
"Mau sampai kapan kamu menatapku, Kak?" Protes Kanaya ketika Hans terus menatapnya penuh cinta dan kasih.
"Sampai aku bosan," balas Hans. "Tapi, rasanya aku nggak akan bosan memandang wajahmu," sambungnya.
"Ish, gombal banget kamu. Umur Kakak sudah nggak muda lagi, jangan aneh-aneh," kesal Kanaya.
Jujur, dia sangat malu jika ditatap seperti ini. Rasa salting nya benar-benar tinggi, apalagi Hans tak berpaling sedikitpun dari satu jam lalu.
"Kamu tau, Nay. Rasanya seperti mimpi aku bisa bersatu lagi denganmu, setelah mengetahui jika kamu sudah menikah rasanya aku sangat hancur. Tapi, setelah ku selidiki ternyata pernikahan itu selalu membuatmu terluka. Mulai saat itulah aku —"
"Mulai menghancurkan sedikit demi sedikit keluarga kak Kennan? Iya kan, Kak?"
Deg!
Hans merasa sangat dejavu mendengar ucapan Kanaya yang menurutnya sangat mengejutkan dirinya. Dia melakukan semua secara diam-diam dan baru diketahui oleh calon mertuanya, tapi kenapa sekarang Kanaya juga tahu akan hal itu.
"Nay ...."
"Aku tau kok, Kak. Terima kasih sudah membantuku membalas semua perbuatan mereka, tapi aku rasa cukup sampai disini. Biarkan mereka hidup tenang dan jangan pernah ada dendam di hati Kakak," ucap Kanaya terus menggenggam erat telapak tangan Hans.
"Apa karena kamu masih mencintainya Nay, Sebab itu menyuruhku menyudahi semua?" tanya Hans penuh kekecewaan.
"Nggak ada hubungannya dengan perasaan cintaku pada Kak Kennan, semua murni karena kemanusiaan. Memang mereka sangat jahat, tapi kejahatan tak harus dibalas dengan kejahatan, Kak." Kanaya mencoba meyakinkan Hans.
__ADS_1
"Tapi perbuatan mereka sangat kejam, Nay! Ketika aku mengingat semua perlakuan mereka, rasanya darahku mendidih!" seru Hans.
Entahlah, jika mengingat laporan orang suruhannya rasa marah itu langsung muncul bahkan selalu menggerogoti hati Hans.
"Kakak mau kan menikah denganku dan hidup bahagia bersama Aileen?" tany Kanaya.
"Mau, ini yang aku inginkan Nay. Hidup bahagia bersamamu dan Aileen, tanpa ada penghalang sedikitpun," balas Hans cepat. Memang ini yang dia inginkan dari dulu, bisa menikahi tambatan hatinya.
"Maka lepaskan kebencian itu, Kak. Aku ingin menikah jika hati Kakak sudah bersih dari dendam, jika rasa itu belum hilang maka aku akan —"
"Oke, oke aku akan mencoba melepaskan semua dendam itu. Tapi, aku mohon jangan pernah mengatakan hal yang membuat kita batal menikah, jangan Nay," ucap Hans langsung memeluk erat Kanaya.
Dia tak mau kehilangannya lagi, cukup sudah lebih baik Hans mengalah daripada harus berdebat.
"Bohong, buktinya itu kamu bilang akan ... eh, belum tau sih kelanjutan tapi aku yakin kamu pasti mengancamku akan membatalkan semua pernikahan kita," balas Hans masih tak mau melepaskan pelukannya pada Kanaya.
"Dih, su'udzon banget kamu, Kak. Aku tuh nggak mau calon suamiku memiliki dendam di hati, lebih baik kita fokus pada urusan kita daripada susah-susah balas dendam," ucap Kanaya sambil mencubit gemas pipi Hans.
"Tapi Nay, aku ingin kamu jujur sekali saja. Apa kamu bisa?" tanya Hans sangat serius.
"Apa? Jika gampang akan langsung ku jawab, tapi ...."
"Apa kamu masih mencintai, Kennan?"
__ADS_1
Hans langsung memotong perkataan Kanaya. Bukan dia ingin mengingatkan rasa cinta itu, tapi dia ingin tau semua sebelum mereka benar-benar menikah.
"Apa harus di jawab, Kak?" tanya Kanaya menjadi muram.
"Lupakan saja, jangan diteruskan. Aku nggak mau karena pertanyaan ini wajah cantikmu menjadi muram, lebih baik kita bahas yang lain." Hans langsung mengurungkan niatnya.
Semua sudah terjawab dari mimik wajah Kanaya, jadi dia cukup tau apa jawaban dari pertanyaannya tadi.
"Jawabnya tidak!" seru Kanaya.
Sontak Hans tercengang mendengar jawaban Kanaya. Dia pikir pertanyaan tak akan pernah dijawab, tapi dugaannya salah. "Nay," lirih Hans sambil menggenggam jemari-jemari Kanaya.
"Dulu, memang aku akui sempat memiliki rasa cinta pada kak Kennan. Janji-janji manisnya selalu membuatku terbuai, sampai hari itu datang. Hari dimana aku sangat menantikannya, tapi kata talak yang ku dapat." Air matanya pun bercucuran ketika menceritakan perasaannya.
"Mulai detik itu juga, perasaan cintaku hilang. Merasa duniaku hancur, dan menjadi gelap tak berwarna sama sekali, sampai akhirnya aku terbangun di enam tahun kemudian. Semua hilang, tak ada perasaan apapun untuk lelaki itu." Isak tangis Kanaya semakin terdengar pilu.
Hans tak tega, dia segera memeluk Kanaya sangat erat sambil berkata, "menangislah jika itu membuatmu tenang, buang semuanya Nay. Teruslah menatap kedepan, aku selalu ada untukmu. Jangan takut lagi," ucap Hans.
"Terima kasih sudah mau menerima wanita sepertiku, Kak. Terima kasih," lirih Kanaya membalas pelukan Hans. Terasa nyaman sekali, seperti pelukan papanya dan Kanaya semakin menangis.
"Sama-sama, Nay."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1