Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 21


__ADS_3

Satu bulan pun berlalu begitu cepat, kondisi Kanaya semakin hari semakin menurun. Sekarang dia tak bisa berjalan sendiri, melakukan apapun harus memakai kursi roda. Kennan yang melihat nya saja merasa sakit, dia juga mulai menyesali perbuatannya ketika mengetahui istrinya hamil.


Setiap hari, Kennan harus bolak-balik melihat Kanaya juga Nabila. Meski kondisi Nabila naik turun, tapi dokter juga masih menganjurkan untuk mencari pendonor. Sedangkan, mencarinya sangat sulit. Bahkan, orang yang sudah meninggal saja keluarganya tak merelakan jika organ tubuhnya diambil.


"Kak ...."


Kennan yang sedang melamun pun menoleh ke arah Kanaya. "Kamu sudah bangun, Nay. Mau apa? Biar aku ambilin," balas Kennan sambil menggenggam erat jemari-jemari istrinya.


"Kenapa Kakak ada disini? Kak Nabila nanti mencarimu, dia sedang sakit juga kan. Jadi, jangan keseringan kesini." Kanaya malah membahas hal lainnya.


"Aku baru saja datang, Nay. Dari kemarin aku belum kesini, jadi —"


"Kak, aku nggak mau dikasihani. Semenjak Kakak tau penyakitku, perubahan sikapmu berubah. Bersikaplah seperti dulu, di mana aku ini hanya istri yang tak diinginkan. Jika kamu seperti ini terus, rasanya akan berat untuk mengikhlaskan semua," ucap Kanaya menyuarakan isi hatinya.


Jujur saja, semenjak satu bulan ini Kanaya merasa Kennan terlalu perhatian padanya. Meski sangat singkat waktu mereka bertemu, tapi hatinya bergetar saat suaminya perhatian. Dari sinilah, timbul rasa tak rela melepaskan. Tapi, Kanaya juga tak bisa mengubah takdir.


"Nay, aku nggak pernah mengasihanimu. Ini tulus dari hatiku, bukan karena kasihan," sangkal Kennan.


"Kalau begitu, bisa bawa aku pulang Kak? Disini yang sakit sebenarnya kak Nabila bukan, tujuan kita ke sini untuk Kak Nabila, jadi tolong bawa aku pulang. Disini semakin membuatku stres, kumohon." Mata Kanaya mulai mengeluarkan air mata.


Dia sangat memohon pada Kennan agar dia dibawa pulang, Kanaya tak mau terlalu lama di rumah sakit. Semakin lama dia disini, dokter-dokter itu akan selalu memberikan obat yang bisa membahayakan anaknya.


"Nay, kamu belum sehat sepenuhnya."


"Kakak bawa aku pulang!" Tangisannya pun semakin pecah, dia tak mau lagi ada di rumah sakit.


"Tapi, Nay."


"Kak, pegang perutku. Rasakan pergerakannya, apa kamu tega membuat dia tersiksa. Setiap obat yang masuk dalam tubuhku, pasti akan mempengaruhi dia, apa kamu mau memiliki anak tak sempurna!" Kanaya seperti menggebu-gebu.


Semua gara-gara kejadian beberapa jam lalu, dia sengaja pura-pura tidur ketika dokter masuk. Di situ Kanaya mendengar jika dokter memasukkan obat-obatan khusus penyakitnya, bukan untuk kekebalan tubuhnya.


Bahkan, dia juga mendengar jika anaknya sangat kuat. Biasanya bayi akan mati di dalam kandungan, jika ibunya terlalu banyak mengkonsumsi obat keras. Awalnya dia sangat merasa bersyukur, tapi ketika seorang suster mengatakan

__ADS_1


'TAPI KITA TIDAK TAHU NANTINYA DOK, BIASANYA BAYI AKAN TERLAHIR TIDAK SEMPURNA KARENA EFEK SAMPING OBAT INI. SEMOGA SAJA DUGAAN SAYA SALAH."


Disitulah hati Kanaya sangat hancur, pikirannya benar-benar campur aduk bagaikan bubur ayam. Dia tak mau sampai anaknya terlahir tak sempurna, apalagi sampai mendapat Body Shaming dari orang-orang.


"Maksud kamu apa, Nay?"


"Ck! Dari awal kamu tau kan, Kak, kalau mereka melakukan pengobatan padaku?" Kennan mengangguk, dia jujur karena dia yang mengiyakan usul dari dokter.


"Apa kamu tau, pengobatan yang berlangsung bisa mencelakai janin?" Kennan pun tercengang mendengar pertanyaan Kanaya, dia tidak tahu tentang ini. Dia pikir saran dokter tak akan membahayakan siapapun.


"Kenapa diam, Kak? Asal kamu tau, aku memutuskan untuk menikah denganmu selain alasannya biar Kakak bisa merasakan memiliki anak, tapi juga karena Papa diam-diam melakukan pengobatan sehingga membuat aku hampir keguguran! Sekarang terulang lagi, tapi yang melakukan suamiku sendiri!"


Duar!! Seketika Kennan menarik tangannya pada perut Kanaya, dia sungguh tidak tahu efek dari pengobatan ini. Yang Kennan tau, hanya ingin Kanaya sehat kembali, tapi dia tak berpikir keputusannya akan mempengaruhi anaknya.


"Nay, aku nggak tau akan hal itu. Sumpah, dokter hanya bilang semua ini yang terbaik, agar kamu bisa kembali pulih," ucap Kennan.


"Sekarang sudah tau kan, Kak? Tolong bawa aku pulang saja, biarkan aku di rumah. Kakak lebih baik fokus pada kak Nabila, aku yakin bisa bertahan sampai anak ini lahir tanpa melakukan pengobatan.


***


"Kamu sudah menelpon, suamiku?" cetus Nabila.


"Sudah, Bu. Tapi tidak diangkat, sama pak Kennan," balas Lusi.


"Lama sekali sih, Kennan sebenarnya lebih mementingkan siapa sebenarnya! Kita kesini katanya mau berobat, tapi ...."


"Maaf, Bu, tapi nona Kanaya juga sakit. Jadi saya rasa itu wajar, jika pak Kennan memperdulikan istrinya, bagaimanapun Non Kanaya statusnya juga istri pak Kennan, sah sah saja jika beliau mencoba adil," kesal Lusi.


Sungguh, dia ingin sekali mencongkel mulut Nabila. Sedari Tadi Lusi mendengar Nabila menghina Kanaya, sebab itulah dia berani berkata saat ini.


"Berani sekali kamu! Ingat kamu itu hanya pembantu, jangan sok sok mengurusi rumah tanggaku!" seru Nabila tersulut emosi bahkan fokusnya teralihkan pada Lusi. Nabila memutar kursi rodanya agar berhadapan dengan Lusi, setelah itu dia tatap tajam dan seperti ingin membunuh Lusi.


"Saya memang hanya seorang pembantu, tapi saya tak terima jika majikan saya selalu di hina! Jika ibu tahu pengorbanan Non Kanaya, pasti mulut anda tidak akan berani menghinanya!"

__ADS_1


Nabila menjadi tersulut mendengar ucapan Lusi, dia berdiri dari atas kursi roda dan mendekati Lusi. "Kebaikan apa maksudmu, Ha?! Dia hanya benalu bagiku, Kanaya dimataku tetap seorang pelakor yang merebut suamiku. Jika bukan karena anaknya, aku nggak sudi dimadu!" teriak Nabila sambil menjambak rambut Lusi.


Lusi hanya diam, dia tak mau membalas. Lusi biarkan Kennan melihat semua, dia memang sengaja menyulut emosi Nabila agar Kennan tahu bagaimana sikap istri pertamanya itu.


"Dengarkan aku, Lusi. Setelah Naya melahirkan, anaknya akan aku ambil dan dia akan dibuang Kennan. Karena sampah sampai kapanpun akan tetap jadi sampah, dan kamu tau kan sampah tempatnya dimana?" Nabila terlihat sangat pede sekali mengatakan itu semua, sebenarnya Lusi ingin meremass mulut itu, tapi dia tahan.


"Oh ya satu lagi, semua kejadian ini adalah ulahku. Aku yang menjebak Kanaya agar tidur dengan Kennan, karena dari awal aku sudah mengetahui rencana busuk mertuaku dan aku juga menyabotase Febrian agar telat pulang. Jadi —"


"Nabila!!"


Deg!!


Jantung Nabila pun berpacu sangat kencang saat mendengar suara Kennan. Perlahan-lahan dia menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya dia, melihat ada Kanaya di sana.


"Ma-mas, ini semua —"


"Jadi seperti ini? He he he, kok bisa ya aku nggak menyadari semua ini. Memanfaatkanku, terus menghinaku. Ku kira kak Nabila orang baik, tapi ternyata ...." Kanaya tersenyum miris, sungguh sakit sekali hatinya.


Dalang di balik malam kelam yang dia alami ternyata sebuah rencana jahat dari Nabila, mereka semua seakan-akan merasa tertipu dengan kepolosan Nabila. Selalu terlihat mengalah dan lapang dada, tapi ternyata iblis.


"Aku nggak menyangka kamu melakukan ini, Bil. Apa sedikitpun kamu tak pernah berpikir, bagaimana sakitnya jadi Kanaya?" tanya Kennan.


"Aku juga sakit, Mas. Aku berusaha tegar merencanakan semua itu, awalnya aku kira semua rencanaku gagal, ingin sekali aku mencari tau tapi takut belum bisa menerima kenyataan. Sampai akhirnya aku melupakan semua, anggap saja itu hanya mimpi. Tapi ...." Nabila menghentikan ucapannya sejenak.


"Tapi, saat kamu mulai terlihat aneh. Karena baru pertama kalinya terlihat mengabaikanku, disitu aku mencoba mencari tau. Kamu tau apa yang ku rasakan, sakit Mas, sangat sakit. Rencana yang awalnya kupikir gagal ternyata berhasil dan jantungku nggak kuat melihat semua itu," ucap Nabila tersedu-sedu.


Dia sangat menyesal sebenarnya, tapi nasi sudah menjadi bubur dan Kanaya juga terlanjur hamil. Dia berusaha menerima, tapi malah semakin menggerogoti hati, jiwa juga raganya.


"Kalian semua jahat! Aku mau pulang Lusi telepon papa suruh menjemputku pulang. Aku nggak mau disini lagi, cepat!" teriaknya sangat gemetar.


Lusi mengiyakan permintaan Kanaya, dia mengambil alih pegangan kursi rodanya dan menyuruh Kennan menyingkir.


"Kamu, belum boleh pergi!!"

__ADS_1


...****************...


Random sekali ya episode kali ini buk 😁😁


__ADS_2