Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 37


__ADS_3

Suasana genting terjadi di ruang tunggu operasi, semua orang di sana sangat menanti kabar dari dalam. Doa demi doa mereka panjatkan agar Kanaya dan juga anaknya bisa selamat.


Meski sempat ada keributan karena Anne menolak keputusan Asloka, tapi kini dia sudah mulai tenang dan berusaha yakin jika anaknya akan baik-baik saja.


Semua saling menguatkan, tak ada yang bersuara begitu juga dengan Hans. Lelaki itu hanya duduk di samping pintu operasi, dia tak mau bergerak sedikitpun, hatinya benar-benar tak bisa tenang sebelum mengetahui kabar Kanaya.


"Lama sekali operasinya!" seru Hans semakin frustasi. Dia ingin sekali menerobos masuk ke dalam dan menemani Kanaya, tapi sayang aturan rumah sakit membuat Hans tak berkutik.


Tak lama kemudian pintu operasi pun terbuka dan menampilkan Andreas dengan wajah kecewa. Semua orang mendekati dia, bahkan Hans yang lebih dulu menghadap sekaligus menayangkan kondisi Kanaya.


"Bagaimana kondisi Kanaya?" tanya Hans sangat tak sabar.


"Iya, bagaimana keadaan anakku, Dre!" Kini Asloka yang bertanya, sedangkan Anne hanya bisa diam menunggu jawaban Andreas sambil memeluk erat Abian.


"Dre, jawab!"


Andreas masih diam, tapi tak lama setelah itu dia menggeleng sebagai jawaban, "maaf ...."


"Bagaimana maksudnya, Dre! Yang jelas!" seru Asloka sangat gemetar. Meski dia paham apa maksud Andreas, tapi Asloka ingin memastikan sekali lagi.


Sedangkan Anne hanya bisa menutup mulutnya sangat erat, dia ingin menjerit sejadi-jadinya tapi Anne tahan sampai mendapat kepastian dari Andreas.


"Mereka berdua tak berhasil diselamatkan, Laka. Mereka berdua menyerah, Naya telah pergi bersama anaknya."

__ADS_1


"TIDAKK!"


Brugg!


Anne langsung pingsan mendengar berita ini, dia tak bisa menahan tubuhnya. Kenyataan dari Andreas benar-benar menghancurkan hatinya, sedangkan Khadijah menangis sambil memeluk erat suaminya.


"Kamu bohong kan, Dre? Anak dan cucuku masih hidup, jangan bercanda kamu," lirih Asloka berusaha tegar.


"Ikhlaskan mereka, Laka. Memang sulit, tapi —"


"Bagaimana aku bisa ikhlas, Dre. Mudah sekali mulut berkata seperti itu, tapi kenyataannya tak segampang saat berucap. Aku membesarkannya penuh kasih sayang, tapi sekarang dia pergi dengan membawa luka, sakit Dre, sakit!" Asloka pun meraung-raung sampai tubuhnya merosot di atas lantai.


Dai menjerit, menangisi kepergian putrinya. Kenangan-kenangan masa kecil Kanaya pun mulai terbayang, dimana Kanaya selalu memanggilnya dan sering sakit jika dia tinggal kerja.


Andreas pun ikut menangis, dia berjongkok dan memeluk Asloka. Sesekali dia menasehati Asloka, agar tabah menghadapi semua.


Namun, ketika Andreas berusaha menenangkannya. Tiba-tiba Asloka berdiri dengan raut wajah murka, Asloka menatap marah pada Kennan yang saat ini diam seperti patung.


Kennan juga sangat shock mendengar kabar ini, anak yang selama ini dia nantikan telah pergi begitu juga dengan Kanaya, istri yang tak pernah dianggap maupun bahagiakan.


"PUAS KAMU KENNAN! PUAS! Naya sekarang sudah pergi, apa kamu puas ha!" seru Asloka langsung meninju wajah Kennan.


Asloka tak bisa mengendalikan emosi lagi. Baginya Kennan sudah sangat keterlaluan dan membuat semua orang terluka, jika tau seperti ini Asloka tak sudi menerima Kennan menjadi menantunya.

__ADS_1


"Pergi kamu dari sini, jangan pergi menampakkan wajah hanamu di hadapanku. PERGI!" teriak Asloka terus mendorong Kennan agar pergi dari hadapannya.


"Om, aku ingin melihat—"


"Nggak aku izinkan! Kamu sudah memutuskan hubungan dengan anakku sebelum dia tiada, jadi sekarang pergi dari hadapanku! Pergi!"


Kennan tak bisa menentang lagi, dia memang salah. Andaikan saja dia bisa menahan agar tidak mengatakan talak sampai kondisi Kanaya membaik semua ini tak akan terjadi, tapi semua juga demi Nabila.


Jika dia tak segera menceraikan Kanaya, makan Nabila menolak untuk menjalani pencangkokan jantung. "Baiklah jika itu mau Om, tapi jauh dari lubuk hatiku, aku sangat menyesal dan sangat sedih kehilangannya mereka. Sekali lagi maafkan aku," ucap Kennan.


"Cepat pergi, aku nggak mau mendengar ocehanmu lagi. Security usir orang ini, cepat usir!"


Kennan mengalah, sebelum di usir oleh security, dia lebih dulu pergi dan meninggalkan Asloka. Meski berat, Kennan terus melangkah jauh sampai tak terlihat oleh orang-orang.


"Tuan Hans kemana?" Jefri kebingungan mencari tuannya, karena terlalu fokus melihat Asloka dia tak sadar jika Hans telah menghilang entah kemana.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya Jerat Asmara Sang Mafia Author Komalasari jangan lupa ya 😍😍


__ADS_1


__ADS_2