Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 39


__ADS_3

Langsung kaki seorang gadis kecil terdengar sangat nyaring di sudut ruangan, dia terus berlari mencari sang Papa sambil membawa kertas berisikan gambar yang baru saja dia buat dari sekolah.


Gadis itu bahkan tak memperdulikan teriakan dari sang pengasuh, yang dia tau hanya ingin bertemu papanya dan menunjukkan hasil karyanya.


"Papa, Aileen pulang! Papa dimana, Aileen mau tunjukkan gambar Aileen!" serunya terus berlari menuju ruangan papanya.


"Nona, jangan berlari nanti jatuh," teriak pengasuh Aileen. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya, dia takut anak majikannya ini kenapa-napa dan jika itu sampai terjadi, hidupnya akan tamat.


"Aileen mau bertemu, Papa!"


Tanpa diduga semua orang, Aileen membuka langsung pintu ruang kerja majikan mereka dan masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.


Brakk!


"Papa!" teriaknya sengat melengking sampai membuka seorang di sana terkejut.


"Aileen," lirih Hans langsung melirik para pengawalnya agar segera keluar dari ruangannya. Setelah itu Hans mendekati Aileen, sambil merentangkan tangan.


"Anak Papa sudah pulang ternyata. Bagaimana sekolahnya? Apa Aileen senang, Sayang?" tanya Hans sangat lembut. Kini Aileen sudah ada di gendongan Hans, dia bawa anaknya itu ke arah sofa dan langsung memangku Aileen.


"Tuan, maaf saya—"


"Pergilah, biarkan Aileen bersamaku," titah Hans membuat pengasuh Aileen lega, setidaknya dia tidak akan dipecat karena tak bisa menjaga Aileen dengan benar.


"Baik Tuan."


"Papa, tadi Aileen gambar ini. Lihat bagus kan."


Hans langsung menatap gambar yang di pegang Aileen, dia melihat hasil karya anaknya dan hati Hans semakin tersiksa ketika melihat Aileen menggambar sebuah keluarga yang bahagia.

__ADS_1


"Bagus sekali, Sayang. Kalau boleh tau ini siapa saja, Nak?" tanya Hans. Meski gambar anaknya belum sempurna, tapi Hans sudah menebak siapa saja yang ada di sana.


"Ini Papa, ini mama, ini Aileen, ini opa, ini oma, ini om kembar dan dedek bayi," balas Aileen memperlihatkan semua keluarganya.


Setelah itu Hans mencium puncak kepala Aileen, dia tak bisa berkata-kata jika putri kecilnya ini sudah menunjukkan perkembangan. Rasanya baru kemarin Hans menggendong bayi mungil, tapi sekarang bayi tersebut sudah tumbuh besar.


"Papa, kapan kita bertemu mama? Aileen ingin bertemu mama," ucap Aileen tiba-tiba.


"Nanti ya, Sayang. Mama masih sakit, jadi belum bisa dijenguk. Kalau mama sudah sehat, kita lihat bareng-bareng ya," bujuk Hans.


"Papa selalu bilang seperti itu, Aileen marah!" rajuknya.


Memang selama ini Hans tak pernah mempertemukan Aileen dengan Kanaya, tapi semua dia lakukan agar mental Aileen tidak down, apalagi sampai detik ini Kanaya belum mau membuka matanya, padahal waktu sudah berlalu enam tahun lamanya.


Dokter mengatakan kondisi Kanaya sudah stabil dan bisa dibilang sembuh meski belum total, tapi sayangnya Kanaya masih belum mau membuka mata. Seakan-akan dunia bawah sadarnya lebih indah daripada dunia nyata.


"Sayang ...."


"Opa!" Aileen pun meminta turun dari pangkuan Hans dan langsung berlari ke arah Aslan.


"Sini Sayang, sama Opa." Aslan langsung menggendong Aileen. Meski tubuh nya sudah sangat tua, tapi menolak Aileen sangat sulit baginya.


"Opa, Papa jahat. Aileen dijanjiin terus, padahal Aileen sangat ingin bertemu mama," keluhnya pada Aslan.


"Aileen mau bertemu mama?" tanya Aslan.


"Iya, Opa! Aileen mau bertemu mama," jawabnya sangat cepat.


"Kalau seperti itu, Aileen ganti baju dulu sama mbak Emly ya. Setelah itu makan siang, baru deh kita ke rumah sakit bertemu mama," jelas Aslan.

__ADS_1


"Opa serius?" Aileen terlihat sangat bahagia


"Iya Sayang, Opa serius. Cepat sana sama mbak Emly," sahut Aslan sangat membuat Aileen bahagia.


"Hore, akhirnya Aileen bertemu mama. Mbak Emly, ayo kita ke kamar!" teriaknya sambil berlari mencari Emly.


Sedangkan Hans, terlihat protes dengan keputusan Aslan. Dia bukan tak mau membawa anaknya ke sana, tapi Hans takut jika Aileen terkejut melihat kondisi Kanaya.


"Pa, apa ini keputusan tepat?" tanya Hans.


"Menurutmu?" Aslan malah balik bertanya.


"Pa, aku nggak main-main!" keluh Hasn.


"Sama, Papa juga nggak main-main Hans! Mau sampai kapan kamu melarang Aileen bertemu Naya? Padahal ini bisa jadi metode penyembuhan dia," ucap Aslan mulai serius dan tak terlihat main-main.


Hans hanya diam, dia memang menyadari kesalahannya. Tapi, mendengar dokter mengatakan jika daya tahan Aileen sangat rendah membuatnya takut membiarkan Aileen pergi bebas.


"Jangan takut berlebihan, Hans. Yakinlah jika Aileen akan baik-baik saja, meski daya tahan tubuhnya sangat buruk. Bebaskan dia, jangan kurung Aileen seperti tahanan," ungkap Aslan agar anaknya ini paham.


Baginya Aileen tak memiliki riwayat penyakit parah, hanya saja Aileen tipe anak yang gampang sakit jika terpapar udara bebas. Namun, semua akan kembali baik-baik saja jika dia istirahat, akan tetapi Hans terlalu menanggapi semua dengan serius sehingga terlihat membatasi cucunya.


"Papa benar, aku saja yang terlalu parno. Aileen sudah aku anggap seperti anak sendiri, jadi apapun tentang Aileen membuatku panik," jelas Hans mulai paham akan kesalahannya.


"Baguslah jika kamu sadar, sekarang bersiaplah dan ajak Aileen bertemu Naya. Papa mau kembali ke perusahaan, masih banyak pekerjaan. Ingat, jangan sampai membuat cucuku menangis! Sampai dia mengadu lagi, sungguh namamu akan Papa coret dari kartu keluarga!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.

__ADS_1


Judulnya Keikhlasan Hati Seorang Istri Author Mphoon jangan lupa ya 😍😍



__ADS_2