Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 50


__ADS_3

"Kak, ayo kita segera menikah. Jangan tunda-tunda lagi, kalau bisa dalam minggu ini kita harus resmi menjadi suami-istri," celetuk Kanaya setelah perasaannya sedikit tenang.


Butuh beberapa jam baginya untuk melupakan kejadian tadi, dimana Nabila datang dan langsung menyalahkan dirinya.


"Jika itu yang kamu mau, maka ayo. Lebih cepat lebih baik," balas Hans sambil membelai lembut puncak kepala Kanaya.


Kanaya tak bisa tersenyum sama sekali, yang dia lakukan hanya bisa diam dan langsung memeluk erat Hans. "Aku takut, Kak."


"Rileks, Nay. Semua pasti baik-baik saja, jangan takut, dia tak akan bisa berbuat apa-apa, yakin dengan perkataan ku," ucap Hans seakan-akan tau perasaan Kanaya seperti apa saat ini.


Jujur, Hans juga takut. Bukan takut kehilangan Kanaya, karena dia tau Kanaya tak akan mungkin kembali pada Kennan. Tapi, yang dia takutkan saat ini adalah kehilangan Aileen.


Aileen bukan darah dagingnya, bahkan Kennan bisa sewaktu-waktu mengambil Aileen. Secara hukum dia sama sekali tak berhak, tapi jika diingat-ingat Aileen adalah anak di luar nikah jadi Hans memiliki sedikit harapan.


Meski hukum agama Kennan tak memiliki kewajiban, tapi hukum negara berbeda. Jadi, Hans masih sangat waspada akan hal ini.


"Aileen mana, Kak?" Kanaya seakan-akan baru ingat akan anaknya.


"Dia bersama papa tadi." Hans juga sedikit khawatir, "sebentar, aku cari dia dulu," sambungnya.


Hans bergegas berdiri, tapi belum juga dia pergi seseorang tiba-tiba masuk dan mendorong pintu kamarnya secara paksa.


Brakk!

__ADS_1


"Hans, Aileen hilang!"


"Apa!" Hans benar-benar shock, sedangkan Kanaya langsung pingsan mendengar kabar Aileen hilang.


Tubuhnya terlalu lemah, belum selesai keterkejutannya akan kedatangan Nabila, sekarang Aileen hilang.


"Naya, bangun!" Hans sangat panik, dia takut ketika Kanaya tak ada respon sedikitpun.


Begitu juga semua orang, mereka sangat panik melihat Kanaya pingsan sehingga fokus mereka pada Kanaya.


Sedangkan di sisi lain, Santi — Babysitter anak Abrian terus berlari menghindari penjagaan ketat dari bodyguard Hans sambil menggendong Aileen yang tertidur lelap karena obat tidur.


Ini memang rencananya dengan Nabila, majikannya itu sengaja mengecoh perhatian semua orang agar dia bisa membawa Aileen keluar dari rumah itu.


Setelah berhasil keluar, barulah dia membawa Aileen yang saat ini masih tertidur. Mereka janji temu di bandara, semua tiket, bisa dan lain-lain sudah dia urus jauh-jauh hari.


"Nyonya!" Santi berteriak penuh ketakutan pada Nabila yang saat ini tengah menunggu di dalam mobil.


"Lama sekali kamu, San!" serunya ikut panik, bahkan Nabila segera membuka pintu mobilnya agar Santi segera masuk.


"Penjagaannya sangat ketat, jadi saya harus bersembunyi terlebih dulu, Nyonya," kata Santi.


"Sudahlah, yang penting sekarang kita sudah terbebas dari mereka," ucapnya langsung melirik bocah kecil dalam gendongan Santi.

__ADS_1


Nabila merasa sangat penasaran dengan wajah Aileen, seperti apa dia dan bagaimana rupanya. Hatinya terasa gemetar sekaligus tak menyangka, jika semua ini nyata.


"Boleh aku gendong dia?" Suara Nabila sangat parau. Jujur saja, matanya kini mulai berkaca-kaca. Rasanya ingin menangis, tapi Nabila tahan agar Aileen tak terbangun.


"Boleh, Nyonya."


Santi pun memberikan Aileen pada Nabila, dengan perlahan pun Nabila menggendong Aileen sampai akhirnya kini sudah ada dalam pelukannya.


"Ini anak mas Kennan?" Nabila seakan-akan tak percaya.


"Iya Nyonya, namanya Aileen dia sangat cantik sekali, Nyonya lihat saja sendiri," kata Santi.


Seketika Nabila menatap ke bawah, air mata mulai mengalir dan tak bisa ditahan lagi, dengan perlahan dia membuka kain penutup wajah Aileen dah segera melihat wajahnya.


Sungguh, Nabila langsung tersedu-sedu ketika melihat wajah mungil nan cantik Aileen, ternyata benar kata Santi, Aileen terlihat sangat cantik dan lebih mengejutkan wajahnya sangat mirip dengan Kennan.


"Dia seperti duplikat, Mas Kennan."


Santi melihat majikannya terus menangis hanya bisa berusaha menenangkan, tak lama setelah itu mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di bandara.


Tanpa menunggu waktu lama, Nabila serta Santi masuk kedalam. Ada rasa takut di cegat oleh pihak bandara, tapi ternyata semua berjalan lancar sampai pesawat lepas landas.


'Maafkan aku, Naya. Hanya cara ini yang bisa aku lakukan agar kamu mau kembali ke indonesia dan bertemu Kennan, maaf jika sikapku terlalu egois, maaf.'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2