
"Ndre, bagaimana Naya? Apa dia baik-baik saja, tolong cepat bilang sama aku Ndre!" teriak Asloka saat melihat Andreas keluar dari UGD. Sudah lama dia menunggu kabar, tapi mereka tak ada niatan untuk memberitahu dirinya.
"Naya baik-baik saja, kandungannya selamat. Tapi ...."
"Tapi apa? Jangan main tebak-tebakan kalau dalam suasana seperti ini, Ndre!" bentak Asloka. Siapapun pasti kesal kalau ditanya pakai tapi tapian, padahal Asloka ingin tau semua.
"Tapi dia sangat marah, bahkan melarang aku mengecek kondisinya lagi. Naya sudah menyadari jika obat yang diminum beberapa hari ini bukan obat kehamilan, melainkan untuk penyakitnya," ujar Andreas.
Seketika Asloka mengusap wajahnya kasar, dia tak mengira jika reaksi obat itu akan secepat ini pada janin Kanaya. Asloka pikir, mungkin akan teraba beberapa bulan lagi, tapi nyatanya tidak.
"Aku mau melihatnya," ucap Asloka.
"Dia tidak mau bertemu siapapun, terutama kamu Laka. Dia masih marah dan emosi Naya masih belum stabil, lebih baik biarkan tenang dulu. Toh di dalam ada suster khusus, yang sudah aku sewa untuk menjaga Kanaya."
Asloka terduduk lemas, jalan yang dia ambil ternyata membuat putrinya marah. Padahal Asloka hanya ingin yang terbaik, tapi keputusan itu malah menyakiti Kanaya.
"Kak, bagaimana ini? Dari awal sudah aku bilang, Naya sangat menyayangi anaknya. Keputusan sepihak kita pasti membuat dia kecewa, tapi kalian nggak mau mendengar ucapanku," sahut Anne tapi tak mendapat respon dari Asloka.
Otaknya masih berputar-putar, sampai akhirnya Asloka berdiri dan menatap Abian. "Bian, tolong tenangkan mamamu. Papa mau masuk dan bicara empat mata dengan Naya. jangan ada yang masuk sebelum Papa selesai!" titah Asloka.
"Baik, Pa."
Asloka pun langsung masuk begitu saja tanpa memperdulikan larangan Andreas, dia tak bisa membiarkan Kanaya marah dan beranggapan keputusannya ini salah. Tidak, Asloka harus menjelaskan semua.
"Bapak mau cari siapa?" tanya Suster.
"Kanaya Maheswari."
"Oh, silahkan ke ranjang nomor 8 ya Pak. Pojok sendiri sebelah toilet," jawab Suster.
__ADS_1
Langkah kaki Asloka kembali melangkah, di sana dia melihat seorang Suster tengah membantu anaknya makan dan juga meminum obat. Asloka hanya bisa tersenyum kecil ketika Kanaya menoleh, namun respon yang diberikan malah lirikan tak mengenakan dari anaknya.
"Nay ...."
"Sus, aku mau istirahat. Tolong suruh orang ini pergi."
Asloka benar-benar kaget mendengar anaknya bicara seperti itu. Bahkan Kanaya tak menyebutnya papa lagi, mungkin keputusannya kemarin sangat melukai Kanaya, tapi bukan berarti sikapnya harus seperti ini.
"Naya, aku masih papamu! Bukan orang lain!" tegas Asloka.
"Aku nggak punya Papa!"
"Naya!"
"Apa? Papa mau marah? Iya? Seharusnya yang marah itu, Naya! Bukan Papa!" teriaknya sampai membuat orang di sana menatap mereka berdua.
"Pak, tolong jangan membuat keributan ya. Silahkan keluar, karena disini banyak pasien," ucap Suster.
"Nay, Papa lakukan semua ini karena Papa sayang sama kamu. Papa belum siap kehilangan anak Papa, apa kamu bisa mengerti itu Nak?" Asloka mengungkapkan isi hatinya. Air mata yang dia tahan pun jatuh begitu saja, saat Kanaya semakin menjauhkan tangannya.
"Papa egois!" lirih Kanaya sesegukan.
"Papa hanya memikirkan diri sendiri, tapi tidak dengan Naya. Naya juga takut kehilangan anak, tapi kalian malah ingin mengambilnya. Dia nggak bersalah, Pa. Kenapa harus dibunuh?"
Air mata Kanaya semakin mengalir deras, dia masih tak percaya keluarganya sendiri bisa melakukan semua tanpa sepengetahuannya. Untung masih bisa diselamatkan, kalau tidak mungkin Kanaya lebih memilih pergi dari dunia ini.
"Bukan begitu, Nay."
"Pa, Naya Capek. Naya mau istirahat, terimakasih sudah mau merawatku selama ini. Mulai sekarang, jangan pernah campuri urusan Naya lagi." Putusnya tak dapat diganggu gugat.
__ADS_1
Asloka tak bisa berkata-kata lagi, dia hanya bisa keluar dengan perasaan kecewa. Sesampainya di luar, Asloka hanya bisa menggelengkan kepala, pertanda jika dia tak bisa membujuk anaknya.
***
Di tempat lain, Nabila begitu antusias mendengar kabar dari Kanaya. Setelah membujuk anak itu berkali-kali, ternyata Kanaya mau menikah dengan suaminya.
Meskipun rasanya sakit, tapi Nabila masih membutuhkan Kanaya untuk melahirkan keturunan suaminya. Lebih baik seperti ini, daripada dia harus menerima orang lain yang disiapkan mertuanya.
"Mas, ayo ih. Katanya mau menuruti semua permintaanku, sekarang Naya mau menikah denganmu, kita langsung kesana bawa pak ustadz atau apa gitu. Kamu nikahi dia secara siri saja," ujar Nabila terus memaksa suaminya.
"Nabila, jangan memaksa! Walaupun itu anakku, tapi aku maunya kamu yang hamil, bukan orang lain!" seru Kennan sangat malas menanggapi keinginan istrinya.
"Mas! Dari manapun lahirnya, yang penting anak kandung. Jangan kira aku buta ya mas, selama ini Mama selalu menjebakmu untuk menikah dengan Lusi, hanya saja aku diam, agar penyakitku stabil!" bentak Nabila mendadak emosi. Tapi, tak lama setelah itu Nabila memegang kuat dadanya. Karena emosi yang berlebihan, detak jantungnya tidak teratur.
"Mas, hanya sampai Kanaya melahirkan. Setelah itu bebas, mau kamu ceraikan atau bagaimana. Kita hanya butuh anaknya saja, please setuju ya untuk menikah dengan Naya, hanya beberapa bulan saja Mas," pinta Nabila semakin memohon.
Dia bahkan sampai bersimpuh di depan Kennan, agar suaminya ini mau menikah dengan Kanaya. Bagi Nabila, ini jalan satu-satunya agar mertuanya itu tidak berbuat licik.
"Tapi aku nggak bisa, Nabila." Tolak Kennan lagi dan lagi.
"Kalau kamu menolak, maka siap-siap kehilanganku Mas. Tinggal pilih saja, nikahi Kanaya hari ini juga, atau kehilanganku untuk selama-lamanya! Aku tunggu di bawah, jika sudah pasti akan pilihanmu maka ke bawah lah."
...****************...
Asloka : mak, anakku marah mak. Tolong jelaskan sama dia, ini semua yang terbaik. ðŸ˜ðŸ˜
Emak : Gimana ya Nak, kalau jadi emak pun akan seperti Naya. Lebih baik kehilangan nyawa, daripada anak ðŸ˜ðŸ˜
Asloka : Emmaaaakkk ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Emak : Lakaaa ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜