
Kanaya menggeliat pelan saat cahaya matahari mulai mengganggu tidurnya, sejenak dia membuka mata dan menatap lurus ke arah jendela. Namun, tak lama setelah itu dia merasa sebuah tangan mereemass lembut salah satu gunung kembarnya.
"Selamat pagi, Sayang," lirih Hans. Dari suaranya terlihat seperti orang kelelahan, sehingga membuat Kanaya menoleh kebelakang.
"Kak, apa kamu nggak tidur semalam? Kok lingkar matamu menghitam," ucap Kanaya sambil menelisik wajah suaminya.
Hans tak menjawab, dia jadi ingat kejadian semalam di mana matanya tak bisa terpejam karena menahan hasrat tinggi yang tak pernah terasa selama bertahun-tahun. Sekalinya menjulang, Hans tak bisa menuntaskan semua.
"Kak, kok diam sih!" kesalnya karena Hans masih saja diam.
"Nay, besok-besok jangan pakai baju ini lagi ya. Pakai baju tidur biasa saja, agar mataku ini bisa fokus tidur," kekeh Hans. Meski sangat mengantuk, tapi dia akhirnya mendudukkan dirinya dan bersiap-siap turun menyapa seluruh keluarganya.
"Memang apa yang salah?" Pikir Kanaya. Tapi, merasa di tinggal dia segera mengikuti suaminya itu masuk ke dalam kamar mandi.
Didalam, Hans dibuat terpana lagi. Lele berkaratnya pun mulai menjulang lagi, namun sayangnya Hans harus bertahan. 'Kamu ini malu-maluin, bertahun-tahun kamu tidur kenapa sekali bangun sensitif banget sih!' maki Hans pada burung tak berakhlak nya.
Namun, tanpa Hans sadari sedari tadi Kanaya mengamati kegelisahan suaminya itu. Disini Kanaya baru paham apa masalah Hans, ketika melihat celana boxer suaminya mengembang sempurna.
"Biar aku bantu." Tanpa aba-aba, Kanaya langsung melorotkan celana Hans sampai benda tak bertulang itu nampak sempurna di depan mata Kanaya.
'Woohh besar!' jerit Kanaya dalam hati.
"Nay, kamu mau apa?" Hans berusaha menaikan celananya, tapi Kanaya terlebih dulu memegang lele berkata suaminya.
"Biar aku bantu, Kak. Katanya nggak berani menyentuhku, jadi lebih baik seperti ini. Nanti aku yang dosa karena membiarkan suamiku tersiksa," jelas Kanaya.
__ADS_1
Hans tak menjawab, dia hanya bisa diam sampai akhirnya Kanaya mulai membelai lembut dan memainkan lele berkaratnya. Hans memejamkan matanya menikmati semua, bibirnya mulai meracau tak kala Kanaya menciumm puncak kepala lele.
"Naya cukup!" Hans mencegah istrinya melahap Lele berkaratnya, tapi dia kalah cepat dan rasa hangat mulai membaur menjadi satu. Tubuh Hans oleng ke belakang sampai bersandar di wastafel, dia menikmati semua itu sampai dua puluh menitan.
Hans merasa dirinya akan meledak, tanpa sadar tangannya memegang kepala Kanaya dan mendorongnya kuat. Namun, di tengah-tengah ketidakwarasan Hans masih memikirkan kondisi Kanaya. Dengan cepat Hans menjauhkan istrinya, sehingga lele berkaratnya keluar begitu saja dari mulut Kanaya.
"Kenapa?" Kanaya terlihat amat polos bertanya kenapa pada Hans.
"Aku mau keluar!" Dan perasaan plong pun Hans rasakan ketika benih-benih kecebong miliknya, tumpah sangat banyak di atas lantai. (Aaaahhh, kenapa aku bisa segila ini 🙈🙈)
***
Kanaya menatap bingung pada keluarganya, pasalnya sedari tadi mereka terus tersenyum ke arahnya dan sesekali juga mereka menyindir dengan kata-kata ambigu bagi Kanaya. Rasa risih mulai terasa begitu dalam, namun Kanaya tak bisa pergi begitu saja sebelum makanannya habis.
"Ada yang aneh kah di wajahku? Kenapa kalian terus menatapku seperti ini," kesalnya berakhir mengeluarkan semua uneg-uneg nya.
Bukannya marah, tapi mereka sangat senang karena Kanaya kembali seperti dulu, ceria, cerewet, sekaligus ketus. "Sekarang kamu balik setel pabrik, Nay. Judes banget jadi wanita." Ledek Abian.
"Ish, apaan sih Kak!" seru Kanaya. "Oh ya, Aron mana?" Sambungnya.
"Aron sama mbak Lusi juga Aileen, dia sangat senang bersama Aileen, tapi sayang sebentar lagi mereka berpisah," jawab Abian.
"Kak, Aron sepertinya butuh sosok Ibu, apa Kakak nggak ingin mencari pengganti kak Mika? Sudah lima tahun, apa —"
"Aku masih menunggunya, Nay. Sampai kapanpun hanya Mikayla yang pantas menjadi istriku."
__ADS_1
Kanaya hanya diam, dia tak bisa berbuat apa-apa sekarang meski Anne memaksanya untuk membujuk Kakaknya. Suasana juga mendadak jadi canggung, tak ada yang berani bersuara lagi sampai akhirnya Lusi datang menghampiri mereka.
"Nyonya, di luar ada Bu Rita. Kami sudah mencoba mengusirnya, tapi beliau kekeh ingin bertemu Nyonya," ucap Lusi membuat suasana semakin tegang.
Hans, Abrian, maupun Abian langsung menggebrak meja ketika tau Rita datang. Mereka sudah sangat muak, sehingga malas sekali jika wanita tua itu datang dan merusak semua kebahagiaannya.
"Mau apa lagi dia! Belum puas membuat Kanaya menderita, masih ingin membuat onar lagi!" seru Abrian.
"Jangan biarkan dia masuk, jika terus memaksa maka aku yang akan menghadapinya," ucap Abian.
"Sayang, lebih baik kamu masuk kedalam, jangan sampai keluar dan bertemu orang itu. Biar kita yang urus." Hans berusaha menenangkan hati Kanaya, tiba-tiba ucapan Andreas kembali terngiang jika Kanaya harus dijauhkan dengan manusia semacam Rita.
"Aku nggak mau bertemu dia lagi, Kak. Usir saja, aku membenci mereka," lirih Kanaya.
Ketiga lelaki itu mengangguk pasti, karena tak ingin semakin di ganggu Abrian, Abian dan Hans memilih keluar dan menghadapi Rita.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Mereka secara bersamaan.
"Aku ingin bertemu Kanaya, ada hal penting yang harus ku katakan," balas Rita sangat memohon. Penampilannya saat ini sangat acak-acakan dan mereka bertiga juga sedikit tercengang melihatnya.
"Kanaya nggak mau berurusan lagi denganmu, jadi jangan ganggu dia lagi," ucap Abrian.
"Tolong izinkan aku bertemu dengan Kanaya, aku hanya ingin meminta maaf dan —"
"Pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali lagi, cukup sudah kamu membuat istriku menderita, sekarang jangan harap mendapatkan maaf dari Kanaya."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...