
Pyar!
Hans seketika memegang dadanya, perasaannya itu semakin tak tenang. Otaknya selalu dipenuhi Kanaya, sehingga dia menjadi tidak fokus dan memecahkan gelas minuman yang diberikan oleh pelayan.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Pelayan itu.
"Ya aku baik-baik saja, maaf."
Hans segera berdiri dari duduknya, dia melihat tiket baru yang dia dapatkan beberapa jam lalu, pemberangkatan masih tiga jam lagi dan Hans ingin kembali pulang.
"Apa aku pulang saja, ya?" Gumam Hans jadi bimbang.
Karena semakin bingung, akhirnya Hans memutuskan untuk tetap tinggal dia juga takut ketinggalan pesawat lagi, apalagi dia hanya memiliki waktu tiga jam dan sangat mustahil kembali ke rumah.
Sedangkan di rumah sakit, Asloka terus mondar-mandir di depan pintu IGD. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada anaknya, sebab itulah Asloka tak bisa duduk santai sambil menunggu.
"Lama sekali mereka," ujar Asloka.
"Sabar, kita semua juga menunggu kabar dari dalam," balas Anne. Dia juga berusaha menenangkan suaminya.
"Tap —"
Belum juga Asloka selesai bicara, seorang perawat keluar dan menanyakan keluarga Kanaya, dengan cepat Asloka maju, sehingga perawat tersebut meminta Asloka masuk menemui dokter.
"Bu Naya harus melahirkan hari ini juga, ketubannya sudah pecah dan bayinya harus segera dikeluarkan," kata Dokter sangat membuat Asloka shock.
"Kandungan anak saya baru tujuh bulan, apa itu akan baik-baik saja, Dok?" Asloka sampai dibuat sakit kepala mendengar penjelasan Dokter.
"Insyaallah baik-baik saja, ini jalan terbaik, karena jika telat sedikit saja nyawa kedua bayi itu akan terancam."
Asloka diam, dia bingung harus menjawab apa. Disini memang Kanaya anaknya, tapi semua keputusan ada di tangan Hans, jadi Asloka ingin menanyakan semua pada Hans, tapi karena dokter berkata tak ada waktu lagi, maka Asloka langsung menandatangani surat persetujuan tindakan operasi.
Ketika selesai menandatangani semua, Asloka langsung keluar dari ruangan dan menemui istrinya. "Laka bagaimana? Apa kata Dokter?" Anne segera menanyakan keadaan Kanaya.
"Iya, bagaimana keadaan Naya, apa dia baik-baik saja?" Dinda juga ikut bertanya.
"Dia akan melahirkan prematur, sekarang aku mau urus administrasi dan mencari kamar untuknya," balas Asloka.
__ADS_1
Dua wanita itu shock berat, mereka sampai tak bisa berkata-kata dan hanya bisa berdoa agar semua berjalan dengan lancar.
***
Hans berlari seperti orang kesetanan, ketika menunggu jam penerbangan tiba-tiba dia tak sengaja melihat video viral beberapa jam lalu, dimana sang mertua menggendong istrinya yang saat itu tengah kesakitan.
Otaknya tiba-tiba bleng, mengendarai mobil juga tak bisa fokus sehingga dia memilih naik taksi dan meninggalkan mobilnya di sembarang tempat, masa bodo nanti kena tilang yang jelas saat ini menuju rumah sakit.
Setelah menemukan ruangan Kanaya, Hans langsung masuk begitu saja sampai menampilkan sosok wanita yang sangat dia cintai. Hans menghembuskan nafas panjang, dia tersenyum lega ketika melihat Kanaya baik-baik saja.
"Nay ...." Hans segera berlari ke arah istrinya, dia peluk, ciumm dan sangat bersyukur tak terjadi sesuatu pada Kanaya.
"Aku baik-baik saja, Kak," lirihnya sambil menggenggam erat jemari-jemari suaminya.
"Kamu selalu saja bicara seperti itu, buktinya apa? Kamu melahirkan lebih cepat dari waktunya kan," oceh Hans sambil menangis, sungguh dia sangat takut kehilangan Kanaya, jika sampai terjadi mungkin hidupnya tak akan baik-baik saja.
"Maaf, itu diluar dugaan Kak. Memang dari beberapa hari lalu aku merasa nyeri, tapi aku pikir itu biasa saja, ternyata aku salah," balasnya sangat menyesal.
Tak lama setelah itu, seorang perawat masuk sambil membawa alat pompa. Perawat meminta agar Kanaya memerah ASI-nya, untuk diberikan pada bayinya yang saat ini masih di ruang NICU.
Kanaya mengangguk paham, sedangkan Hans membantu istrinya memakai alat pompa tersebut agar Kanaya tidak kesulitan.
***
Semua keluarga juga sengaja menyiapkan syukuran kecil untuk kepulangan si kembar, rumah juga sudah di dekorasi sangat lucu sehingga siapapun yang melihat pasti senang.
"Pegang yang kuat, awas sampai jatuh!" seru Aileen ketika menyuruh Morgan memegang pernak-pernik yang dia buat sendiri secara khusus.
"Iya, tenang saja," balas Morgan.
Aileen mengangguk senang, dia pun segera menempelkan semua pernak-pernik itu di kamar si kembar, dia sangat antusias mendapatkan adik, bahkan semua dekorasi kamar Aileen semua yang memilihnya.
"Aileen, Mama dan Papa sudah pulang, ayo keluar sambut adik bayi," ucap Anne agar cucunya itu segera turun.
"Ha? Adik sudah pulang, hore aku mau lihat adik bayi!" serunya sangat bahagia, dengan cepat Aileen melemparkan semua pernak-pernik di tangannya dan berlari keluar.
Sedangkan Morgan tak mau keluar terlebih dulu, dia ingin membantu Aileen memasang semua, jadi Morgan mengambil alih tugas Aileen.
__ADS_1
Di luar sana, semua orang berebutan ingin melihat si kembar, bahkan Anne dan Dinda sangat ingin menggendong cucu-cucunya tapi kalah cepat dengan para suami. Rajukan kecil terlihat sangat jelas, sehingga membuat suasana semakin bahagia.
"Laka gantian, ih! Masa kamu terus, aku juga ingin gendong cucuku," protes Anne karena tak kunjung memberikan cucunya.
"Sama, aku juga protes! Aku juga ingin gendong cucuku, mana berikan padaku, Pa!" Dinda juga ikut protes.
Kedua lelaki itu hanya bisa tersenyum, karena tak ingin melihat istrinya merajuk mereka akhirnya memberikan si kembar.
"Ya ampun, lucunya cucu Oma, wajahnya juga mirip sekali seperti Kanaya, Bahkan Hans nggak kebagian sama sekali," ucap Anne membuat Hans kesal.
Dari tadi dia sebenarnya juga protes, karena tak ada kemiripan sama sekali dengannya, padahal yang memberikan benih dia, tapi kedua anaknya tak ada yang mau mewarisi ketampanannya.
"Nanti juga mirip sama kak Hans, kan masih kecil suka berubah-ubah wajahnya." Kanaya berkata seperti itu agar sang suami tak merasa sedih.
"Oma, aku juga mau gendong adik." Gelegar Aileen pun membuat semua orang menatap ke Aileen, dia terlihat sudah tak sabar ingin menggendong sehingga Dinda mengalah dan membiarkan Aileen menggendong adiknya.
"Hati-hati ya, gendongnya seperti ini." Dinda memberikan instruksi pada Aileen, dengan pelan gadis itu menggendong adiknya, dia terlihat sangat bahagia mendapat adik laki-laki yang sangat menggemaskan.
Suasana haru semakin terasa ketika Hans mengumumkan nama kedua putranya di hadapan semua orang, saat Asloka bertanya.
"Narendra Pratama dan Karendra Pratama."
Tamat
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya tamat juga ini cerita, terima kasih buat semua pembaca emak, akhirnya sekian bulan ini berakhir dengan happy ending. Untuk emak nggak hilaf dan membuat mereka mati semua 🤣🤣🤣
selamat bertemu di cerita emak lainnya. besok, mulai dari nol ya anak-anak. 🤣🤣
ceritanya sebagai berikut....
Anak Untuk Suami Kakak
Suamiku (Calon) Adik Iparku
__ADS_1