
Kanaya membuka mata secara perlahan ketika merasa seseorang memeluknya sangat erat. Tangannya juga berusaha melepaskan pelukan itu, tapi tak lama kemudian otaknya mulai berjalan.
Mata Kanaya seketika melotot saat sadar seseorang telah memeluknya dari belakang, dengan susah payah dia melepaskan diri dan membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa orang tersebut.
"Kak Kennan!" seru Kanaya amat terkejut. Dia terus berusaha melepaskan pelukan Kennan, tapi bukannya terlepas suaminya semakin erat dan membuatnya menempel rapat.
"Diamlah, Nay. Aku masih mengantuk," keluh Kennan.
"Kak, aku nggak bisa bernafas," lirih Kanaya.
Mendengar keluhan istrinya, Kennan melonggarkan pelukannya dan menatap lembut wajah Kanaya. "Good Morning," sapanya tak lupa mengecup kening Kanaya.
"Pa-pagi." Kanaya jadi gugup mendapat perlakuan seperti ini.
Belum juga kegugupan karena sapaan Kennan mereda, suaminya kini duduk sambil mengelus dan mencium perut buncitnya sambil berkata, "selamat pagi, anak papa."
'Ini benar kak Kennan kan?' batin Kanaya.
"Bagaimana perasaanmu hari ini, anakku nggak membuatmu kerepotan kan?" tanya Kennan.
Mendengar bualan manis Kennan, Kanaya menjadi tersenyum sinis. "Ini termasuk sandiwara kah? Kalau iya, kita sandiwara didepan siapa? Nggak ada orang disini, jangan sok manis," ucap Kanaya sambil menjauhkan tubuh Kennan.
"Nay, kapan kamu percaya kalau aku ini sungguh-sungguh, bukan sandiwara," keluh Kennan.
"Entahlah, tapi untuk percaya aku masih ragu Kak. Bisa saja ini hanya sandiwaramu saja agar bisa mengambil anakku," balas Kanaya tak mau segampang itu percaya. Dengan papanya saja dia masih ragu, apalagi Kennan yang jelas-jelas sekongkol ingin mengambil anaknya setelah lahir nanti.
"Aku akan buktikan jika aku tulus, kamu akan melihat itu Nay."
Tak ada balasan dari Kanaya, dia hanya diam sambil menatap lurus ke arah kaca. Baginya mempercayai seseorang membutuhkan waktu, untuk saat ini Kanaya akan sedikit waspada, berjaga-jaga agar jika semua terbongkar hatinya tak jatuh terlalu dalam.
"Kak, tolong panggil Lusi. Aku mau mandi, badanku terasa lengket semua," minta Kanaya agar terbebas dari pembicaraan ini.
"Biar aku saja yang memandikanmu, ayo aku bantu ke kamar mandi."
Seketika mata Kanaya terbelalak, dia sangat terkejut mendengar ucapan Kennan. Kata-kata itu terlalu membuat jantungnya berdetak kencang, dan membuat Kanaya jadi salah tingkah.
"Nggak mau!" tolak Kanaya.
"Kenapa?"
"Ishh, pokoknya nggak mau. Maunya sama Lusi, panggil Lusi sekarang, kalau Kakak tetap maksa, ya sudah nggak usah mandi sekalian!"
__ADS_1
Kanaya merebahkan tubuhnya lagi sambil menarik selimut, dia bungkus tubuhnya sampai hanya terlihat wajahnya saja. Dalam hati Kanaya sedikit heran, pagi ini dia merasa tubuhnya sangat ringan, berbeda dengan kemarin.
'Ada apa dengan tubuhku? Beberapa hari ini sangat lemas, seperti tak ada semangat hidup, tapi ... ahh, lupakan sekarang aku harus memikirkan cara agar bisa kembali pulang,' gumamnya dalam hati.
Tak lama setelah itu, Kanaya mendengar ada pergerakan di atas ranjang. Kanaya pikir, suaminya akan pergi memanggil Lusi, tapi siapa sangka jika dugaannya salah besar.
Tubuhnya tiba-tiba melayang tinggi ke udara dan dia hanya bisa menjerit 'Ahhh' di dalam selimut, Kanaya benar-benar takut jatuh, apalagi selimut yang dia pakai ikut terbawa oleh Kennan.
"Kak, nanti aku jatuh!" teriak Kanaya bingung mau berpegangan apa, pasalnya tangan Kanaya ada di dalam selimut tebal.
"Kalau kamu diam, nggak akan jatuh. Tapi, jika terus-menerus gerak, jangan salahkan aku jika tangan ini meleset dan menjatuhkanmu dari ketinggian 1 meter."
Deg!
Mendengar kata-kata Kennan, Kanaya menjadi diam seribu bahasa. Dia juga tak berani bergerak, takut jika suaminya tak bisa menahan berat badannya dan itu bisa membahayakan bayinya.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Kanaya ragu-ragu.
"Mau mandiin kamu," bisik Kennan tepat di telinga Kanaya.
Pipi Kanaya seketika merona, dia merasa merinding ketika bulu-bulu halus Kennan menyentuh kulitnya. "Ih, jangan deket-deket. Geli tau," protesnya sambil menyembunyikan wajahnya di dada Kennan.
"Kak!"
"Ya, ya aku nggak akan menggodamu lagi."
Kennan tersenyum puas melihat istrinya begitu malu, entah sejak kapan melihat Kanaya seperti ini membuatnya senang. Dulu, sebelum ada kejadian malam itu, setiap satu minggu sekali Kennan melihat istrinya selalu main ke rumah dan melihat keceriaannya bersama Febrian. Namun, ketika menjadi istrinya, Kanaya tak pernah lagi memunculkan senyuman manis itu.
Semua seakan-akan hilang dan takan ada lagi tawa di hidup istrinya. Kennan juga sadar, semua terjadi juga karena dirinya. Jadi, semua kesalahan ada pada dirinya.
"Nay, Maafkan aku jika selama menjadi istriku, selalu mendapat penghinaan," ucap Kennan tiba-tiba sambil menurunkan istrinya.
"Sudahlah Kak, jangan bahas ini lagi. Aku nggak mau ungkit-ungkit masa lalu," balasnya menjadi murung lagi.
"Maaf."
Kennan pun mengecup kening Kanaya dengan sangat lembut, setelah itu dia membantu istrinya melepas pakaiannya tanpa ragu. Namun, berbeda dengan Kanaya, dia merasa gugup, baru kali ini ada seorang lelaki memperlakukan dia seperti ini.
"Kak, biar aku sendiri," cegahnya ketika Kennan mulai melepas satu-persatu kancing bajunya.
"Biar aku saja," tolak Kennan.
__ADS_1
Tak bisa membantah itulah yang saat ini Kanaya lakukan. Dia hanya diam, ketika Kennan terus melepas semua pakaiannya satu-persatu. Kedua pipi Kanaya juga semakin merah merona, dia benar-benar malu saat ini.
"Perutmu semakin besar, tapi kenapa tubuhmu sangat kurus?" tanya Kennan sambil membelai lembut perut istrinya, bukan hanya perut yang dibelai, tapi juga tulang-tulang kerangkanya yang mulai terlihat karena berat badannya turun drastis.
"Tubuhku memang begini dari dulu, Kak, jangan dilihat lagi nanti kamu jijik," sahut Kanaya berusaha menutupi kekurangannya tapi dicegah oleh Kennan.
"Itu hanya prasangkamu saja, Nay."
"Mulutmu berkata manis, tapi hatimu lain Kak. Mana mungkin kamu nggak jijik, lihatlah tubuhku hanya tinggal tulang dan kulit saja, mungkin sebentar lagi aku akan matβ"
Kanaya tak berhasil meneruskan ucapannya karena Kennan langsung membungkam mulutnya. Kennan melumatt habis bibirnya, dan berusaha menggigit agar dia bisa membuka bibirnya.
"Emm ...." erangnya saat merasa sakit, dia buka bibirnya dan Kennan tak menyia-nyiakan itu.
Merasa tubuhnya didorong mundur, Kanaya reflek mencengkram lengan Kennan. Mereka berdua terhanyut dalam suasana, mata mereka saling memejam dan menikmati setiap kenikmatan yang tiada duanya.
Namun, saat mereka berdua mulai tahap lebih tinggi, tiba-tiba Kennan merasa ada sesuatu mengalir dan membasahi bibir mereka berdua. Mata Kennan seketika terbuka dan begitu terkejut melihat hidung Kanaya mengeluarkan darah.
"Nay!" Kennan menjauhkan tubuh Kanaya dan langsung mendongakkan kepala istrinya ke atas.
"Liat atas terus, kamu mimisan!" seru Kennan panik. Dia berusaha membersihkan sisa-sisa darah yang mengalir di bibir istrinya secara perlahan.
"Kak, jangan panik. Aku biasa seperti ini, nanti juga berhasil."
Mendengar itu, Kennan semakin merasa bersalah. Dia baru tahu kalau istrinya sering mimisan. 'Suami macam apa aku ini, istri selalu menderita tapi aku nggak tau,' batinnya.
"Tetap saja ini bahaya! Kita ke rumah sakit sekarang, aku takut terjadi sesuatu padamu," kata Kennan langsung menggendong Kanaya keluar dari kamar mandi.
"Mandinya bagaimana?"
"Masih mikir mandi! Kesehatanmu lebih penting daripada mandi! Jangan menunduk, mendongak aku bilang mendongak!" bentak Kennan membuat Kanaya patuh.
Melihat suaminya emosi, Kanaya lebih memilih diam dan menurut. Meski dalam hatinya sedikit senang diperlakukan seperti ini, tapi menurutnya Kennan terlalu berlebihan.
...****************...
HAI KEMBALI LAGI DENGAN EMAK π€£π€£
GIMANA-GIMANA? MAU BERKOMENTAR NGGAK, OH YA EMAK MAU TANYA. KALIAN PERNAH ADA LIAT AKU NYEBUT ORANG TUANYA NABILA NGGAK? KALAU ADA TOLONG KOMENTAR YA, SOALNYA EMAK HABIS KEHILANGAN DATA-DATA KERANGKA π€¦ββοΈπ€¦ββοΈ Pokoknya love you sak kebon
__ADS_1