Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 28


__ADS_3

Pagi harinya, Kanaya terbangun dengan kondisi badan sakit semua. Dia berusaha duduk, namun pinggangnya benar-benar sakit sehingga Kanaya mengurungkan niatnya.


Sejak, dia melirik ke kanan dan kiri mencari suaminya. Tapi, sayangnya orang yang dia cari tak ada di dalam kamar hotel. Hembusan nafas kasar langsung dikeluarkan begitu saja, padahal Kanaya berharap setelah membuka mata Kennan ada di sampingnya.


Kanaya ingin sebelum dia pergi, Kennan selalu ada di sampingnya. Tapi dia lupa, jika suaminya memiliki dua istri dan harus adil dengan dua-duanya.


"Aww," pekiknya ketika merasa perih di area sensitifnya.


Seketika Kanaya tersenyum miris, dia merasa seperti seorang wanita malam, selesai di pakai di buang begitu saja. Tapi, dia tak mau terlalu terlarut dalam kesedihan dan Kanaya lebih memilih melupakan agar kesedihannya tak mempengaruhi kehamilannya.


Cklek!


Kanaya menoleh cepat ke arah pintu, di sana terlihat Lusi masuk dengan beberapa nampan berisi makanan serta susu. Dia merasa malu, sampai menarik selimut agar menutupi seluruh badannya.


"Nona, silakan makan," ucap Lusi seperti kesal pada Kanaya.


"Lus ...."


"Pak Kennan pergi dari jam tiga, beliau hanya menitipkan Nona agar tidak lupa makan," ucapnya sekali lagi, tanpa menatap Kanaya.


Kanaya merasa Lusi sangat berbeda hari ini, dia yakin Lusi sangat kecewa padanya, karena begitu mudah jatuh dalam pelukan Kennan, padahal Lusi selalu mengingatkannya jangan termakan rayuan Kennan.


"Lus, kamu marah sama aku?" Kanaya memegang tangan Lusi yang tengah fokus menaruh semua makanan di atas nakas.


"Saya tidak berani marah dengan majikan, Saya," balas Lusi sangat jelas menampilkan kekecewaannya pada Kanaya.


"Kamu bohong, Lus. Aku dapat melihat kekecewaan di wajahmu, maaf jika aku terlalu lemah dalam menghadapi kak Kennan. Tapi, aku hanya ingin merasakan memiliki suami seutuhnya sebelum papa menjemputku, Lus. Nggak lebih dari itu," ungkap Kanaya. Matanya pun kini mulai berkaca-kaca, dia sangat menyesal telah melukai perasaan Lusi, padahal dia sudah berjanji akan menghindari Kennan.


Sedangkan Lusi, dia menjadi tak tega melihat Kanaya seperti ini. Dia duduk di samping Kanaya dan membelai lembut pipinya.

__ADS_1


"Nona itu sudah saya anggap seperti anak sendiri, hati saya sakit ketika melihat Nona selalu dihina. Bukannya saya melarang, tapi ...." Lusi tak dapat melanjutkan ucapannya sendiri. Dia langsung memeluk Kanaya, sambil menangis.


"Tapi, saya takut Nona lebih dalam tersakiti. Cukup menyakiti diri sendiri, lepaskan lelaki seperti Pak Kennan, karena sampai kapanpun beliau tak akan pernah sepenuhnya menerima Nona," ucap Lusi sampai sesegukan.


Dia benar-benar kesal dengan Kennan, setelah mengambil dan menikmati tubuh Kanaya dengan mudah Kennan memintanya untuk menemani Kanaya karena istri pertamanya menelepon. Padahal Kennan baru saja pulang, tidak sampai tiga jam.


"Maafkan aku." Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Kanaya.


Lusi melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata Kanaya sangat lembut. "Jangan meminta maaf, Nona. Saya seharusnya yang meminta maaf, karena sudah lancang mencampuri urusan Nona."


"Nggak! Kamu sama sekali tak lancang. Sungguh jika kamu nggak ada disisiku, mungkin aku sudah tiada dari dulu. Terima kasih sudah mau menemaniku, Lus. Terima kasih." Kanaya kembali memeluk Lusi. Baginya memeluk Lusi bisa mengobati rasa rindunya pada mamanya. Pelukan penuh kasih sayang, serta kelembutan dalam diri Lusi.


***


Disisi lain, Kennan merasa tak tenang meninggalkan Kanaya. Dia takut jika istrinya berpikir kalau dirinya hanya menjadi pelampiasan nafsu saja, seperti habis manis sepah dibuang. Jujur, jika bukan karena Nabila menelponnya dia masih ingin di samping Kanaya.


Tapi, Nabila selalu menelpon dan mengatakan jika dia sedang sakit. Namun, sampai di sini ternyata istrinya hanya ingin bermanja sepanjang hari tanpa mau lepas sedikitpun.


"Bil, aku harus kembali ke hotel. Kanaya sendiri disana dan kamu juga berbohong, katanya sakit tapi ternyata hanya ingin berduaan seperti ini." Kennan pun melepas genggaman tangan Nabila, bersiap ingin pergi.


"Mas!"


"Nabila! Jangan egois, sudahlah aku mau pulang!" Kennan langsung menepis tangan Nabila yang hendak menahannya, dia tak mau sampai Kanaya salah paham lagi padanya.


"Aku ini istrimu, Mas!"


"Kanaya juga istriku, dia lebih membutuhkan aku daripada kamu Nabila! Tolong mengerti sedikit saja," bentak Kennan tak dapat menahan emosinya.


Sudah dua hari, dia selalu mengalah dan mengikuti apa kata Nabila. Tapi sekarang tidak dulu, dia sudah memutuskan untuk adil pada mereka berdua. Maka Kennan harus melanjutkan niatnya, bukan malah terjebak dengan Nabila lagi.

__ADS_1


"Mama akan datang nanti siang, kamu harus tetap disini Mas!"


"Aku nggak peduli, Nabila! Harus ku katakan berapa kali sama kamu, jika ingin kita kembali seperti dulu, maka rubah sikapmu ini! Minta maaflah pada Kanaya, setelah dia memaafkan mu kita bisa seperti dulu." Kennan semakin murka mendengar celotehan Nabila.


Kennan merasa Nabila sama sekali tak menghiraukan ucapannya, yang ada Nabila semakin memperlihatkan keburukannya dan keserakahan.


"Aku nggak mau minta maaf, Kanaya yang harus meminta maaf padaku!"


Plakkk!


Lagi-lagi Kennan harus menampar Nabila. Dia merasa mulut istrinya sekarang sangat pedas dan terlalu egois. "Introspeksi Bil, introspeksi! Kamu itu sudah salah tapi makin nyolot, capek aku jika kamu terus seperti ini!" bentak Kennan dengan nada tinggi.


"Aku berubah karena kamu, Mas!" Nabila membantah suaminya.


"Kamu berubah bukan karena siapa-siapa, semua karena kamu sendiri! Yang membuat luka, juga kamu kenapa sekarang menyalahkan orang terus! Kalau memang sulit sekali introspeksi lebih baik kita pisah saja!"


Duaaarr!!!


Nabila seketika terbeliak mendengar ucapan Kennan, tanpa sadar suaminya telah menjatuhkan talak satu padanya dan Nabila tak percaya Kennan bisa melakukannya.


"Kamu mentalak ku, Mas?" Nabila semakin menangis mendapati kenyataan itu.


Sedangkan Kennan tak bisa bicara apa-apa, dia tak tau ucapannya tadi sudah jatuh talak atau belum. Dia terlalu emosi sehingga tanpa sadar mulutnya mengeluarkan kata pisah.


"Mas!"


"Aku mau pergi, tolong cerna ucapan ku tadi. Jika masih ingin bersama, berubahlah. Ini yang terakhir kalinya aku mengingatkan." Kennan langsung mengalihkan pembicaraan, dia lebih memilih pergi daripada mulutnya tak terkontrol lagi.


"Mas, aku belum selesai bicara! Masss!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai emak mau bilang, maaf jika lama update. Kendala emak itu di review, lama nya pakek banget. jadi, mohon bersabar ya kawan-kawan. emak pasti update kok, tapi semua tergantung entun 😭


__ADS_2