
Suasana di rumah terlihat sangat ramai, hari ini Hans sengaja mengadakan pesta pertunangan untuknya dan Kanaya. Setelah mempersiapkan semua sendiri, akhirnya hari yang dia tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Awalnya Hans bingung mau mengatakan seperti apa pada Kanaya, tapi perlahan-lahan dia menjelaskan bahwa semua ini demi mewujudkan impian Kanaya yang tak pernah terjadi semasa bersama Kennan.
"Kak, kamu ada-ada saja sih! Aku ini sudah tak secantik dulu, untuk berdiri saja sulit, ditambah rambutku sangat jelek," protes Kanaya saat Hans memaksanya ikut bersama team tata rias ke dalam.
"Kamu itu cantik, jangan pernah merendahkan diri sendiri. Masalah rambut bisa pakai wig dan acara pun bisa terlaksana meski pakai kursi roda," balas Hans tak mau diganggu gugat.
Kanaya hanya bisa mengerucutkan bibirnya, tak lama setelah itu Aileen datang dan menghambur ke pelukan Hans. "Papa, Mama kenapa cemberut?" tanya Aileen sangat menggemaskan.
"Mama menolak untuk di make-up Sayang, katanya Mama jelek jadi nggak mau," adu Hans dan Aileen pun menatap garang ke arah Kanaya.
"Mama nggak boleh bilang seperti itu ya. Kata Papa kita harus menghargai diri sendiri, jadi nggak boleh bilang jelek, Mama itu cantik, iyakan Pa?" Aileen begitu menggemaskan saat menegur Kanaya.
Semua orang terpukau mendengar penuturan bocah itu, jarang sekali anak seusia Aileen bisa mengingat semua nasehat orang tuanya, kebanyakan anak pasti selalu lupa jika diberi nasehat.
"Iya dong, Sayang." Hans jadi gemas sendiri melihat anaknya.
"Tuh, Ma. Sekarang mama di sulap dulu ya biar tambah cantik, Aileen sama Papa tunggu diluar," ucap Aileen.
Kanaya pun hanya bisa menurut dan pasrah saja. Sedangkan Hans lebih memilih keluar bersama Aileen, untuk menyambut semua tamu-tamu yang diundang.
__ADS_1
Terlihat sekali Aileen sangat bahagia, dia terus loncat sana-sini menyambut semua tamu. Hingga tak lama setelah itu, semua orang terdiam ketika melihat seorang wanita keluar dengan gaun indah dan riasan wajah sangat natural sehingga membuatnya bertambah cantik.
"Kamu sangat cantik, Sayang." Hans sampai tak bisa melunturkan senyumannya, berkali-kali dia coba untuk biasa saja tapi tak bisa. Hatinya terlalu berbunga-bunga merasakan kebahagiaan yang lama dinanti-nanti.
"Aku malu, Kak." Kanaya sampai tak berani menatap seluruh tamu.
"Jangan malu, Sayang. Sekarang ayo kita ke sana, semua orang sudah menunggu kita untuk melangsungkan tukar cincin."
Kanaya mengangguk mengiyakan perkataan Hans. Setelah itu Hans mendorong kursi rodanya menuju kerumunan, banyak sekali orang yang memujinya tapi ada juga yang menggunjingkan dia.
Samar-samar Kanaya mendengar mereka menyayangkan keputusan Hans, yang ternyata lebih memilih hidup dengan wanita penyakitan dan cacat daripada wanita sehat nan normal.
Awalnya dia sakit hati ingin mengurungkan semua, tapi melihat tatapan haru keluarga serta Hans, membuat Kanaya semakin yakin keputusannya ini sudah benar.
"Jangan lanjutkan ini, Nay! Aku mohon, jangan!" serunya penuh permohonan pada Kanaya.
"K-kak Nabila!" Kanaya sampai memegang dadanya karena terkejut bisa melihat mantan madunya dulu.
"Penjaga!" teriak Hans sangat tak suka melihat kehadiran Nabila, dia bahkan menatap tajam ke arah Nabila.
"Siap Tuan!"
__ADS_1
"Usir orang ini, dia tamu tak diundang bagaimana bisa masuk! Siapa yang meloloskannya, langsung pecat!" serunya sangat murka.
Hans benar-benar marah, di hari bahagianya dia harus merasakan kekesalan karena Nabila merusak semua.
"Nay, jangan lakukan semua ini Nay! Kamu masih menjadi istrinya Kennan, bisa-bisanya kamu berbahagia sedangkan Kennan terbaring koma di rumah sakit," teriak Nabila saat pria bertubuh kekar menyeretnya pergi dari hadapan Kanya.
"Naya, kamu keterlaluan Nay—"
"Diam! Aku bilang diam, jangan terus menyalahkanku. Kalian yang jahat, bukan aku!" teriak Kanaya membuat semua orang tercengang.
Baru kali ini mereka melihat Kanaya marah besar sampai tubuhnya sendiri bergetar hebat. Hans pun tak tinggal diam, dia langsung memeluknya dan berusaha menenangkan Kanaya.
"Rileks, Nay. Ada aku, semua akan baik-baik saja." Setelah itu, Hans melotot ke arah Nabila.
"Belum berubah juga kalian ya? Ternyata peringatan dariku sama sekali tak membuat sikap egoismu hilang dan menyadari semua kesalahan, dari awal kamu sudah tau kan, kalau Kennan telah menceraikan Kanaya?" Hans mengatakan semua sambil menatap tajam Nabila.
"Meskipun belum selesai karena harus mengurus hal penting, tapi mereka berdua sudah bukan suami-istri lagi. Pengacaraku akan mengurus hal ini nanti, jadi kamu jangan coba-coba memprovokasi Kanaya atau menyalahkannya!" seru Hans sambil memberikan sinyal agar para penjaga menyeret Nabila pergi.
Teriakkan demi teriakkan Nabila pun tak Kanaya pedulikan, yang dia ingat hanya rasa sakit ketika mereka melukai hatinya. Bahkan setelah kepergian Nabila, dia langsung menjerit di pelukan Hans.
"Menangislah, luapkan semua kekesalanmu dan setelahnya jangan pernah mengingat itu lagi. Ada aku sekarang, kebahagiaan menantimu buang masa lalu, Nay."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...