
"Kamu, belum boleh pergi!!"
Nabila menahan kursi roda Kanaya, dia juga menampilkan senyum misterius dan seperti merencanakan sesuatu.
"Lepas! Nona meminta pergi, anda tak punya hak untuk melarang kami meninggalkan apartemen ini!" Lusi tak mau kalah, dia menjadi benteng bagi Kanaya. Bagi Lusi nyawa Kanaya lebih penting dari apapun, mengingat tuannya yang menyelamatkan anaknya dulu.
"Kamu hanya pembantu, jangan sok melebihi majik β"
Plakk!!
Satu tamparan yang begitu keras pun mendarat di pipi Nabila. Semua orang melihat itu pun juga sangat terkejut, apalagi semua dilakukan oleh Kennan. Orang yang begitu mencintai Nabila, sampai dia menjadi orang jahat dan selalu menyakiti Kanaya.
"Mas, kamu menamparku?" Mata Nabila berkaca-kaca mendapat perlakuan seperti itu.
"Kamu pantas mendapatkan ini, Nabila! Aku benar-benar tak mengira, kamu bisa berbuat licik seperti ini. Dimana hati nuranimu, Nabila!" Kemarahan Kennan sudah di ambang batas.
Istri yang selama ini dia kira baik, ternyata memiliki tabiat mengerikan. Mampu mengorbankan perasaan banyak orang, hanya demi memenuhi keinginannya.
"Mas β"
"Diam! Aku sangat kecewa, Bil. Sungguh kecewa, sekarang intropeksi diri sendiri. Jangan pernah menemuiku sebelum kamu menyadari kesalahanmu," bentak Kennan.
Setelah itu, Kennan mendorong kursi roda Kanaya. Dia akan meninggalkan Nabila agar dia bisa berpikir apa saja kesalahannya, meski Kennan sangat mencintai istrinya, tapi tindakan ini sama sekali tak dibenarkan oleh Kennan.
"Mas, mau kemana?"
"Bukan urusanmu!" Kennan tak memperdulikan Nabila yang terus menjerit, dia memutuskan terus berjalan dan meninggalkan apartemen. Mungkin, Kennan akan mencari hotel terdekat supaya Kanaya bisa segera istirahat.
__ADS_1
"Kenapa kamu pergi? Kak Nabila sedang sakit, kapanpun penyakitnya bisa kambuh," kata Kanaya terus menatap lurus.
"Sikapnya sudah keterlaluan, biarkan dia introspeksi dan merenungi semua kesalahannya. Lagian, aku sudah menghubungi Zev agar mencari seseorang untuk menemani Nabila selama aku pergi," balas Kennan.
Kanaya tak menyahut lagi, dia lebih memilih diam. Hatinya masih sangat sakit mendengar perkataan Nabila, dalam benaknya Kanaya masih takut, jika Kennan hanya pura-pura baik saja agar tidak kehilangan anaknya.
***
Kennan membantu Kanaya naik ke atas ranjang. Setelah berputar-putar beberapa jam, akhirnya dia menemukan hotel kosong, meski hanya tersisa dua kamar tapi terpenting mereka menemukan tempat tinggal untuk malam ini.
"Kamu mau apa?" tanya Kennan begitu lembut.
"Aku mau Lusi, Kak. Biarkan dia tidur di sini, kamu saja yang di kamar sebelah," balas Kanaya tak mau menatap suaminya sedikitpun.
"Biar aku yang menemanimu, jarak kamar sebelah sangat jauh, jika ada apa-apa β"
"Bukannya selama ini Kakak nggak pernah peduli ya sama aku, kenapa sekarang jadi begini?" Tatapan Kanaya benar-benar seperti orang kehilangan rasa percaya pada seseorang.
"Apa Kakak takut aku benar-benar pergi, jadi bersikap sok adil dan peduli?"
"Bukan seperti itu!" Sangkal Kennan.
"Terus apa? Masih ingat nggak, beberapa bulan lalu saat kak Brian minta pertanggungjawaban, tapi Kakak menolak mentah-mentah dan berakhir penghinaan," ungkapnya terus.
"Oh ya, jangan lupakan kejadian di rumah sakit. Bukan hanya itu saja, bahkan Kakak selalu menghina, menghina dan menghina! Aku capek, capek jika harus pura-pura menerima perlakuan itu. Sekuat mungkin menahan, sekarang kamu sok membelaku, keluarga manipulatif semua!" seru Kanaya menyuarakan rasa sakit hatinya.
Tangisnya pun semakin menjadi, dia merasa meledak-ledak malam ini. Mungkin Kanaya akan diam jika dihina selama ini, tapi setelah mendengar kejadian beberapa bulan lalu adalah rencana licik Nabila, emosinya tak bisa ditahan.
__ADS_1
"Luapkan semua, Nay. Luapkan, jika ini bisa membuatmu tenang," ucap Kennan ingin memeluk istrinya, tapi dengan cepat Kanaya menghindar.
"Iya, aku ingin meluapkan semua! Aku akan mengeluarkan semua sakit hatiku, sampai tak tersisa!" teriak Kanaya.
Kali ini dia tak menghindar saat Kennan berusaha memeluknya lagi, Kanaya malah semakin menangis dan memukul-mukul dada Kennan. "Kalian jahat, apa salahku sampai kalian berbuat seperti ini? Jahat."
"Iya, aku jahat. Memang pantas mendapat hukuman, tapi aku janji Nay, mulai saat ini aku akan selalu membahagiakanmu. Maaf, maaf atas kesalahanku selama ini. Maafkan aku, Nay."
Kanaya tak menjawab, dia terus menangis di pelukkan Kennan. Dia tumpahkan semua tangisnya, sampai beberapa menit kemudian Kanaya memejamkan matanya dan tertidur pulas.
Kennan pandang wajah Kanaya, terlihat sangat kurus, rahang pun sampai terlihat. Mukanya juga pucat pasi, "sungguh aku manusia biadab, bisa-bisanya aku menyakiti wanita sebaik Kanaya. Maaf, hanya itu yang bisa terucap," lirih Kennan terus mengecup kilas bibir istrinya.
Dia tidurkan Kanaya dan menyelimutinya, saat Kennan akan pergi, tiba-tiba Kanaya mengigau seperti orang ketakutan sambil memanggil-manggil papanya.
"Apa setiap malam kamu seperti ini, Nay? Maaf sudah menorehkan luka yang sangat mendalam, kamu pasti merindukan orang tuamu."
Kennan mengurungkan niatnya untuk pergi, dia akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Kanaya. Dia peluk istrinya dan tak lama setelah itu, Kennan ikut terlelap.
...****************...
Emak kembali anak-anak πΆπ§π¦
maaf ya agak telat update, soalnya emak akhir-akhir ini kena revisi dan di hajar habis-habisan editor π
setidaknya emak masih waras setelah di buat oleng, wkkww. Oh ya, emak mau minta dukungan nie, karena mak ikut lomba Kekasih ideal π€£π€£ baca dan jangan lupa komentar ya ππ
Judul : Dikejar Duda
__ADS_1
Author : Goresan Pena