
Hans dan keluarganya kini bersiap berangkat ke bandara, setelah memastikan kondisi Kanaya baik-baik saja, barulah mereka bergegas kembali ke Indonesia untuk menjemput Aileen.
Akan tetapi baru saja Hans memasuki mobil, tiba-tiba ponselnya berdering sehingga membuatnya mengurungkan niat masuk ke dalam.
"Siapa?" Kanaya penasaran dengan panggilannya itu sampai menarik lengan Hans.
"Nggak tau, ini nomor negara sebelah." Hans ingin mematikan panggilan itu, tapi Kanaya melarang Hans.
"Jangan ditolak, barangkali penting."
Hans mengangguk, segera dia mengangkat panggilan itu dan bersiap bersuara. "Hal —"
'PAPA! INI AILEEN!'
Deg!
Jantung Hans, maupun Kanaya pun berdetak amat kencang setelah mendengar teriakan dari anaknya. Mata Kanaya mulai berkaca-kaca merasa lega, mendengar Aileen baik-baik saja.
"Nak, kamu ada di mana Sayang? Kita semua khawatir denganmu," ucap Hans tanpa sadar meneteskan air matanya.
'Aileen diculik suster Santi dan tante jahat, tapi papa tenang saja Aileen sudah buat mereka kapok!'
Sejenak Hans dan Kanaya saling tatap, mereka tak paham dengan ucapan Aileen tapi mereka tak ingin mempermasalahkan itu.
"Aileen sekarang dimana, Nak? Biar mama jemput dan ini kamu memakai ponsel siapa, apa mereka memberimu ponsel?" tanya Kanaya amat lembut.
'Aileen nggak tau dimana, Ma. Tapi sepertinya di bandara, Aileen pinjam ponsel pak polisi.'
"Berikan ponselnya, papa mau bicara sama pak polisinya, biar mereka menangkap —"
'Papa, Aileen mau ikut tante jahat ke Indonesia, papa jemput Aileen disana saja. Aileen masih ada urusan dengan seseorang.'
Diam, semua orang jadi diam mendengar perkataan Aileen yang mendadak seperti orang dewasa, bahkan terbilang sangat mustahil bagi anak seusianya.
__ADS_1
"Kamu mau bertemu siapa, Nak?" Kanaya terlihat sangat waspada.
'Mau bertemu om jahat!' seruan Aileen terdengar seperti marah besar.
'Papa, Aileen sebenarnya sudah tau semuanya. Papa bukan Papa kandung Aileen,' sambung Aileen dari seberang sana.
Hans sangat tercubit mendengar pernyataan anaknya, hal yang ditakut-takutkan akhirnya terjadi, Aileen mengetahui kebenaran jika dia bukanlah orang tua kandungnya.
"Sayang, papa ...."
'Aileen Sayang sama Papa, sampai kapanpun Papa Aileen hanya papa Hans, bukan om Jahat.'
Suara Aileen semakin lama semakin bergetar seperti menahan tangis, inilah yang membuat semua orang ikut bersedih, melihat Hans karena hanya lelaki itu yang hancur saat ini.
'Papa jemput Aileen ya, Aileen tunggu di Indonesia. Sudah dulu ya Pa, tante jahat sudah datang. I love you papa!'
Tut!
"Aileen!"
Hatinya begitu sakit, hancur berkeping-keping. Rasa sakitnya melebihi ketika dia kehilangan Kanaya dulu, karena bagi Hans Aileen adalah belahan jiwanya.
"Kak, aku yakin Aileen pasti kembali pada kita, dia anak yang baik, nggak mungkin melupakan kita begitu saja," ucap Kanaya mencoba menenangkan Hans.
"Nay, aku takut sekali Nay. Dari pertama lahir aku yang membesarkannya, mulai dari menggendong, memandikannya, menemani bahkan setiap hari dia selalu kubawa, tak seorang pun boleh menyentuhnya, tapi sekarang?"
Hans tak sanggup melanjutkan ucapannya, kenang-kenangan masa dulu mulai terlintas di benaknya, dimana Aileen mulai tengkurap, merangkak dan berjalan.
Sedangkan Kanaya hanya bisa memeluk Hans dengan erat, dia tau betul perasaan Hans saat ini dan dia tak bisa melakukan apapun, hanya bisa meyakinkan tunangannya kalau semua pasti baik-baik saja.
***
Enam belas jam berlalu dengan sangat sulit, selama di pesawat Aileen selalu protes dan tak mau dikasih fasilitas rendah, apapun yang diinginkan harus dituruti, sehingga membuat Nabila lelah melihat semua ini.
__ADS_1
Ingin sekali Nabila marah, tapi dia ingat betapa sulitnya dia membawa Aileen kembali agar suaminya bisa kembali pulih seperti semula.
"Lama banget sih! Katanya sebentar lagi sampai, Aileen sudah capek mau naik stroller saja!" keluh Aileen lagi.
Nabila menarik nafas panjang, tangannya mulai mengepal kuat, ingin sekali dia menjerit, memaki serta mencubit Aileen tapi dia harus sabar dan selalu tersenyum pada bocah kecil di depannya itu.
"Sayang, kurang sedikit lagi kita sampai kok. Sabar ya, itu rumah sakitnya sudah terlihat kita tinggal masuk saja," balas Nabila.
"Nggak mau! Aileen capek, kalau mau gendong Aileen sampai sana!" marahnya membuat kesabaran Nabila mulai menipis.
"Aileen!"
"Apa? Mau marah? Dasar tante jahat, pokoknya Aileen mau pulang," bentak Aileen langsung berbalik dan bergegas pergi.
Nabila panik, dia merutuki kebodohannya karena tak bisa menahan emosi, dengan cepat Nabila berlari menyusul Aileen karena dia tak ingin kehilangan anak itu lagi.
"Nona, biar Suster gendong ya. Jangan lari seperti ini, disini banyak kendaraan!" teriak Santi.
"Nggak mau, Aileen mau di gendong tante jahat! Nggak mau lainnya," balasnya tak mau berhenti sedikitpun, Aileen sengaja menjauhkan dirinya agar Nabila menggendongnya lebih jauh dan lebih tersiksa.
"Oke, Oke, tante gendong kamu. Cepat berhenti, tante sudah kehabisan nafas. Stop berlari, tante nggak kuat."
Seketika Nabila berhenti sambil mengatur nafasnya, rasa sakit dalam dada mulai terasa lagi, padahal sudah lama dia tak merasakan sakit lagi, tapi hari ini Nabila merasa jantungnya bermasalah lagi.
"Bilang dari tadi kan enak, cepat gendong Aileen!"
Segera Aileen merentangkan tangannya, sedangkan Nabila hanya bisa mengikuti apa mau Aileen. Dengan nafas terengah-engah, Nabila menggendong Aileen sampai ke ruangan suaminya.
'Tuhan, kuatkan aku sebentar. Semua akan baik-baik saja sebentar lagi, kuat Nabila kuat!'
Note : Maaf jika ada typo, karena mata emak benar-benar burem. 🤣
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1