Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 14


__ADS_3

Sunyi itu yang dirasakan Kanaya saat ini. Setelah pernikahan selesai, Kennan serta Nabila pulang begitu saja tanpa pamit. Sedangkan, keluarganya sendiri juga pergi entah kemana. Kanaya seakan-akan merasa dibuang oleh mereka, tapi dia tak bisa mengeluh karena ini keputusan yang diambil.


"Huft, aku nggak sendirian. Masih ada anakku, jadi untuk apa bersedih. Iya kan, Nak? Kamu akan selalu menemani mama?" Kanaya mengelus lembut perutnya.


"Semoga Mama kuat sampai kamu lahir ya, Sayang. Do'akan Mama, bisa bertahan melawan penyakit ini. Jika nanti Mama nggak sempat melihatmu, tapi yakinlah Mama pasti akan selalu ada disampingmu," lirihnya.


Tak terasa hari semakin larut, mata Kanaya mulai mengantuk dan dia memilih merebahkan tubuhnya. Di saat dia mulai pergi ke alam mimpi, seorang lelaki masuk ke dalam ruangan Kanaya secara perlahan-lahan.


Lelaki itu bahkan membelai lembut puncak kepala Kanaya, di cium penuh kelembutan dan kasih sayang. Setetes air mata juga mulai berjatuhan, sehingga lelaki itu menjauhkan diri agar Kanaya tak tergantung.


"Walaupun Papa sangat marah sama kamu, tapi Papa akan selalu ada didekatmu Nak. Bagaimanapun juga kamu anakku, mana mungkin Papa tega melepasmu begitu saja," lirihnya sangat pelan.


Asloka menepuk tangannya dua kali, setelah itu ada tiga orang masuk ke dalam dan membungkuk hormat pada Asloka. "Siap Tuan!"


"Tugas kalian menjaga dan merawat Nona, jangan biarkan Nona kelaparan atau sampai kekurangan gizi. Aku juga sudah meminta Kennan mempersiapkan kamar untuk kalian, jadi tugas kalian hanya memantau kesehatan Nona," ucap Asloka.


"Kami akan melaksanakan tugas dengan baik, Tuan."


Asloka sengaja menyewa tiga orang untuk melayani Kanaya, walau harus mengeluarkan uang ekstra yang terpenting anaknya bisa terjamin disana. "Kalau begitu aku pulang dulu, jangan pernah tinggalkan Nona meski sedetik saja." Mereka semua mengangguk paham sebelum akhirnya Asloka keluar dan meninggal kamar inap Kanaya.


***


Kanaya membuka matanya secara perlahan ketika mendengar suara seseorang memanggilnya, dia berusaha memulihkan pandangan dan mencari siapa orang tersebut.


"Pagi Nona Naya, maaf mengganggu tidur nyenyak anda. Tapi, ini sudah waktunya sarapan dan minum obat," kata Lusi — pembantu suruhan Asloka.


"Emm, iya aku sampai lupa. Terlalu nyenyak tidur, untung kamu mengingatkanku," balas Kanaya terus duduk menyender ke anak ranjang.


Kanaya mengambil sarapan yang sudah di siapkan Lusi dan segera menghabiskannya, setelah habis barulah Kanaya meminum vitamin khusus ibu hamil.


"Pagi ini Nona boleh pulang, barang-barang juga sudah dimasukkan ke dalam koper. Kita hanya tinggal menunggu jemputan dari Pak Kennan," kata Lusi.


"Kita?" tanya Kanaya masih kebingungan.

__ADS_1


"Oh, maaf Nona. Saya lupa memberitahu, jika Saya dan beberapa orang lagi ditugaskan untuk menjaga anda di rumah pak Kennan," jelas Lusi.


Mendengar itu Kanaya berpikir keras, siapa yang memerintahkan mereka? Dalam benaknya sempat berpikir mereka utusan papanya, tapi melihat betapa kecewanya Asloka pada Kanaya, di rasa itu tidak mungkin.


'Apa mungkin kak Nabila? Ah, masa sih? Dia nggak mungkin se perhatian itu, paling ini kerjaan kak Brian," batin Kanaya.


"Kapan kita pulang?" tanya Kanaya tak mau lagi memikirkan suruhan siapa mereka.


"Sebentar lagi, Nona. Kita hanya menunggu jemputan, setelah itu kita pulang."


Kanaya hanya mengangguk paham, sambil menunggu jemputan dia lebih memilih untuk membersihkan badannya dan mengganti pakaiannya. Tak lama setelah itu, Kanaya melihat dua orang masuk ke dalam sambil berbisik-bisik.


"Nona, Supir sudah menunggu kita. Kalau sudah selesai mari saya bantu duduk di kursi roda," ucap Lusi.


"Baiklah."


Dengan sangat hati-hati Kanaya duduk di atas kursi roda dengan bantuan Lusi, sedangkan dua orang tadi membawa barang-barang miliknya sampai membuat Kanaya malu sendiri.


'Aku merindukan, Papa.'


***


Kanaya menarik nafas sangat panjang sambil menatap rumah Kennan, bayang-bayang lima bulan lalu langsung masuk dalam benaknya kembali. Dimana dia kehilangan segalanya, hanya karena Kennan mabuk.


Ada rasa takut saat akan masuk ke dalam, tapi Kanaya tak mungkin terus-menerus ada di luar, jadi dia hanya bisa pasrah saat Lusi mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah itu.


"Kenapa sepi sekali? Ah, tapi ini lebih baik daripada harus bertemu kak Kennan maupun kak Nabila," gumamnya sangat lirih.


"Nona, apa kita langsung masuk saja?" tanya Lusi.


"Iya, aku ingin istirahat. Maaf ya sudah merepotkanmu, Lusi," Jawab Kanaya.


"Saya tidak merasa direpotkan, Nona. Ini sudah menjadi tugas saya, jadi apapun jika itu tentang Nona pasti akan saya lakukan."

__ADS_1


Kanaya tersenyum lembut, sungguh beruntung dia mendapatkan asisten seperti Lusi. Bukan hanya sopan, tapi Lusi sangat pengertian sehingga Kanaya merasa nyaman saat bersama Lusi.


"Eh, kamu mau bawa dia kemana? Lancang sekali kalian masuk tanpa permisi, apa kalian tidak memiliki sopan santun!" seruan dari depan pun membuat mereka berempat menoleh ke belakang. Di sana terlihat Rita sangat marah dengan tas belanja sangat banyak. Tahapannya juga sangat tajam, dan seperti ingin memakan Kanaya.


"Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Tapi kami sudah mendapat izin dari pak Kennan dan bu Nabila, jika tidak percaya silahkan anda hubungi mereka," jelas Ramma — supir pribadi Kanaya.


"Ini rumahku, yang berhak menentukan siapa yang akan tinggal disini adalah aku! Kalian siapa, berani melawan aturanku? Sekarang keluar, aku bilang keluar!" teriak Rita terus menghampiri Kanaya.


Rita bersiap untuk menarik Kanaya dari kursi roda dan melemparnya keluar, tapi dengan sigap Ramma mencekal Rita bahkan memelintir tangannya kebelakang sampai Rita menjerit kesakitan.


"Sakit, Brengsek! Lepaskan, aduh tanganku mau patah!" teriak Rita sekali lagi sampai membuat keributan di seluruh rumah.


"Ada apa ini! Kenapa ribut sekali, apa kalian tidak punya kerjaan selain teriak-teriak!" bentak Burhan entah kapan datang, tapi dia sudah ada di belakang Rita dengan pakaian kerjanya.


Dengan cepat Ramma melepaskan Rita dan membungkuk hormat pada Burhan. "Maaf Tuan, tapi saya terpaksa melakukannya, karena orang ini ingin melukai Nona Kanaya," jelas Ramma.


Kanaya pun menjadi tak enak, dia menarik lengan Ramma dan memintanya untuk berhenti bicara. "Maafkan aku Om Burhan, semua ini salahku. Sekali lagi maafkan saya, juga mereka," ucap Kanaya tak mau memperpanjang masalah.


Dia sudah sangat capek ribut terus-menerus, Kanaya ingin rileks agar kandungan baik-baik saja. Apalagi kata dokter, dia harus banyak istirahat.


"Ini bukan salahmu, Nay. Maafkan istri Om juga ya, sekarang masuklah biar Om yang bereskan semua," ucap Burhan langsung di anggukki Kanaya.


"Papa apa-apaan sih! Kenapa membiarkan dia masuk, harusnya diusir Papa!" kesal Rita.


Namun Burhan tak mau menggubris istrinya, dia langsung menarik Rita dan membawanya ke kamar. "Papa jawab aku!"


"Jawab apa? Kita tak seharusnya ikut campur urusan rumah tangga mereka, biarkan berjalan sesuai keinginan mereka dan kita hanya bisa menjadi penengah jika ada yang salah. Paham!" bentak Burhan tak tahan lagi dengan ocehan istrinya.


Sungguh telinganya panas berdengung jika Rita sudah mengoceh, jika bukan karena cinta, mungkin Burhan akan meninggalkan Rita. Tapi, cintanya begitu besar sampai membuat Burhan bertahan selama ini.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan komen ya 😄😄

__ADS_1


__ADS_2