Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 18


__ADS_3

Kanaya duduk di pesawat dengan perasaan campur aduk, dia sangat merutuki kebodohannya dan menyesal telah meminta suaminya memegang perutnya. Karena hasil yang Kanaya dapat, Kennan menolak permintaan itu sehingga dia malu sendiri.


"Lagian kenapa sih aku bisa minta kak Kennan untuk memegang perutku, tapi memang dari kemarin rasanya ingin sekali kak Kennan mengelus perutku walaupun sebentar. Apa ini namanya bawaan bayi?" gumamnya terus memikirkan semua.


"Ahh, tau deh. Ishh, sakit sekali kakiku. Katanya suruh istirahat, tapi malah di bepergian," keluh Kanaya dapat didengar oleh Kennan dari samping.


Dia berkali-kali melirik Kanaya dari kejauhan, bahkan Kennan juga melihat istrinya selalu memegang perut buncitnya. 'Apa ada masalah dengan bayi itu, dari tadi dia terus memegang perutnya,' batin Kennan.


"Mas, kalau memang ingin dekat dengan Naya, kenapa nggak di samperin saja," lirihan dari Nabila pun menyadarkan Kennan.


"Apaan sih kamu, aku nggak mau pindah! Siapa juga yang merhatiin Naya, aku hanya melihat itu orang tua di belakang dia," bohongnya tapi tak dapat mengelabui Nabila.


Nabila hanya bisa tersenyum miris, dia merasa suaminya mulai ada rasa pada Kanaya. Jujur saja, dia tak rela tapi Nabila juga tak bisa terang-terangan berkata cemburu. Kalau, sampai Kennan berontak dan memutuskan menceraikan Kanaya sebelum melahirkan, maka mertuanya akan memasukkan wanita lain dalam rumah tangga mereka.


"Ya barangkali kamu mau dekat dengan, Naya. Dia juga istrimu, jadi wajar kan kamu dekat dengan dia," jawabnya lagi.


"Sudahlah, jangan bahas Kanaya. Dia bisa urus dirinya sendiri, toh kamu juga yang ingin dia ikut. Padahal, jelas-jelas aku katakan nggak perlu membawa dia," marah Kennan.


Nabila, lagi-lagi tersenyum getir. Padahal, dia hanya memaksa sekali saja saat penyakitnya kambuh agar Kennan cepat keluar. Tapi, setelah mengetahui Febrian masih mengejar Kanaya, tiba-tiba Kennan memesan tiket lagi untuk madunya.


Karena tak mau memikirkan hal menyakitkan ini lagi, Nabila memilih untuk tidur dan memenangkan hatinya. Dia tak mau sampai penyakitnya kambuh di atas pesawat, jika terus-terusan merasa sakit hati pada Kanaya. Dengan perasaan campur aduk, Nabila menutup matanya sambil mendengarkan musik.


***


"Nay, mukamu pucet banget," lirih Nabila saat melihat wajah Kanaya pucat pasi, bahkan dia juga terlibat lemas.

__ADS_1


"Hanya pusing sedikit kok, Kak. Tenang saja, aku nggak apa-apa kok," jawab Kanaya.


Sejenak Kanaya menyenderkan badannya di tembok, rasanya sangat pusing sekali. Suhu tubuhnya juga tiba-tiba tinggi, sehingga membuat Kanaya semakin lemas.


"Duh, Kennan kemana sih. Lama benget, katanya ambil mobil tapi malah ini nggak datang-datang." Dumal Nabila.


Melihat kondisi Kanaya yang lemah, dia takut terjadi sesuatu. Apalagi dia melihat wajah madunya sudah seperti mayat hidup, sangat pucat tapi telapak tangannya begitu dingin.


"Kak ...."


Brukk!


"Naya!"


"Jangan sentuh istriku!" teriaknya tanpa sadar membuat Nabila tercengang. Dengan terang-terangan suaminya menyebut Kanaya sebagai istrinya, sehingga seperti ada yang mencubit kuat hatinya.


"Baiklah Tuan," ucap Security itu. (Woe emak nggak bisa bahasa asing, jadi anggap ini bahasa asing yes. Asing 😅)


Setelah itu, Kennan langsung menggendong Kanaya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Sedangkan Nabila, hanya bisa mengikuti mereka dari belakang sambil merasakan sakit amat luar biasa di hatinya.


Baru kali ini dia merasakan diduakan, apalagi Nabila seperti orang terabaikan. Tanpa terasa, air mata Nabila menetes begitu saja. Dadanya juga mendadak sakit, nafasnya tak bisa teratur, sehingga Nabila berhenti di tepat di samping mobil.


"Bil, ayo masuk. Kita harus pergi ke rumah sakit!"


Meski suara suaminya sangat keras, tapi Nabila tak bisa fokus. Dia berusaha untuk menarik nafas panjang, tapi sayang tak bisa yang ada detak jantungnya semakin kencang dan membuat pandangan mengabur.

__ADS_1


"Ma ..., mas ..., ak-ku ...."


Brakk!


"Nabila!"


Hilang sudah kesadaran Nabila, dia tak bisa menahan rasa sakitnya sehingga tubuhnya tumbang. Sedangkan Kennan dia langsung berlari ke arah istrinya, Kennan terus berteriak memanggil Nabila tapi sayangnya tak ada respon.


Kini, Kennan di buat bingung. Kedua istrinya sama-sama pingsan dan kejadian ini sangat merepotkannya. Bahkan, kennan bingung harus menolong siapa dulu. Untung saja ada orang yang mau membantu Kennan, jadi Kennan bisa fokus pada istri-istrinya.


...****************...


Emak : Uhuk Uhuk gimana nak, memiliki istri yang sama-sama sakit? Enak kan, ada sensasi gimana gitu. 😐


Kennan : Nek, kamu terlalu kejam denganku. Seharusnya yang sakit satu saja, kenapa malah dua-duanya Nek. Pusing kepala ini, Nenek!


Emak : Heeey, bangkee! jangan panggil emak Nenek, panggil Emak, paham Emak. meski kau cucu menantu, tapi emak belum tua banget kaleee!


Asloka : Nak Kennan, papa saranin jangan ganggu emak. Kalau dia ngamuk suka serem, dulu papa pernah di hukum dan sekarang kapok.


Kennan : Benarkah, Pa?


Asloka : Benar


Emak : 👂👂👂👂👂👂👂

__ADS_1


__ADS_2