
Satu tahun berlalu ....
"Papa!!!" teriak Aileen sangat menggelegar di seluruh ruangan, Hans bahkan sampai meringis ketika lengkingan suara anaknya itu menusuk gendang telinga.
"Sayang, bisa pelankan suaramu sedikit? Mama sedang tak enak badan, tapi kamu malah teriak-teriak," ujar Hans pada gadis hampir berusia sembilan tahun itu.
"Ish ... ini juga salah Papa, tahu nggak sih!" serunya semakin merajuk, sedangkan Kanaya hanya bisa tersenyum mendengar celotehan anaknya. Tak terasa putrinya kini mulai tumbuh dewasa, bisa dibilang memasuki usia pubertas.
"Kenapa jadi salah Papa? Memang apa yang buat anak Papa ini kesal, coba katakan?" Hans segera memeluk putrinya agar emosi anaknya itu tak semakin panjang.
"Itu si Morgan, bocah gendut, jelek dan super nyebelin selalu mengikutiku kemana-mana, aku jadi nggak bisa bebas!" marahnya semakin kesal jika mengingat Morgan terus mengekorinya.
"Lagian kenapa sih Papa tampung bocah itu, nyebelin!" sambungnya lagi.
"Nak, nggak boleh bicara seperti itu. Keluarga Morgan sedang mengalami masalah besar, jadi apa salahnya kita memberikan perlindungan untuk sementara waktu?" Akhirnya Kanaya mulai bicara, meski kepalanya sangat sakit tapi jika mendengar Aileen melakukan kesalahan dia tidak bisa diam saja.
"Oh ya satu lagi, panggil dia Kakak! Morgan lebih tua darimu lima tahun, jadi mulai biasakan seperti itu." Kanaya langsung ke modem garang.
"Nggak mau!" Aileen semakin marah, dia segera meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Morgan hanya bisa menatap Aileen dari kejauhan, bocah itu sangat sedih karena Aileen tak bisa menerimanya, padahal dia hanya ingin berteman.
"Morgan, sini Nak. Jangan berdiri disitu saja," panggil Kanaya sangat lembut.
__ADS_1
Morgan pun berjalan mendekati Kanaya dengan perasaan sedih, sedangkan Kanaya langsung memeluk Morgan penuh kasih sayang. Dia merasa kasihan pada anak ini, usianya masih 14 tahun tapi harus kekurangan kasih sayang karena keluarganya sedang ada konflik perebutan harta gono gini.
"Tante, Mama dan Papa kapan menjemputku?" tanya Morgan.
Kanaya pun menatap Hans, dia bingung harus menjawab seperti apa. "Kamu yang sabar ya, setelah masalah rumah beres pasti mereka menjemputmu," balas Hans juga ikut menghibur Morgan.
Morgan tak membalas, dia hanya patuh pada ucapan Hans. Setelah itu, Hans menyuruh Morgan duduk dan menyiapkan makanan untuknya, sesekali Kanaya menyuapi Morgan penuh kasih sayang.
Tak terasa air mata Morgan terjatuh, dia tak pernah merasakan kasih sayang keluarga seperti ini dan jika bisa memilih Morgan ingin menjadi anak mereka saja.
"Kok nangis? Makanannya nggak enak, atau bagaimana?" tanya Kanaya.
"Enak kok, Tante. Aku hanya merasa senang bisa merasakan kasih sayang seperti ini," balasnya penuh senyuman tulus.
Morgan mengangguk senang, dia dengan lahap menyantap makanannya itu, sedangkan Kanaya sangat senang bisa melihat senyumnya Morgan.
"Sayang, kamu menyuruh Morgan makan yang banyak, tapi dari tadi aku melihatmu hanya menghisapp permen asam, apa ini baik untuk lambung?" Hans mulai memperhatikan gerak-gerik istrinya.
Dari pagi Hans melihat Kanaya selalu saja mengunyah permen asam, tak ada makan nasi sedikitpun dan wajahnya juga semakin hari semakin pucat.
"Lidahku terasa pahit, Kak. Dikasih permen ini rasanya enak, lagian aku juga nggak nafsu makan sama sekali," balas Kanaya ingin membuka sebungkus lagi tapi langsung di cegah oleh Hans.
"Cukup! Kamu sudah habis lima belas permen, jangan lagi. Sekarang aku nggak mau tahu, perutmu harus terisi sesuatu." Hans merampas permen dari tangan Kanaya.
__ADS_1
Setelah itu Hans menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya, tapi tanpa Hans tahu, tindakannya barusan membuat Kanaya berkaca-kaca.
"Nay, kamu baik-baik saja kan?" tanya Hans dan Morgan segera melihat ke arah mereka.
"Tante kenapa?" Morgan juga ikut panik, padahal tadi dia melihat Kanaya masih tersenyum namun sekarang sudah ingin menangis.
"Jahat kamu, Kak!"
Kanaya pun langsung pergi dari ruang makan, moodnya seketika berantakan hanya karena Hans mengambil beberapa permen dari tangan Kanaya.
"Loh, Naya. Salahku apa?"
Sungguh Hans seperti orang linglung, dia tak tahu kenapa istrinya bisa seperti itu, padahal selama hampir dua tahun menikah Kanaya tidak pernah mudah tersinggung.
"Hayoloh, Om. Tante marah, siap-siap deh bujuk Tante sampai bahagia lagi." Ejek Morgan.
"Diam, kamu masih anak kecil nggak paham masalah seperti ini," ucap Hans bergegas pergi. "Habiskan makananmu, Om mau mengejar Tente Naya," sambungnya.
Morgan hanya mengangguk, dia segera menghabiskan makanannya itu. Dia juga berniat setelah selesai makan akan menemui Aileen dan membawa makanan , karena Morgan tahu jika Aileen belum makan apapun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1