
"Mama, cepat sembuh ya. Aileen sayang mama, muach love you mama."
Kanaya merasakan kecupan lembut di pipinya setelah mendengar suara Aileen. Perlahan-lahan dia membuka mata dan menatap lurus ke atas, sejenak dia menetralisir cahaya yang masuk ke kornea mata, sangat menyilaukan sampai membuatnya meringis.
"Selamat pagi, Mama."
Sapaan dari Aileen pun membuat Kanaya menoleh. Dia bingung dengan keberadaan bocah kecil di sampingnya, dari kemarin selalu memanggilnya Mama. Padahal seingatnya Kanaya belum melahirkan.
Deg!
Mengingat tentang melahirkan, Kanaya spontan memegang perutnya. Terasa sangat rata, tak ada pergerakan atau perut membuncit. Pikirannya pun kemana-mana, dia takut bayinya tak dapat diselamatkan.
"Bayiku? Bayiku mana? Kenapa perutku menghilang, dimana bayiku!" teriak Kanaya sangat kencang sampai membuat Aileen takut.
"Papa, Mama kenapa?" tanya Aileen sangat polos, matanya mulai berkaca-kaca ingin menangis.
"Bayiku mana, dimana bayiku!"
Ketakutan Hans akhirnya terjadi, dengan cepat dia menggendong Aileen keluar dan menitipkannya pada papanya. Setelah beres, Hans kembali masuk melihat kondisi Kanaya.
"Mana bayiku, Kak? Mana?"
Hans terdiam kaku, Kanaya memanggilnya Kakak. Mungkinkah dia masih mengingatnya, atau memang Kanaya selalu memanggil setiap orang Kakak.
"Nay, kamu tenang dulu Sayang. Tarik nafas lalu buang," ucap Hans.
Kanaya pun mengikuti apa kata Hans, dia menarik nafas dalam-dalam setelah merasa tenang Kanaya langsung memeluk erat Hans.
"Kak Hans. Anakku mana, Kak? Dia baik-baik saja kan, tolong jawab aku Kak," lirih Kanaya semakin membuat Hans dag dig dug.
__ADS_1
Ternyata dugaannya benar, Kanaya masih mengingatnya dan masih bisa mengenali wajahnya meski sudah tiga belas tahun berlalu, bahkan umurnya juga sudah tak muda lagi.
"Anakmu baik-baik saja, Nay. Dia sangat cantik sepertimu, kamu mau bertemu dengannya?" tanyanya dengan suara bergetar menahan tangis.
"Mau Kak, di mana anakku? Aku mau melihatnya." Kanaya melepaskan pelukannya dan menatap Hans penuh permohonan.
"Tunggulah sebentar, aku akan panggil dia."
Kanaya mengangguk, dia membiarkan Hans keluar dan menunggu lelaki itu membawa putrinya. Tak sampai beberapa menit, Kanaya melihat Hans masuk sambil menggendong gadis kecil yang sangat cantik.
Kanaya bingung sekaligus bertanya-tanya, dia ingin bertemu bayinya tapi kenapa Hans membawa seorang putri berumur sekitar enam tahunan.
"Kak, mana anakku?" tanyanya terus menatap bingung.
"Ini anakmu Nay, namanya Aileen," balas Hans benar-benar membuat Kanaya kebingungan.
"Iya, Nay. Ini anakmu, Aileen."
Diam, Kanaya langsung terdiam sambil mencerna perkataan Hans. "Kak, anakku masih bayi. Mana mungkin sebesar ini, Kakak nggak sedang bercanda kan?" tanyanya lagi.
"Papa, Mama nggak mau bertemu Aileen?" lirih Aileen penuh kekecewaan.
"Bukan seperti itu, Sayang. Aileen harus sabar ya, kan Mama baru bangun, jadi perlu menyesuaikan diri," kata Hans sangat lembut.
Sedangkan Aileen tak menjawab, dia hanya diam sambil memeluk Hans dan tak mau menatap Kanaya. Aileen sangat sedih saat tau mamanya tak mengenali dirinya, hatinya pun sangat hancur.
"Nay, aku nggak bercanda. Ini anakmu, anak yang sangat kamu lindungi ketika mengandung dulu. Kamu selama ini koma, jadi melewatkan beberapa tahun lamanya," kata Hans sangat membuat Kanaya shock berat.
"Berapa lama aku koma? Berapa lama!" seru Kanaya seakan-akan tak percaya.
__ADS_1
"Enam tahun, Nay. Enam tahun, jika tak percaya cobalah lihat ponselku di sini ada kalender dan mungkin kamu bisa percaya."
Tak mau terus berdebat, akhirnya Hans memberikan posenya agar Kanaya melihat sendiri sekarang tahun berapa. Dia melihat jelas wajah keterkejutan Kanaya, bahkan seperti tak percaya dengan kenyataan yang ada.
"Ini serius, Kak?" Suara Kanaya sampai serak.
"Serius, Nay. Lihatlah, Aileen sangat merindukanmu. Selama ini dia ingin sekali bertemu dengan namanya, tapi setelah bertemu kamu malah meragukannya," ucap Hans.
Kanaya pun menangis, dia tak menyangka anak yang selalu dia pertahankan sekarang sudah sebesar ini. Dengan tangan gemetar, Kanaya merentangkan tangannya dan memanggil Aileen.
"Sayang, ini Mama, Nak."
Aileen mendengar suara mamanya pun segera menoleh, dia menatap ragu tapi akhirnya Aileen mau mendekati Kanaya.
"Mama Aileen sayang sama Mama, jangan benci Aileen."
"Nggak Sayang, Mama nggak benci Aileen. Maafkan Mama ya, tadi sempat tak mengenali Aileen." Kanaya langsung memeluk anaknya sangat erat. Bukan hanya memeluk, tapi Kanaya juga mencium seluruh wajahnya Aileen sampai sang empu kegelian.
Gelak tawa dari dua wanita yang sangat Hans cintai pun membuatnya terharu, dia merasa dunianya sudah lengkap setelah sadarnya Kanaya. Hans tak menginginkan apa-apa lagi, selain kebahagiaan mereka. Cukup mereka bisa tersenyum saja sudah membuat Hans merasa tenang.
'Semoga kamu selalu tersenyum, Nay. Hanya itu yang aku mau, semoga setelah ini tak ada penderitaan lagi di kehidupanmu.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya ANNISA ISTRI KECILKU Author MELISA jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1