
"Apa sudah siap semua?"
"Sudah, Tuan. Kita hanya tinggal berangkat saja. Jet pribadi juga sudah stanby di bandara."
"Bagus, kalau bisa secepatnya karena aku nggak mau sampai Kanaya telat mendapatkan perawatan. Untuk sementara waktu, biarkan mereka seperti ini. Setelah Kennan benar-benar pergi, kasih tahun om Laka, jika anak dan cucunya masih hidup," kata Hans langsung di angguki pengawalnya.
"Baik Tuan."
Hans pun menyuruh pengawalnya keluar, dia masih ingin berada di samping Kanaya. Dengan perlahan Hans membelai lembut pipi kurus wanita yang sangat dicintai, hatinya begitu perih melihat Kanaya terbaring lemah bersama alat-alat medis untuk menunjang hidupnya.
Hans akan melakukan apapun untuk kesembuhan Kanaya dan menjauhkan dia dari orang-orang munafik seperti Kennan. Sebab itulah kenapa dia merencanakan semua ini, sesudah Asloka mengambil keputusan, Hans langsung menemui Andreas juga dokter lainnya untuk memalsukan kematian Kanaya nantinya.
Hans tak mau siapapun tau, karena jika semua keluarga Kanaya tau, maka mereka tidak akan bisa mendalami kesedihan. Meski tindakannya ini bisa membuat semua orang jantungan, tapi Hans mau Kennan merasa mantan istrinya dan anaknya telah tiada.
"Kamu harus kuat, Sayang. Putri kita menunggumu, berjuanglah demi dia. Aku akan selalu menjaga putri kita, sampai kamu benar-benar sembuh," bisik Hans terus mencium lembut kening Kanaya.
Hans sudah memutuskan akan mengasuh anak Kanaya sendiri, dia akan menganggap anak itu seperti anaknya dan tak akan membiarkan siapapun menang putrinya sebelum mereka melangkahi mayatnya.
"Tuan Hans."
Hans langsung menoleh ke belakang, di sana dia melihat seorang suster membawa box bayi namun terlihat sangat steril.
"Dia putriku?" tanya Hans berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya Tuan, tapi maaf Tuan hanya bisa melihat dari luar. Dia terlahir prematur jadi memerlukan perawatan khusus dan harus steril," kata perawat itu.
Hans hanya mengangguk, dia pandang putri kecil Kanaya. Terlihat sangat cantik dan mirip sekali dengan Kanaya, bahkan tak ada sedikitpun kemiripan pada Kennan.
"Hai Baby, selamat datang di dunia," lirih Hans tak bisa menahan air matanya. Sungguh jika perawat mengizinkannya menggendong anaknya, mungkin Hans sudah memeluk erat bayi mungil ini.
"Papa janji akan selalu menjagamu, Sayang. Kita berjuang bersama-sama ya, kamu harus kuat biar mama juga kuat," lirihnya lagi.
Tak lama setelah itu, Andreas masuk ke dalam dan memanggil Hans. Mereka akan segera berangkat, jadi semua harus dipindahkan.
"Hans, aku titip Kanaya dan cucuku. Ku serahkan dia padamu, jangan sampai mengecewakanku," ucap Andreas sambil menepuk-nepuk pundak Hans.
"Om tenang saja, aku akan selalu menjaganya. Dia cinta pertamaku, tambatan hatiku. Seluruh dunia tak akan berharga lagi, jika dia tiada. Tolong sampaikan maafku pada om Asloka, aku melakukan semua demi kebaikan Kanaya dan agar Kennan menyesali perbuatannya," ucap Hans.
***
Kennan menangis tersedu-sedu di balik pohon, dia tak bisa mengikuti proses pemakaman anak dan istrinya. Keluarga Asloka melarang keras dia hadir, padahal Kennan sangat ingin melihat mereka untuk terakhir kalinya, tapi karena kesalahannya terlalu fatal, mereka tak mengizinkan dia menginjakkan kakinya di sana.
"Nay, maafkan aku. Ini semua salahku, andai saja waktu bisa diulang kembali, pasti aku akan memikirkan ulang untuk menceraikanmu." Tangis Kennan sangat hancur.
Tak lama setelah itu, Kennan melihat semua orang telah meninggal pemakaman. Ini menjadi kesempatan untuknya dan tanpa menunda-nunda waktu, dia berlari menuju pemulasaran istrinya.
Kennan menangis sejadi-jadinya, sungguh dia menyesal dan menganggap semua ini terjadi karena dia sendiri. Sikapnya terlalu plin-plan, sekaligus tak bisa tegas sehingga membuatnya mengambil keputusan gegabah.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nay. Maaf," ucapnya terus mencium batu nisan Kanaya.
Kennan mendapatkan info jika kuburan istri dan anaknya di jadikan satu, jadi disini hanya tertera satu baru nisan dengan dua nama.
"Andai saja aku bisa tegas sedikit saja, mungkin semua tak akan pernah seperti ini," ucapnya lagi semakin menangis.
"Dari dulu kamu memang kurang tegas, Kennan! Kamu terlalu menjadi budak istri pertamamu dan sekarang selamat menikmati kehancuran! Semua yang kamu lakukan pasti mendapatkan balasan, mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin suatu hari kamu pasti lebih menderita dari sekarang!" seru Abrian tiba-tiba.
Kennan tak mengindahkan ucapan Abrian, diam masih memeluk batu nisan Kanaya. Dia menyesal, sungguh sangat menyesal.
"Demi keegoisan istrimu, sekarang kamu kehilangan anak yang selama ini kamu tunggu. Nikmatilah Kennan, nikmati keterpurukanmu mulai dari sekarang!"
Kennan semakin menangis, semua ucapan Abrian memang benar. Mulai detik ini dia benar-benar hancur, bahkan Kennan tak yakin hidupnya akan baik-baik saja setelah melihat kenyataan ini.
"Aku salah, iya aku salah! Maafkan aku Naya, maafkan aku!" teriak Kennan semakin histeris. Dia bahkan sampai tengkurap sambil memeluk kuburan Kanaya, dia terus mengeluarkan kata-kata maaf dan memohon ampunan pada Kanaya.
"Nayaaaa!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya My Crazy Love Author Haryani jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1