
Kanaya menatap haru ke arah keluarganya. Dia benar-benar diberikan kejutan besar oleh Hans, dengan cara mendatangkan keluarganya. Tangis bahagia tak bisa terbendung lagi, bibirnya terasa bergetar sampai tak bisa berkata-kata.
"Mama, papa, kakak," lirih Kanaya sambil merentangkan tangannya.
Keluarganya pun berlari mendekatinya, mereka semua saling berpelukan sampai-sampai kursi roda yang diduduki hampir saja terbalik karena sangat antusiasnya mereka.
"Aku merindukan kalian," lirihnya terus menangis.
"Kami juga merindukanmu, Nak. Bagaimana kabarmu, Papa sangat senang mendengar kamu sudah sadar dari koma panjangmu," kata Asloka terus menghapus air mata anaknya.
"Kabarku sangat baik, Pa. Papa sekarang semakin tua, wajah Papa penuh kerutan dan rambutnya mulai putih," ucap Kanaya sambil tertawa. Tapi, tak lama setelah itu Kanaya kembali memeluk Asloka sangat erat.
"Papa sehat-sehat ya, maaf Naya selalu membuat kalian khawatir," ucap Kanaya.
"Kamu bicara apa, Sayang. Kamu itu anak Papa, jadi wajar jika Papa khawatir terus sama kamu," kata Asloka sambil menarik hidup anaknya.
"Terima kasih sudah menjadi Papa terhebat untukku, aku sayang kalian semua."
Hans pun menangis melihat pemandangan di depannya. Dia tak kuat dan ingin pergi, tapi Aslan mencegah kepergian anaknya agar tak terlihat menjauh.
"Kamu juga hebat, Nak. Menunggu seseorang itu nggak muda, Papa bangga sama kamu," kata Aslan.
"Apaan sih, Pa. Jangan buat aku makin mewek deh, sudah aku mau pergi dulu," ucapnya segera pergi.
"Hans tunggu."
Hans langsung membalikkan badan dan menoleh ke arah Asloka. "Iya, Om?" Hans memaksakan senyumannya.
"Boleh kita bicara sebentar?"
"Tentu saja, mari bicara di luar saja, barangkali Tante Anne ingin leluasa bersama Naya," balas Hans
Asloka menganggukkan kepala, dia mengikuti Hans dari belakang dan sampai akhirnya mereka berdua sama-sama di luar. Udara terasa sangat dingin sekali, tapi bagi Hans ini sudah biasa, kecuali Asloka dia beberapa kali mengusap-usapkan tangannya karena kedinginan.
__ADS_1
"Belle, ambilkan mantel di dalam," kata Hans.
"Baik Tuan." (Anggap sajalah mereka pake bahasa sono ya 😄 ini versi emak, nggak paham bahasa sing song 🤧)
Setelah kepergian Belle, mereka berdua pun saling diam dan menikmati teh hangat buatan Belle. Sampai akhirnya, Asloka mulai membuka pembicaraan.
"Hans, Om sangat berterima kasih sudah merawat Naya selama enam tahun ini," kata Asloka.
"Om nggak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi kewajiban Hans dan untuk menebus kesalahanku dulu," balas Hans.
Asloka hanya menganggukkan kepala, tak lama kemudian Belle datang sambil membawa mantel tebal dan memberikannya pada Asloka. Dia tak menolak, memang dia sangat kedinginan.
"Hans, apa kamu yang merencanakan kebakaran perusahaan Kennan?" tanya Asloka tiba-tiba.
"Maksud Om?" Hans masih bertanya-tanya.
"Hari ini Om dapat kabar jika perusahaan Kennan kebakaran dan banyak sekali korban jiwa meski hanya luka ringan, apa ini semua rencanamu?" tanya Asloka.
"Sejak dia mengalami kebangkrutan secara mendadak dan juga orang tua Nabila yang tiba-tiba jatuh miskin," balas Asloka masih terlihat sangat santai.
"Semua pantas dia dapatkan, itu masih belum seberapa dengan penyiksaan yang dilakukan Kennan pada Naya. Kalau bisa aku ingin mereka jatuh ke jurang paling dalam dan tak bisa keluar sampai kapanpun," ucap Hans terlihat sangat emosi.
Jika membahas Kennan, dia selalu emosi dan merasa ingin membunuhnya saja. Tapi, karena dia ingin Kennan merasakan penderitaan secara perlahan-lahan, maka Hans harus bersabar.
"Om sangat berterima kasih atas semuanya, tapi untuk yang kali ini Om keberatan. Tindakanmu membuat banyak orang hampir kehilangan nyawa karena terjebak dalam gedung, bahkan beberapa ada yang kesulitan nafas," sungut Asloka.
"Kamu boleh balas dendam, tapi jangan jadikan orang lain menanggung kesalahan Kennan. Semoga lain kali kamu tak bertindak gegabah." Asloka memutuskan untuk pergi dan masuk kembali.
Sedangkan Hans, dia hanya terdiam sambil menatap pemandangan di depannya. Tak lama kemudian, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang suruhannya.
"Jack, temui para korban dan beri mereka kompensasi tinggi. Bagi yang luka berat, rawat mereka sampai sembuh dengan pelayanan rumah sakit VIP."
'Baik Tuan.'
__ADS_1
***
"Opa, Oma, Pak De ...."
Teriakan melengking dari Aileen pun terdengar sangat kencang di seluruh rumah. Dia terus berlari menghampiri keluarga yang sangat Aileen rindukan selama ini.
"Jangan lari-lari, Nak," tegur Hans.
"Aileen terlalu senang, Papa," sahut Aileen terus berlari ke arah Asloka.
"Cucu Opa, sudah besar kamu Nak."
Mata Asloka sampai berkaca-kaca melihat cucunya tumbuh besar dan sehat.
"Iya dong, kan Papa selalu kasih aku susu," balas Aileen dengan gaya centilnya.
"Kamu bisa saja, Sayang." Asloka terus mencium pipi gembul cucunya begitu juga Aileen, dia terus mendaratkan bibirnya itu ke pipi Asloka sampai berkali-kali.
"Rindunya sama Opa saja ini? Sama Oma nggak rindu?" Anne pura-pura merajuk.
"Nggak dong, Aileen juga rinduuu omaa!" Setelah itu Aileen meronta ingin di turunkan dan minta gendong Anne.
Meski tubuh Anne saat ini sangat rentah, tapi dia berusaha menggendong cucunya itu. "Berat sekali kamu, Sayang. Pinggang Oma sampai bunyi," ucap Anne sambil tertawa.
Mereka semua pun tertawa melihat tingkah Aileen, dia terus meminta hadiah pada Abian dan Abrian. Meski sempat merajuk, tapi akhirnya Aileen mendapatkan hadiahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya MY LOVE FROM THE BLUE SEA Author KISSS jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1