
Suasana tangis selesai pemakaman Kennan masih berlanjut, banyak dari mereka yang merasa sedih melihat nasib Kennan seperti ini, namun semua sudah menjadi takdir dan mereka tak mungkin bisa merubahnya.
Begitu juga Kanaya, dia sebenarnya sangat menyesal karena tak membiarkan Kennan bertemu Aileen sebentar saja saat kondisinya masih baik-baik saja, andai saja waktu bisa diputar kembali, Kanaya ingin berpisah secara baik-baik.
"Naya ...." lirih seorang lelaki dari belakang sambil memegang pundak Kanaya.
"Hemmm?" Kanaya menoleh secara malas, dia menatap lelaki di depannya itu dan berusaha mengingat-ingat siapa orang yang memanggilnya ini.
"Nay, kamu melupakanku?" Terlihat sekali wajahnya sangat kecewa, padahal selama bertahun-tahun dia selalu merindukan Kanaya.
"Febrian?" Kanaya seperti takut salah menyebutkan nama seseorang.
"Iya, aku Febrian. Kamu masih ingat aku, Nay?" Raut wajahnya pun langsung berubah saat mengetahui Kanaya mengingatnya.
"Kamu berubah banyak, Ian. Lama tak berjumpa, bagaimana kabarmu?" Kanaya juga ikut bahagia karena bisa melihat sahabatnya lagi, sudah bertahun-tahun tak saling bertemu ternyata Febrian banyak berubah.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja."
Mereka berdua pun saling mengobrol dan bertukar cerita, bahkan Kanaya sampai terlihat tertawa lepas sehingga memancing perhatian Hans yang saat ini tengah berbincang-bincang dengan tetangga Kennan serta kakak kakak Kanaya.
"Siapa dia?" Gumam Hans.
"Kamu belum tau ya?" Goda Abian penuh senyuman jahil.
"Memang siapa?" Hans mulai memancarkan tatapan tak raham pada Abian.
"Dia ...." Abian sengaja menggantung ucapannya agar Hans cemburu.
"Ish, yang jelas kalau memberi informasi!" Hans semakin kepanasan dan tak sabar ingin tau siapa lelaki bersama Kanaya. Dia benar-benar cemburu, sehingga membuatnya ingin menonjok siapapun.
__ADS_1
"Dia mantan kekasih Kanaya dan kabarnya sampai sekarang mereka belum putus, pas —"
"Mana ada!" Hans langsung berdiri dari duduknya. "Kanaya sudah menikah denganku, jadi mesti tanpa kata putus mereka sudah berakhir!" sambungnya sebelum benar-benar pergi dari hadapan Abian.
Sedangkan Abian terlihat sangat bahagia, sampai mendapat jitakan keras dari sang kembaran, "jaga sikapmu, ini kita ada di rumah duka dan bisa-bisanya kamu tertawa!" tegur Abrian.
"Sakit!"
"Salah sendiri, cepat berhenti tertawa! Nggak ada sopan santun, kamu ini."
Seketika Abian terdiam, dia juga menjadi kalem setelah mendapat teguran dari Abrian. Sedangkan di sisi lain, Hans berjalan sangat cepat menghampiri istrinya.
Hans tak bisa melihat Kanaya dekat dengan lelaki lain, hanya dirinya yang boleh membuat Kanaya bahagia, selamat lelaki lain tidak boleh. (Duh pocecip amat bank 🤦♀️)
"Sayang ...." Tanpa memedulikan apakah Kanaya kaget atau tidak, Hans langsung meraih pinggang istrinya dan memeluknya sangat erat.
'Ini orang sengaja memamerkan kemesraan atau bagaimana sih?' batin Febrian.
"Nggak ada apa-apa, aku hanya merindukan ISTRIKU apa salah?" Hans sampai menekankan kata istriku sambil menatap sinis Febrian, dia merasa ada saingan baru dan lebih muda darinya.
"Kak, kamu nggak salah minum obat kan?" Kanaya sampai dibuat salah tingkah karena ulah suaminya, beberapa kali dia melirik Febrian tapi Hans segera meraih pipinya agar menatap suaminya saja.
"Kamu hanya boleh menatap ku, Sayang. Dia hanya mantan kekasihmu, jadi jangan pernah menatapnya seperti itu!" seru Hans semakin terbakar api cemburu.
"Tunggu, mantan?" Febrian merasa ada yang aneh dengan ucapan Hans.
"Iya benar apa kata, Ian. Mantan? Siapa yang kamu maksud mantan ini, Kak?" Kanaya akhirnya memberontak dan melepaskan diri dari kungkungan suaminya.
"Ya kalian, siapa lagi?" Hans benar-benar langsung ke intinya, dia tak mau main petak umpet sehingga harus tebak-tebakan.
__ADS_1
"Kak, kamu serius menuduh aku pernah memiliki hubungan dengan dia?" tanya Kanaya sambil menunjuk ke arah Febrian.
"Iya, memang kenapa? Oh apa karena kalian belum putus jadi —"
"Siapa yang memberimu informasi seperti ini!" serunya membuat Hans sedikit menciut. Tanpa tunggu lama, Hans menunjuk ke arah Abian yang saat ini tersenyum mengejek.
"KAK BIAN!" Kanaya amat kesal akan perilaku kakaknya itu, dia ingin menghampiri Abian tapi Febrian mencegahnya pergi.
"Jangan sentuh istriku!"
"Oke, oke aku nggak pegang-pegang Naya lagi." Febrian sampai mengangkat kedua tangannya agar Hans tak semakin marah.
"Akan ku jelaskan semua, agar kamu nggak ada salah paham dengan kami. Jadi, kamu itu di bohongi oleh kak Bian. Aku dan Kanaya hanya sebatas sahabat, pernah dulu aku menyukainya sampai menawarkan diri menikahinya, tapi Kanaya menolak karena dia hanya menganggapku sahabat, nggak lebih," jelas Febrian agar tak ada salah paham antara mereka.
"Tuh, kamu sudah dengar kan? Kita nggak ada hubungan apapun, hanya sebatas sahabat," cetus Kanaya sambil mencubit kecil pinggang Hans.
"Aduh, sakit Sayang."
Febrian tertawa melihat tingkah laku Hans, dia juga merasa Hans adalah orang yang paling tepat untuk Kanaya. Apalagi dilihat dari sikap cemburunya, membuat Febrian sedikit tenang karena Kanaya sudah jatuh ke tangan orang baik.
"Kamu sangat beruntung mendapatkan Kanaya, Kak. Dia wanita hebat yang tahan banting, tapi jika kamu melukainya dan Kanaya mulai bosan, aku masih mau kok mendaftar jadi suami ketiganya." Setelah mengatakan itu, Febrian segera lari terbirit-birit meninggalkan mereka.
Sedangkan Hans ingin sekali membunuh Febrian dan mengejarnya sampai dapat, namun sayang pergerakannya sudah terkunci oleh Kanaya. "Jangan bikin malu, ini di rumah orang dan suasana lagi berduka, nggak pantas kalau kalian bertengkar," ancam Kanaya.
Hans tak bisa menjawab, dia juga baru ingat jika mereka ada di rumah duka, jadi Hans langsung kembali ke modem baik hati dan dermawan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1