Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 13


__ADS_3

Kennan dan Nabila kini datang ke rumah sakit sambil membawa seorang ustadz, mereka akan melakukan pernikahan malam ini juga di rumah sakit tanpa mengulur waktu sebelum Kanaya berubah pikiran. Bahkan mereka juga tak memberi kabar pada Asloka, masalah diterima atau tidaknya semua ada di tangan Kanaya.


"Sayang, coba fikirkan ulang semua ini," keluh Kennan ketika mereka sudah dekat di ruang rawat Kanaya.


"Nggak perlu dipikirkan lagi, ini sudah bulat dan kamu sudah berjanji Mas," tolak Nabila mentah-mentah.


Mendengar keputusan mantap dari istrinya, Kennan menjadi lesu. Dia tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti ketika Kanaya masuk ke dalam rumahnya, pasti Nabila akan selalu merasa tersakiti dan Kennan sebenarnya tak mau sampai itu terjadi.


"Mas, kita sudah sampai loh. Kalau mereka tanya kamu harus jawab yang tegas, kalau sampai meleset. Hari ini juga aku minta cerai," ancam Nabila semakin menjadi.


Kennan tak tau kenapa istrinya jadi sejahat ini pada dirinya, hanya karena takut perjodohan yang dilakukan mamanya, Nabila menjadi sosok lain, lebih Agresif dan egois. (Sama kayak loe ******! 😑)


Kini mereka bertiga sudah sampai di depan kamar inap Kanaya, dia sana sudah jelas pasti ada tiga pahlawan Kanaya siapa lagi jika bukan Asloka, Abrian dan Abian. Mereka bertiga selalu siap siaga menjaga Kanaya, sampai rela meninggalkan pekerjaan masing-masing.


"Mau apa kalian kesini? Belum puas kah menghina adikku dan kenapa juga ada pak ustadz Musthafa," tanya Abrian.


"Mas Brian, kita bertemu lagi," sapa Ustadz Musthafa.


"Kamu kenal dengan ustadz Musthafa, Brian?" tanya Asloka.


"Iya, Pa. Anu —" Abrian hanya bisa garuk-garuk kepala, bingung mau bicara seperti apa.


"Mas Brian ini yang mau ta'aruf sama adik saya, Pak. Baru saja kemarin? Mas Brian menyampaikan niatnya," kata Ustadz Musthafa sampai membuat Abrian malu.


"Apa! Ingin ta'aruf?" Asloka menatap puteranya dengan sangat tajam.

__ADS_1


"Pa, keadaannya mepet. Sumpah, Brian nggak bohong. Kalau Brian nggak gerak cepat, Khadijah mau dijodohkan dengan anaknya kyai Mufta," jelas Abrian tapi langsung kena tonyor Asloka.


"Segenting apapun, bilang sama orang tua Brian!" serunya sambil menjewer telinga Abrian.


"Aduh, ampun Pa!" Keluh Abrian terus memohon agar Asloka melepaskan jewerannya. Dia sangat malu, jika harus diperlakukan seperti ini di depan calon kakak iparnya.


"Bisakah kalian jangan ribut sendiri, aku mau masalahku cepat selesai dan segera pergi dari sini!" seru Kennan.


"Mas!" tegur Nabila.


"Aku sangat bosan, Sayang!"


"Sabar sebentar, kamu harus menurunkan egomu sebentar saja, Mas!"


"Om, kita ada kepentingan dengan Om. Jadi niat kita kesini, untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan Kennan. Untuk itulah kenapa ustadz Musthafa ada disini, karena Kennan dan Kanaya akan menikah malam ini juga."


"Apa!" Ketiga lelaki itu pun sontak berteriak secara bersamaan. Emosi mereka langsung naik, saat Kennan mengambil keputusan tanpa berunding dahulu.


"Siapa yang mengizinkan kamu menikahi anakku! Aku nggak ikhlas lahir batin jika Kanaya menikah denganmu, Kennan!" Marah Asloka.


"Tanyakan saja pada, Naya! Dia yang begitu murahnya minta aku menikahinya, kalau nggak percaya om tanya sendiri saja!"


Sakit sungguh sakit hati Asloka anaknya disebut murahan, ingin rasanya Asloka membunuh kennan tapi dia urungkan dan memilih langsung masuk ke dalam untuk menanyakan semua ini pada Kanaya.


Saat Asloka di dalam kamar, dia melihat Kanaya masih duduk di atas ranjang sambil memakan buah apel. Tak mau menunda-nunda waktu, Asloka langsung menanyakan keputusan anaknya yang sangat gegabah itu.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini, Naya! Kenapa kamu membuat keputusan sendiri, apa kamu benar-benar sudah tak menganggap Papa!" bentak Asloka sangat kencang sehingga membuat Anne terkejut.


"Ada apa, Kak? Kenapa harus teriak sih, bicara baik-baik ini rumah sakit," tegur Anne.


"Bagaimana bisa pelan-pelan jika anak kita membuat keputusan gegabah, dia merendahkan dirinya sendiri agar Kennan mau menikahinya. Mau ditaruh mana ini muka, An!" Asloka tak bisa mengontrol emosinya lagi, nafasnya pun naik turun seakan-akan ada yang mau meledak-ledak.


"Apa itu benar, Nay?" Anne juga tak percaya dengan keputusan anaknya.


"Maaf, Ma, Pa. Tapi setidaknya mereka tak akan membahayakan anak, Naya. Maaf, jika keputusan ini membuat kalian kecewa. Tapi, yakinlah aku akan baik-baik saja disana," lirih Kanaya enggan menata orang tuanya.


"Kamu benar-benar keras kepala, Nay! Sekarang terserah apa katamu, Papa angkat tangan. Hidup dan matimu sekarang ada di tanganmu sendiri, jika kamu ingin menikah dengan Kennan silahkan. Tapi, sampai matipun Papa nggak mau menjadi walimu! Biar Brian atau Bian yang menggantikanku!"


Setelah mengeluarkan semua kekesalannya, Asloka langsung keluar begitu saja. Dia kembali menghampiri kedua anaknya untuk menggantikan dia, setelah itu Asloka menatap Nabila juga Kennan.


"Aku serahkan Kanaya pada kalian, tapi aku mohon jangan perlakukan dia dengan tidak baik. Dia sedang sakit, setidaknya biarkan dia hidup tenang disana tanpa ada rasa khawatir anaknya akan kenapa-napa. Jika kalian tidak mampu, maka kembalikan dia padaku. Bagaimanapun aku seorang ayah, jadi wajar mengkhawatirkan kenyamanan anaknya." Asloka berkata penuh permohonan, air matanya juga terus menetes. Tak peduli dia dibilang lemah, tapi sungguh berat melepaskan Kanaya pada keluarga toxic seperti mereka.


"Om tenang saja, aku akan selalu menjaga Kanaya Om."


"Terima kasih."


Selesai perbincangan itu, Asloka meninggalkan rumah sakit dia butuh menenangkan diri. Berdamai dengan semua sangat sulit, jadi lebih baik dia pergi menjauh sebelum rasa kecewanya semakin menggerogoti hatinya.


...****************...


Hai emak kembali, bagaimana dengan episode kali ini? Kanaya itu emang keras kepala ya, apapun yang dia lakukan atas dasar kemauannya sendiri. 🤭

__ADS_1


__ADS_2