Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 53


__ADS_3

Wajah pucat pasih, bibir kering dan keringat mulai terlihat nampak di wajah Nabila, tapi dia terus berusaha agar bisa sampai ruangan suaminya.


Anggap saja ini sebagai penebusan dosa-dosanya dulu, dengan begini semua rasa bersalahnya pada Kennan bisa menghilang seiring waktu berlalu.


"Nabila!"


Burhan segera berlari ke arah menantunya saat melihat Nabila mau terjatuh, karena tak bisa menahan beban lagi.


"Pa-papa ...."


Nabila pun pingsan di pelukan Burhan, sedangkan Aileen masih enggan turun dan masih bergelantungan di punggung Nabila.


"Nabila, bangun! Kamu jangan buat Papa khawatir, Suster!" seruan dari Burhan pun membuat Aileen takut, dia segera melepaskan tangannya dari leher Nabila dan menjaga jarak dari mereka.


"Lemah!" cetus Aileen lebih memilih mencari tempat duduk.


Dia seakan-akan melihat drama di TV, dimana semua orang panik melihat pemeran utama pingsan tak sadarkan diri. Sedangkan Aileen, hanya diam menonton dan terus ngedumel tak pasti.


"Santi, dia siapa?"


Pertanyaan itu langsung muncul dari bibir Rita. Tadinya dia terkejut melihat Nabila pingsan, tapi jantung Rita lebih berpacu ketika melihat bocah kecil yang sangat mirip dengan Kennan.


"I-ini Non Aileen, Nyonya," balas Santi masih sangat gugup takut terjadi sesuatu pada Nabila.


"Anak siapa dia? Kenapa sangat mirip --"


"Dia anak Kennan dan Kanaya, dia cucu kita, Ma," kata Burhan setelah membereskan Nabila.


Seketika Rita menatap tak percaya pada suaminya, dia bahkan menggeleng kuat dan mengira suaminya berbohong.


"Bagaimana bisa? Bukannya wanita pembawa sial itu sudah mati?"


"Mama bukan wanita pembawa sial! Dia orang baik, jangan hina mamaku!" teriak Aileen.


Bocah itu marah besar saat mamanya disebut-sebut pembawa sial dan Aileen tak suka, siapapun yang melukai mamanya maka akan berhadapan dengan dia.

__ADS_1


"Ma, bisa nggak kamu berdamai dengan masa lalu? Kanaya itu korban keegoisan kalian, please jangan salahkan dia terus," tegur Burhan.


"Ini juga, kenapa Aileen ada disini Santi? Mana mamanya, kenapa kalian hanya datang bertiga? Jangan bilang kalian menculiknya!" Burhan terlihat sangat marah.


"Ma-maaf, saya hanya menjalankan perintah nyonya Nabila, Pak." Santi terlihat amat takut. Dia mengaku salah, tapi saat itu Burhan juga sulit dihubungi sehingga Santi mengambil jalan itu.


"Kamu aku bayar untuk memantau bukan menculik, aku bosmu bukan Nabila! Sekarang hubungi keluarganya, pasti mereka sangat khawatir," titah Burhan tapi Aileen langsung berdiri dan menghampiri Burhan.


"Papa dan Mama sudah menjemput Aileen, mereka masih di perjalanan. Sekarang aku mau bertemu om jahat, mana dia." Sungguh Aileen tak ada takut-takutnya. Sikapnya seperti orang dewasa, padahal Hans tak pernah mengajarkan semua itu.


"Siapa om jahat!" Rita merasa tersinggung.


"Om jahat yang dibilang tante jahat," cetus Aileen tak kenal takut.


"Kurang ajar! Dia itu papamu, pasti mereka tak pernah mendidik mulutmu sampai orang tua sendiri dibilang jahat," sahut Rita.


Dua wanita itu kini saling menatap sengit, mereka sama-sama keras kepala dan tak kenal takut sedikitpun. "Papaku hanya papa Hans!"


"Kamu —"


"Rita hentikan! Dia masih anak-anak dan kamu juga memusuhinya, ingat dia cucu kita." Burhan segera menyeret istrinya menjauh, dia juga menasehati Rita sampai akhirnya mereka berdebat.


Lelaki itu hanya menatap kosong ke langit-langit rumah sakit, tak ada pergerakan apapun sampai akhirnya Aileen bersuara sangat ketus.


"Oh jadi kamu Om jahat? Yang selalu menyakiti mama dan menyiksa mama saat Aileen masih di dalam kandungan!" serunya sampai membuat lelaki di depannya itu menoleh ke arahnya.


"S-siapa kamu?" lirih Kennan, dia masih terlihat sangat lemah dan tak ada semangat sedikitpun.


Namun, semakin lama menatap Aileen, Kennan merasa ada keganjilan di dalam hati apalagi melihat wajah bocah kecil itu sangat mirip dengannya.


"Tolong jangan ganggu mamaku lagi, kita sudah bahagia bersama papa Hans. Dari awal kalian tidak menginginkan Aileen maupun mama, jadi jangan ganggu kita lagi," ucap Aileen langsung to the point.


Mendengar Aileen menyebut nama Hans, otaknya segera bekerja keras mengingat-ingat nama itu. Setelah paham arah pembicaraan Aileen, seketika Kennan berusaha duduk dan menangis.


"Anakku ...."

__ADS_1


"Dimana om saat mamaku sakit? Disaat mama koma beberapa tahun hanya papa Hans yang menemani dan bersedih. Papa Hans juga yang merawat Aileen, jadi yang berhak memanggilku anak hanya papa Hans!" teriak Aileen sambil menangis.


Jujur, sebelum kejadian ini Aileen sudah mengetahui semuanya. Beberapa kali teman sekolahnya selalu bilang jika dia tak mirip dengan Hans, awalnya Aileen marah sering memukul teman-temannya.


Tapi suatu hari, Aileen mendengar Hans membicarakan tentang ketakutannya kehilangan Aileen karena Aileen bukan anak kandungnya dan siksa-siksaan mereka terhadap Kanaya juga Aileen dengar kala itu.


Sungguh Aileen merasa tak terima saat mengetahui papa kandungnya bukan Hans, tapi dia berusaha baik-baik saja sampai akhirnya Nabila datang.


Emosi Aileen tak bisa terkendali, sehingga dia menjadi anak nakal yang pandai berbicara kasar.


"Om jahat tidak berhak mengganggu mama dan Aileen, dari awal hanya papa Hans yang merawat mama dan Aileen, tapi sekarang tante dan om jahat ingin merusak kebahagiaan kita! Jahat, kalian semua jahat!"


Aileen mendekati Kennan, dia memukul-mukul tubuh Kennan. Tak peduli bagaimana kondisi papanya seperti apa, Aileen tetap meluapkan rasa emosinya.


"Jahat, kamu jahat. Kamu bukan papa Aileen, aku benci sama om! Benci, lebih baik om meninggal daripada menyiksa mama lagi! JAHAT!"


"AILEEN!"


Brakk!


"Mama!"


Kennan sampai reflek turun dari ranjang pesakitan ketika tubuh kecil anaknya terpental jauh, Kennan maupun Burhan tak menyangka Lusi akan berbuat seperti itu pada cucunya sendiri, mendorongnya sampai Aileen tersungkur di atas lantai.


"Papa, Aileen mau pulang. Mereka semua jahat, Aileen nggak mau disini," lirihnya terus menangis.


Kennan berusaha mendekati anaknya, tapi kakinya benar-benar lemas sekali. Tak selang beberapa lama, suster berdatangan dan membantu Kennan.


"Mama, jangan lukai anakku," lirih Kennan di sela-sela kesadarannya.


"Kamu gila, ya? Dia masih kecil, apa kamu nggak kasihan melihat tangannya sampai memar?" Burhan marah, dia juga langsung menggendong cucunya itu dan mencari pertolongan pertama.


Burhan merasa menyesal tak bisa melindungi Aileen, karena kelalaiannya cucu semata wayangnya harus terluka seperti ini.


'Maafkan Kakek, Sayang, Maaf. Memang benar apa katamu, kalian lebih baik dan lebih dihargai di keluarga Hans. Kakek janji, keluarga ini tak akan bisa menindas kalian lagi.'

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



__ADS_2