
"Om, bagaimana keadaan Naya? Apa dia baik-baik saja, tolong jawab Om!" seru Hans setelah melihat Andreas keluar dari kamar Kanaya.
"Dia hanya kelelahan, emosinya hari ini benar-benar naik turun sehingga membuat Kanaya drop. Lain kali jangan biarkan dia emosi, biar pikirannya tenang kalau perlu jauhkan dengan keributan," balas Andreas sambil menghela nafas panjang.
Jantungnya hampir saja copot melihat Kanaya seperti ini lagi, tapi untungnya semua normal dan perkiraan Andreas Kanaya terlalu menggebu-gebu sampai membuatnya seperti itu.
"Tapi penyakitnya bagaimana? Apa kambuh lagi atau bagaimana?" tanya Hans.
"Masalah itu kita harus melakukan check up ke rumah sakit, perlu pemeriksaan lebih lanjut, tapi untuk saat ini aku rasa Kanaya hanya kelelahan saja," balas Andreas lagi.
Hans terlihat belum tenang, dalam lubuk hatinya terbesit rasa takut jika penyakit Kanaya kambuh. Meski dia ingin berpikir positif, tapi nyatanya semua sangat susah.
"Jangan terlalu dipikirkan, temui istrimu dia mencarimu tadi. Tersenyumlah agar Kanaya tak semakin stres," ungkap Andreas.
"Baik, Om." Tanpa tunggu lama, Hans segera masuk ke dalam kamar Kanaya. Setelah sampai ke dalam, dia melihat istrinya yang kini tengah duduk bersandar di atas ranjang sambil tersenyum padanya.
"Kak ...."
Mendengar panggilan itu, Hans segera berlari ke arah Kanaya. Dia peluk wanita tercintanya sangat erat, sampai tanpa sadar air mata mulai membasahi pipinya.
"Jangan tinggalkan aku, Nay," ucapnya tanpa sadar. Hans sangat takut ditinggal pergi Kanaya, sungguh dia belum siap jika seperti itu.
__ADS_1
"Aku nggak akan meninggalkan Kakak," sahut Kanaya. Setelah itu dia balas pelukan suaminya dan Kanaya hirup kuat-kuat aroma khas ditubuh Hans.
Lama sekali mereka saling terdiam, mereka juga terlihat memikirkan masalah masing-masing. Sampai akhirnya Kanaya lah yang memecahkan keheningan di dalam kamar.
"Kak, aku ingin kembali ke Paris. Kita tinggal disana saja, jangan kembali lagi kesini," lirihnya. Sekian lama berdiam diri, Kanaya baru bisa mengambil keputusan tetap tinggal di negara orang.
"Jika itu yang kamu inginkan, maka kita akan kembali." Hans langsung mengiyakan permintaan Kanaya. Hans sendiri tak ingin mengambil resiko jika tetap ingin tinggal di Indonesia, ketenangan istrinya lebih penting dari apapun.
***
Disisi lain, seluruh tenaga medis tengah berjuang menyelamatkan Kennan, kondisi lelaki itu saat ini kritis, beberapa kali mereka kehilangan detak jantung Kennan tapi Dokter berhasil mengembalikan nyawa Kennan meski sekarang masih sangat lemah.
"Aileen ...."
"Siapa dari kalian bernama, Aileen?" tanya Perawat sampai membuat keluarga Kennan mendongak kaget.
"Tidak ada, Sus," balas Burhan.
"Kondisi pasien sangat kritis dan mulutnya selalu memanggil nama Aileen, tolong panggil orang itu barangkali ini permintaan terakhir pasien."
Mendengar kata permintaan terakhir, Nabila maupun menjadi lemas, air matanya terus mengalir tak bisa membayangkan apapun lagi. Dia menyesal telah membesarkan egonya, sampai tak bisa membuat Aileen mengakui Kennan.
__ADS_1
"Ini semua salahku," lirihnya.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, Nay. Kita semua salah, papa juga gagal mendidik kalian semua, maafkan papa, Nak." Burhan sampai menangis mengatakan itu semua, andai saja dia tak mengizinkan Nabila membawa Kennan, mungkin kondisinya tak akan seperti saat ini.
"Nasi sudah menjadi bubur, buat apa disesali? Inilah hasil dari kesombongan kalian, juga keegoisan tanpa henti. Sudah di kasih teguran tapi belum bisa intropeksi diri," cetus seorang lelaki yang baru saja datang.
Lelaki itu adalah Febrian, adik Kennan yang selama ini meneruskan pendidikan di luar negeri demi menghindari perasaan sukanya pada Kanaya, karena saat itu Febrian menerima takdir jika Kanaya bukanlah miliknya.
Tapi, siapa sangka jika Kanaya hidupnya selalu disakiti bahkan di siksa luar dan dalam, jadi Febrian tak ada rasa kasihan pada kakaknya itu.
"Febrian, kapan kamu kembali, Nak?" Burhan terlihat sangat senang dan
langsung menghampiri anaknya.
"Baru saja, Pa. Bibi bilang semua ke rumah sakit karena kakak anfal, tapi setelah mendengar cerita bibi, aku nggak jadi prihatin akan kondisi kakak," jelas Febrian. Terlihat sekali Febrian sangat kesal, tapi dia tak bisa bertindak lebih kasar dari itu.
"Kamu pasti lelah, lebih baik kembali pulang," bujuk Burhan agar Febrian tak semakin membuat suasana menjadi runyam.
Febrian tak menjawab lagi, dia mengikuti apa kata Burhan, namun ketika perasaan lega itu datang, tiba-tiba Febrian kembali dan menatap Rita penuh tatapan benci.
"Semua masalah datangnya dari mama, jadi hanya mama yang bisa mengakhiri semua. Sebelum terlambat, segeralah temui Kanaya dan akui semua kesalahan mama, tapi jika hati mama belum ada rasa bersalah lebih baik jangan pernah temui Kanaya lagi."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...