Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 19


__ADS_3

"Dokter, bagaimana keadaan istri-istri saya?" Kennan bertanya pada dokter ketika keluar dari UGD.


"Untuk keadaan nyonya Kanaya, beliau mengalami anemia dan saya juga melihat ada beberapa memar di tubuhnya. Setelah melihat hasil lab, ternyata bu Kanaya mengidap leukimia stadium tiga. Di tahap ini seharusnya pasien melakukan kemoterapi atau mencari donor sumsum tulang belakang, tapi melihat kondisinya tengah mengandung semua pengobatan harus diberhentikan," ucap Dokter sangat membuat Kennan terkejut.


Dia tak tahu jika istrinya sakit keras, Kennan kira ucapan Asloka waktu itu hanya tipuan agar dia bisa baik pada anaknya. Tapi, ternyata semua benar dan Kennan mulai merasa bersalah.


"Terus, apa yang harus dilakukan Dok?" tanya Kennan lagi. Bingung, dia bingung mau tanya seperti apa apalagi baru hari ini Kennan tahu Kanaya sakit keras.


"Saya sarankan lepaskan kandungannya dan kita fokus pemulihan, meski sedikit terlambat, tapi dengan usaha pasti akan kembali sembuh."


Deg!


Jantung Kennan terasa berdenyut mendengar dokter menyuruhnya melelahkan bayi dalam kandungan Kanaya, entah kenapa rasanya sangat tak rela, tapi dia juga tak mau istrinya menderita.


"Untuk masalah itu, kami harus berunding. Saya tidak bisa mengambil keputusan sendiri, apalagi sudah sejauh ini," tolak Kennan secara halus.


"Baiklah kalau seperti itu," balas dokter.

__ADS_1


"Oh, ya keadaan Nabila bagaimana? Apa dia baik-baik saja, dari tadi kita membahas Kanaya. Sekarang bisa beritahu keadaan istrinya saya yang satunya," ucap Kennan.


Dokter pun mengangguk, dia menjelaskan kondisi Nabila sekarang tidak baik-baik saja. Bahkan Nabila sedang dalam masa kritis dan membutuhkan donor jantung secepatnya, tapi mengingat sulitnya mencari pendonor, jadi Kennan harus mengantri di salah satu yayasan khusus untuk orang-orang membutuhkan pendonor.


Sekarang otak Kennan sangat dibuat pusing, di satu sisi Nabila sangat membutuhkan donor jantung, tapi disisi lain ada Kanaya yang kondisinya jauh dikatakan sehat.


"Aku harus apa?"


***


Jauh di Jakarta, seorang lelaki tengah mengamuk besar kepada tiga orang suruhannya. Bukan hanya marah, bahkan lelaki itu sampai melemparkan semua barang-barang karena terlalu kesal pada ketiga orang itu.


"Kalian itu nggak becus, aku bayar kalian mahal-mahal untuk menjaga Naya! Bisa-bisanya, kalian nggak tau kalau dia di bawah Kennan ke luar negeri!"


Prang!!


Sebuah vas bunga pun melayang ke tembok, emosi Asloka kali ini sangat tinggi. Dia juga menyesal, seharian tak melihat CCTV jadi Asloka tak tau sejak kapan anaknya pergi.

__ADS_1


"Maaf Tuan, ini semua kelalaian saya." Lusi terus memohon maaf. Ini semua memang kesalahannya, sedari awal Lusi disuruh menata semua barang-barang Kanaya, sempat ada pertanyaan dalam benaknya dan ingin melapor. Tapi, dia lupa sehingga siang ini Lusi sudah tak melihat anak majikannya itu.


"Aku nggak mau tau, kalian cepat pergi ke Amerika dan dampingi Naya! Jika tidak, kalian tahu sendiri apa akibatnya! Masalah biaya jangan khawatir, setiap hari akan ku kirim biaya hidup disana, asalkan kalian tetap di samping anakku!" tegas Asloka.


Mereka hanya mengangguk mengikuti apa maunya Asloka. Setelah selesai mendapat amukan, mereka pamit undur diri dan segera berkemas untuk pergi ke negara orang.


"Kak, tahan emosimu. Jangan terlalu sering marah-marah, ingat tensi sudah tinggi. Aku nggak mau sampai kamu jatuh sakit, cukup Naya yang membuatku tak tenang," ucap Anne sambil memeluk suaminya dari belakang.


Dia merasa akhir-akhir ini suaminya sering marah-marah, Anne takut akan kesehatan Asloka, apalagi setelah mengetahui Kanaya memilih menikah dengan Kennan, suaminya jarang makan teratur.


"Mana bisa aku tenang, An. Anakku di negara orang, sedangkan kondisinya seperti itu. Apa kita pergi juga ke sana, setidaknya agar kita bisa memantau dari dekat," balas Asloka membalas pelukan istrinya.


"Jika itu membuatmu tenang, maka ayo kita pergi. Masalah perusahaan serahkan pada Abian, tapi sebelum itu kamu harus selesaikan masalah Abrian. Nikahkan dia dengan wanita pilihannya terlebih dulu, baru kita bisa pergi tanpa beban," kata Anne.


Asloka hanya menganggukkan kepala mendengar ucapan Anne, memang mereka harus mendahulukan pernikahan Abrian, karena anak mereka bukan hanya Kanaya saja. Dia tak mau dianggap orang tua pilih kasih, jadi Asloka putuskan akan mempercepat pernikahan Abrian barulah bisa tenang menyusul anaknya.


...****************...

__ADS_1


Maaf banyak typo, karena mata emak makin berkunang-kunang kayak ngeblur 😞😞 maaf, juga belum bisa memberikan cerita yang spektakuler seperti yang kalian harapkan. emak hanya manusia binasa 😜


__ADS_2