
"Nona, biar saya saja yang membereskan semua ini. Nona masih sakit, jadi jangan terlalu banyak gerak." Lusi melarang Kanaya membereskan dapur.
Lusi tak mau nyawanya melayang, karena tak becus mengurus anak majikannya ini. Karena dari awal, memang Asloka sudah memperingati mereka jika sampai Kanaya kenapa-napa, maka nyawa lusi dan dua orang lainnya akan melayang.
"Ini sangat mudah, jadi nggak akan mengganggu kesehatanku, Lusi," balas Kanaya masih kekeh membantu Lusi membereskan semua.
"Tapi, jika Nona sampai kenapa-napa. Tuan pasti akan membunuh kita semua, Non," jelas Lusi.
"Tuan? Kalau boleh tau siapa tuan kalian, kenapa kalian sangat membelaku?" tanyanya. Jujur saja, Kanaya sangat penasaran semua itu.
"Intinya orang yang sangat menyayangi Nona, serta menjaga Nona. Untuk siapanya saya tidak bisa jujur, karena tuan melarang membocorkan identitas nya," jawab Lusi tak bisa diajak kompromi.
Kanaya mendengus kesal mendengar jawaban Lusi. Karena tak mendapatkan informasi tentang siapa yang menyuruh mereka, akhirnya Kanaya lebih memilih melanjutkan beres-beres.
Dia sangat senang bisa gerak seperti biasanya, tadi pagi sampai petang selalu ada di kamar dan itu membuat badannya terasa remuk. Istirahat berkali-kali bukannya menyegarkan badan, yang ada tulang-tulangnya mau patah.
"Nay, kamu ada di sisi?"
Suara seorang lelaki yang sangat Kanaya kenal pun membuatnya berdiri kaku. Tangannya bahkan reflek memegang perutnya, takut jika orang di belakangnya ini memperhatikan perubahan perutnya.
'Kenapa aku bisa melupakan Ian? Dia belum tau kalau aku hamil dan bodohnya juga kenapa bisa lupa, kalau Ian adalah adiknya kak Kennan,' batin Kanaya masih tak mau menoleh ke belakang.
"Nay, ini sungguh kamu kan? Hampir tiga bulan kita tak pernah bertemu lagi, aku sangat senang bisa melihatmu disini," ucap Febrian.
Memang, selama hampir tiga bulan ini Kanaya selalu menghindari Febrian dan semua karena ungkapan cintanya malam itu. Entah kenapa, tapi Kanaya selalu merasa bersalah sampai harus menghindari lelaki di belakangnya ini.
"Nay ...."
"Ian, kamu kenapa ada di dapur? Ini sudah malam, seharusnya kamu tidur!" seru Kennan tiba-tiba ada di belakang Febrian.
Kini jantung Kanaya semakin berdetak hebat, dia tak mau sampai Febrian mengetahui statusnya saat ini. Apalagi sampai membenci dirinya, tidak Kanaya tak mau hal itu terjadi.
__ADS_1
"Kak, dari kapan Kanaya ada di sini?" Febrian mendekati Kennan.
"Dari tadi pagi. Nay, masuk ke dalam. Ini sudah malam dan kamu harus banyak-banyak istirahat, jangan lupa minum obatmu juga," ucap Kennan terus menatap Kanaya.
'Ha? Aku nggak salah dengarkan? Bukannya dari kemarin sangat ketus, kenapa sekarang jadi selembut ini,' batin Kanaya sangat kebingungan.
"Naya, kamu dengar kata-kata suamimu ini kan?!" tegas Kennan malah membuat Kanaya melotot. Sungguh dia sangat bingung dengan sikap Kennan, terkadang jahat, terkadang baik. 'Maunya apa sih, ini orang!'
"Tunggu, apa maksudnya ini? Suami? Naya bisa jelaskan, sebenarnya ada apa ini!" seru Febrian ingin mendekati Kanaya tapi langsung dicegah oleh Kennan.
"Telingamu nggak tuli kan, Febrian? Naya sekarang istri kakak dan dia sedang mengandung anakku, jadi jangan pernah ganggu dia selagi masih menjadi istriku!" tegas Kennan penuh tatapan tajam sampai-sampai suasana di dapur menjadi tegang.
Kanaya yang tadinya hanya diam saja, kini memberanikan diri menghadap ke arah dua lelaki itu dan berkata, "Ian, aku bisa jelaskan!" serunya sangat merasa bersalah.
"Jadi karena ini kamu menolakku, Nay?"
Kanaya menggeleng. "Nggak! Aku menolak perasaanmu murni karena menganggap hubungan kita sebagai sahabat, nggak bisa lebih dari sahabat. Sedangkan masalah pernikahan ini, aku —"
"Kak, tapi aku perlu —"
"Kanaya!"
Terdiam, Kanaya langsung terdiam mendengar ucapan Kennan. Teriakan itu sangat Kencang, sehingga membuat dia takut dan memiliki pergi dari hadapan mereka. Sedangkan Lusi, melihat majikannya pergi juga ikut pergi.
"Sekarang kembali ke tempatmu, jangan sampai aku ulangi untuk yang kedua kalinya!" seru Kennan bergegas mengikuti Kanaya dari belakang.
Kennan sendiri juga bingung kenapa di sangat kesal saat melihat Kanaya berada dalam satu ruangan bersama Febrian, padahal itu terserah mereka dan itu juga bukan urusannya.
"Sebenarnya kenapa aku ini?"
***
__ADS_1
Di kamar, Kanaya menangis tersedu-sedu. Hatinya benar-benar sakit sekali mendapat bentakan dari Kennan, padahal dia hanya ingin menjelaskan segalanya pada Febrian agar sahabatnya itu tidak salah paham, tapi dengan angkuh suaminya menggagalkan semua seakan-akan lelaki itu menunjukkan rasa cemburu.
"Sialan, lelaki sialan! Maunya apa sih sebenarnya, jadi laki kok plin-plan! Ucapannya nggak pernah bisa ditebak, selalu buat sakit hati juga menyakitkan!" marah Kanaya amat kesal. Dia bahkan memukul-mukul bantal sambil menggigitnya, demi menghilangkan rasa kesalahannya.
"Jadi orang jangan kegeeran, Naya! Semua tadi hanya sandiwara, ingat hanya sandiwara!" tegas Kennan sangat menohok hati Kanaya.
"Oh ya satu lagi, kamu sekarang adalah istriku. Meski pernikahan ini sementara, tapi statusmu tetap seorang istri. Jaga jarak dengan lelaki lain, karena aku nggak mau anakku tercampur benih orang lain."
Tes! Air mata Kanaya semakin deras mendengar ucapan demi ucapan Kennan, sungguh hinakah dirinya sampai suaminya sendiri meragukan kesuciannya. Sungguh biadab.
"Kakak menuduhku berselingkuh?"
"Aku nggak menuduh, tapi hanya mengingatkanmu. Jadi sebelum berniat selingkuh, kamu pikir-pikir ulang."
Sungguh, Kanaya ingin mengumpat kasar di hadapan Kennan, bahkan dia ingin membunuhnya saat ini juga. Tapi, semua ditahan dan hanya bisa dilampiaskan dengan cara mengepalkan tangan.
"Mulutmu jahat tau nggak, Kak! Bertahun-tahun bersahabat dengan Febrian, sedikitpun aku tak memiliki perasaan apalagi sampai berbuat hal menjijikkan! Hanya kamu, kamu orang pertama yang berhasil mengambil semua, puas!" seru Kanaya.
"Oh ya satu lagi, jangan khawatir aku berselingkuh dengan lelaki lain. Karena aku bukan wanita murahan, seperti pikiranmu itu. Sekarang silahkan keluar dari kamarku, kalau bisa secepatnya, melihatmu membuatku semakin mual!"
Setelah berkata seperti itu, Kanaya langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menumpahkan kekesalannya di dalam. Kanaya menghidupkan shower agar suaranya tidak terdengar dari dalam, hanya tempat ini yang bisa dia gunakan untuk meluapkan rasa bencinya pada Kennan.
"Aku membencinya, Kennan. Sangat membencimu, aku akan membuatmu menyesal suatu hari nanti karena terus-menerus menghinaku. Disaat kamu sadar, disanalah aku nggak akan pernah kembali ke sisimu!"
...****************...
Emak : Huuu jadi lakik kok labil lu Nan, Kennan! gak malu tuh sama mulutmu, yang bacotnya melebihi bon cabe lebel 100.
Asloka : mak, tapi begitu juga dia menantuku loh.
Emak : kalau emak ora sudi, tunggu aja pembalasan emak, akan kirim santett sampai dia jadi bucin klepek-klepek.
__ADS_1
Asloka : emak terbaik 👍💯