
Empat bulan berlalu begitu cepat, kehidupan Kanaya semakin hari semakin bahagia. Keputusannya untuk kembali ke Paris juga dia urungkan, karena Asloka meminta Kanaya berpikir ulang apalagi Kennan juga sudah tak ada.
Awalnya Kanaya menolak tetap tinggal, tapi karena Aileen suka di Indonesia bisa dekat kakek-neneknya, maka Kanaya menurunkan egonya sendiri dan memutuskan untuk tinggal di Jakarta.
Hubungannya bersama keluarga Kennan juga semakin hari semakin membaik, setiap akhir pekan mereka selalu berkunjung dan mengajak anaknya itu jalan-jalan. Kanaya, tak melarang asalkan tak ada perebutan hak asuh, dia ingin semua berdamai tanpa ada pertikaian tiada henti.
"Kamu sudah siap, Nay? Mumpung semua orang ada di rumah, jarang-jarang mereka bisa berkumpul seperti saat ini," ucap Hans.
"Boleh, Kak. Sekalian kita titipkan Aileen pada papa, toh besok kita sudah berangkat, nggak mungkin kan kasih tahunnya mendadak," balas Kanaya segera menyelesaikan riasannya agar terlihat fresh.
Setelah selesai, barulah Kanaya keluar dari kamar sambil menggandeng tangan suaminya. Suasana di rumahnya kini sangat ramai, ditambah Aileen terus tertawa karena bisa bermain dengan anak-anak kakaknya.
"Kak Aron jangan lari-lari!" teriak Aileen ketika Aron — anak Abian naik ke atas tangga sambil berlari.
Melihat itu, Kanaya hanya geleng-geleng. Anak kakaknya terlalu aktif, sehingga membuat semua orang di sini sangat khawatir, bahkan sering juga Aron masuk rumah sakit karena jatuh dari ketinggian.
"Aron, jangan lari-lari di tangga ya, Nak. Nanti kamu jatuh seperti kemarin, mau di jahit lagi?" tegur Kanaya. Namun, bukannya menurut Aron malah semakin berlari cepat tapi menuju Kanaya.
"Mama Aya, Alon pengen pelut," ucap Aron terus merentangkan kedua tangannya.
Kanaya yang dasarnya tak pernah tega menolak, akhirnya menuruti permintaan Aron. Dia jongkok di hadapan keponakannya itu dan segera memeluknya erat, sambil membelai lembut punggung Aron.
"Alon pengen punya Mama."
Deg!
__ADS_1
Jantung Kanaya seketika berdetak kencang, dia menatap penuh arti pada Hans. Sedangkan Anne, hanya bisa menahan kesedihan ketika cucunya berkata seperti itu.
"Aron kan sudah punya Mama Aya, memangnya Aron Mau Mama siapa?" tanya Kanaya sangat hati-hati takut melukai hati kecil Aron.
"Alon rindu mama Alon, tenapa mama tidak pelnah jengut Alon?" (Aron tak bisa huruf K dan R)
Seketika hati Kanaya ikut sedih melihat Aron, bagaimanapun Aron sama seperti Aileen, namun Aileen masih bisa melihatnya, sedangkan Aron sama sekali tidak. Karena sejak dilahirkan, Aron ditinggalkan oleh Mikayla.
"Alon pasti anat natal, cebab itu mama pelgi," keluh boca itu lagi.
Kanaya pun memeluk Aron penuh kasih sayang, dia hanya bisa menenangkan saja keponakannya itu. Dia tak bisa memberikan janji, apalagi kepastian karena sampai saat ini kakaknya belum berhasil menemukan Mikayla.
"Aron, dengarkan Mama, Nak. Aron itu bukan anak nakal, jadi nggak boleh ya bilang seperti itu," jelas Kanaya sangat lemah lembut.
"Seharusnya Aron harus semangat belajar biar nanti kalau Mama pulang, Aron bisa tunjukkan pada Mama bagaimana hebatnya Aron dan betapa pintarnya Aron," sambungnya lagi.
Kanaya tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Pasti Sayang, Mama pasti kembali."
***
Semua orang kini tengah menatap Kanaya penuh tanya, pasalnya dia mengumpulkan seluruh keluarga di ruang tamu dengan alasan akan mengumumkan sesuatu yang penting. Namun, disaat mereka sudah berkumpul Kanaya tak kunjung bicara yang ada malah senyum-senyum tak jelas ke arah mereka.
"Jadi?" Abria langsung membuka pembicaraan yang sangat sunyi ini.
"Apa ada kabar baik, atau buku? Atau mau nambah ponakan?" sahut Abrian sambil memangku anaknya.
__ADS_1
"Ish, sabar dong Kak!" serunya menjadi kesal.
"Hans, lebih baik kamu saja yang menjelaskan jangan Naya, karena dari tadi dia hanya cengar-cengir nggak jelas," kata Asloka yang juga ikut mengejek Kanaya.
Seketika Kanaya mengerucutkan bibirnya sampai terlihat beberapa centi, dia merasa digoda sehingga membuatnya kesal dan merajuk.
"Baiklah, baiklah, aku yang akan bicara." Hans meraih pinggang istrinya dan segera menjelaskan apa yang akan mereka bicarakan tadi.
"Jadi, ada hal bahagia yang akan kami sampaikan, mungkin ini juga menjadi berita membahagiakan," ucap Hans sambil saling tatap dengan Kanaya.
"Apa?" Dinda ikut kesal sendiri mendengarnya, bukan langsung menceritakan yang ada semakin berbelit-belit.
"Kemarin Kanaya kontrol ke rumah sakit," jelasnya.
"Terus?" sahut Asloka, mendengar anaknya kontrol membuat Asloka takut terjadi sesuatu.
"Dokter bilang, tubuh Naya sudah bersih dari kanker dan dokter menyatakan istriku ini sembuh," jelas Hans membuat semua orang terdiam.
Tak ada yang bersuara, bahkan mereka masih berusaha mencerna semua ucapan Hans.
"Sayang, ini bukan mimpi kan?" Dinda langsung mendekati mereka berdua. Bahkan, Dinda menepis tangan Hans dan membelai lembut puncak kepala menantunya.
"Bukan, Ma. Ini kenyataan, aku sembuh dari kanker," balasnya. Mata Kanaya juga mulai berkaca-kaca, dia sendiri bahkan tak menyangka akan bebas dari penyakit itu.
"Akhirnya, kamu sembuh juga Sayang. Papa dan Mama sangat bahagia." Asloka beserta Anne pun juga ikut mendekati Kanaya, dia peluk anaknya itu dengan erat. Akhirnya ada masa, dimana Kanaya bisa sembuh sepenuhnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...