu menatap anaknya penuh kerinduan. Sungguh hatinya sangat sakit sekali di benci anak sendiri.


'Jadi seperti ini rasanya dibenci seseorang, dulu Kanaya selalu mendapatkan hinaan dariku bahkan lebih kejam dari ini. Aku memang salah dan tak sepantasnya mendapatkan kesempatan.'


***


Hans dan Kanaya kini sudah sampai Indonesia. Mereka juga langsung menuju rumah agar Kanaya bisa beristirahat sebentar, namun sayangnya saat mereka benar-benar sampai Kanaya menolak tinggal dan memaksa ikut ke rumah sakit menemui anaknya.


Semua orang sudah melarangnya, tapi bukan Kanaya namanya jika menurut nasihat orang tuanya.


"Kak, aku mau ikut."

__ADS_1


"Naya, kamu belum sehat sepenuhnya Sayang. Yakin sama aku, Aileen pasti akan kembali," ucap Hans berusaha menasehati Kanaya.


"Benar kata Hans, kamu harus banyak-banyak istirahat. Biar Kakak yang temani Hans ke rumah sakit, kamu duduk diam di rumah," jelas Abian.


"Kak ...."


"Naya! Sekali saja dengarkan apa kata kami, hilangkan keras kepalamu itu. Kamu sudah bukan anak kecil lagi, jadi stop kekanak-kanakan!" Tanpa sadar Abrian membentak adiknya itu.


Hans pun langsung menatap marah pada Abrian, dia tak suka wanita yang sangat dicintainya dibentak. "Jangan membentaknya!" seru Hans.


Seketika Abrian terdiam, dia lupa jika Hans sangat membenci orang yang membentak atau melukai Kanaya meski itu adalah keluarganya sendiri.


"Nay, kamu percaya aku kan?" tanya Hans sangat serius.


"Iya," lirih Kanaya.


"Kalau begitu, kamu dirumah ya? Biar Aileen aku yang urus, pegang janjiku Nay, dalam waktu lima jam jika aku belum kembali, maka kamu bisa datang ke rumah sakit, apa begini sudah membuatmu lega?"


Kanaya diam, dia belum berani menjawab. Tapi, melihat ketulusan Hans dan tatapan penuh percaya diri. Perlahan-lahan Kanaya mulai menurunkan egonya.


"Hanya lima jam kan?"


Hans menganggukkan kepala, meski tak selama itu tapi dia harus jaga-jaga takut jika di sana ada perbuatan hak tentang Aileen.


"Iya hanya lima jam."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1



__ADS_2