Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 47


__ADS_3

"Dokter, bahagia hasil pemeriksaan suami saya? Kenapa sudah satu minggu lebih belum ada kepastian dia sakit apa," ucap Nabila berusaha menemui dokter.


Dia merasakan keanehan saat melihat kondisi suaminya yang tak kunjung membaik dan terus menurun setiap hari nya.


"Bisa kita bicara sebentar, Bu? Ada beberapa hal yang harus saya katakan, tapi tidak disini," balas Dokter terlihat sangat mencurigakan bagi Nabila.


Tak mau menunggu terlalu lama, akhirnya Nabila mengikuti Dokter dan tidak banyak bicara. Setelah mereka sudah sampai di ruangan, Nabila langsung dipersilahkan duduk.


"Jadi gimana, Dok?" Nabila terlihat sangat tak sabaran.


"Begini, Bu. Setelah melakukan beberapa tindakan dan tes, ternyata pak Kennan mengidap kanker usus stadium tiga. Kebiasaan buruk pak Kennan lah yang membuat semua semakin parah, apalagi mengonsumsi minuman keras," kata Dokter sampai membuat Nabila shock.


Dia tak menyangka, suaminya akan seperti ini dan disaat perekonomiannya sangat buruk, bahkan bisa dibilang sangat anjlok. Ditambah masalah kebakaran kemarin belum selesai, masih berlanjut ke rana hukum.


"Apa bisa disembuhkan, Dok?" tanyanya dengan suara gemetar.


"Antara 50-30℅ saja," sesal Dokter semakin membuat Nabila menangis.


Bibirnya terasa sangat keluh, pikirannya benar-benar buntu kali ini. Memikirkan biaya sekaligus kesehatan Kennan, membuat Nabila pusing. Jalan apa yang harus diambil.


"Lakukan yang terbaik untuk suami saya, Dok. Apapun itu jika membuat dia bertahan, maka lakukan."


***


Nabila masuk ke dalam ruangan suaminya, sungguh hatinya sangat hancur melihat Kennan terbaring lemah di atas ranjang. Air mata juga terus mengalir seakan-akan tak bisa berhenti.


'Ya Tuhan, apa ini karma untuk keluargaku?' batin Nabila mulai mengingat semua dosa-dosa yang diperbuat pada Kanaya.


Dia merasa semua ini teguran dari Tuhan, karena sempat memperlakukan Kanaya seperti hewan. Selalu menindas, mengancam, bahkan menghina wanita tak berdosa itu. Jika waktu bisa diputar kembal dan Kanaya masih hidup, Nabila akan meminta maaf serta merelakan suaminya bersama Kanaya asal semua kembali membaik.

__ADS_1


Tapi, semua semua keinginan itu tak mungkin terwujud karena Kanaya sudah pergi dan meninggal dunia bersama anak semata wayang Kennan.


"Mas, cepat sembuh. Jangan seperti ini, aku takut sekali Mas," lirih Nabila terus mencium jemari-jemari Kennan.


Isak tangisnya semakin pilu, terasa berat sekali jika harus melihat lelaki yang amat dia cintai lemah seperti ini.


"Naya ...."


Sontak Nabila mendongak ketika mendengar suara Kennan. Meski sangat lirih, tapi telinganya mendengar sangat jelas, jika suaminya menyebut nama Kanaya.


"Mas, kamu sudah sadar?" tanya Nabila terlihat sangat senang.


"Nay, maafkan aku. Maaf ...."


Kennan masih terus memanggil nama Kanaya. Entah kenapa rasanya sangat sakit sekali mendengar itu, bukan dirinya yang dicari melainkan Kanaya — mantan istri suaminya.


"Ini semua salahku, andai aku nggak egois ...." Sesal Nabila terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia hanya bisa menangis saat ini, tak bisa melakukan apapun demi kesehatan suaminya.


Burhan sudah mendengar semua penyesalan Nabila sedari tadi, bahkan dia juga sudah mengetahui penyakit Kennan dari dokter tadi.


"Papa," lirih Nabila langsung memeluk mertuanya sangat erat. Saat ini dia sangat membutuhkan sandaran, namun keluarganya tak mau melihatnya karena masalahnya dengan Kanaya membuat orang tuanya bangkrut.


"Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang, Nak." Burhan terus menguatkan Nabila dan Nabila pun langsung menangis sejadi-jadinya.


"Aku menyesal, Pa. Ini semua salahku, sekarang suamiku seperti ini dan ini karenaku," lirih Nabila.


"Apa kamu sangat menyesali perbuatanmu ini, Nak?" tanya Burhan sedikit ragu.


"Sangat, Pa. Andai semua belum terlambat, aku akan mengikhlaskan keadaan ini. Tapi sayangnya semua sudah terlambat dan —"

__ADS_1


"Semua belum terlambat, Nak. Belum. Jika memang kamu ingin memperbaiki semua dan menyadari semua kesalahanmu, maka semua belum terlambat," ucap Burhan membuat Nabila bingung.


"Maksudnya, Pa?" Nabila menatap lekat mertuanya, dia benar-benar bingung dengan ucapan yang dilontarkan Burhan.


"Kanaya dan anaknya masih hidup, tapi mereka nggak ada di indonesia. Jika kamu memang benar-benar ingin memperbaiki semua, serta meminta maaf atas kesalahanmu maka temui dia di Paris," ucap Burhan mampu membuat Nabila membeku.


"Mohon ampunlah pada Kanaya, karena bagaimanapun juga dosamu padanya sangat banyak," sambung Burhan lagi.


Sungguh, Nabila kini tak bisa berkata-kata. Mulutnya langsung terkatup, sambil mencera kata demi kata yang diucapkan mertuanya.


"Mak-maksud Papa, Naya masih hidup?" tanyanya penuh keraguan.


"Iya."


"Terus, yang dimakamkan itu siapa?" Nabila masih tak percaya.


"Papa nggak tau, tapi yang jelas mereka masih hidup dan Papa baru tau kemarin, saat Santi mengikuti Asloka semua melihat gerak-gerik mereka mencurigakan," balas Burhan.


Selama beberapa tahun ini, Burhan memang sengaja memasukkan Santi menjadi babysitter anak Abrian. Entah kenapa Burhan merasa ada yang aneh dan benar kecurigaannya selama bertahun-tahun akhirnya terungkap, ketika Santi memberikan informasi jika Kanaya juga cucunya masih hidup.


"Ini serius kan, Pa?" Nabila memastikan.


"Serius, Nabila. Untuk apa Papa berbohong, sekarang kamu sudah mengetahui kebenarannya. Terserah kamu mau bagaimana, tapi jika sampai kamu melukainya lagi, maka kamu siap-siap berhadapan dengan Papa."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena tak tega melihat kakak angkatnya selalu di hina sang mertua yang tak kunjung hamil, Arumi bertekad untuk meminjamkan rahimnya sampai mereka mendapatkan anak.


Arum melakukan semua itung-itung demi balas budi, namun siapa sangka saat dia menjadi ibu pengganti bagi kakaknya banyak sekali godaan-godaan yang akhirnya melibatkan hati satu sama lain.

__ADS_1


Apakah Arumi bisa melewati semua sampai tugasnya selesai, atau dia akan menyerah karena banyak hati yang tersakiti.



__ADS_2