
"Mas, kamu akhirnya kembali," lirih Nabila terlihat seperti tak memiliki tenaga, langkah kakinya terhuyung-huyung seperti tak kuat berjalan seperti biasa.
"Aku hanya ingin mengambil pakaianku dan Kanaya, awas minggir!" Meski tak tega, Kennan harus terlihat seperti marah, jika dia bersikap lembek maka Nabila tidak akan menyadari kesalahan sendiri.
"Mas, apa kesalahanku terlalu besar sampai kamu begini? Apa aku salah, jika ingin mempertahankan pernikahan kita dari ancaman pelakor yang dikirim mamamu?" teriak Nabila kemudian, dia juga menangis sekeras mungkin agar Kennan melihatnya, tapi sayang suaminya itu tak mau menoleh sedikitpun.
"Kamu yang terlalu parno dengan rencana mama, Bil. Jika sedikit saja kamu percaya sama aku, semua ini nggak akan terjadi," balas Kennan.
Dia tak mau menatap Nabila, jika itu sampai terjadi maka hatinya akan luluh. Di tambah, ada rasa menyesal karena menamparnya beberapa hari lalu.
"Entah sejak kapan Nabila ku berubah, Nabila sekarang bukan Nabila ku yang dulu. Sekarang kamu sudah mengadu domba, bahkan memutar balikkan fakta hanya demi Kanaya dibenci semua orang." Kennan berbicara lagi, tapi kali ini sambil membawa tas kecil untuk memasukkan beberapa baju Kanaya.
"Mas ...." Nabila mendekati Kennan tapi Kennan malah menjauh.
"Jika kamu belum bisa introspeksi diri, maka jangan pernah berharap aku akan kembali. Semua ini juga demi kebaikanmu, aku nggak mau kamu jadi orang jahat, Bil," ucap Kennan semakin membuat Nabila menangis.
"Aku mencintaimu melebihi apapun itu. Tapi, bukan berarti kamu salah aku membenarkannya. Pernikahan ku dan Kanaya atas perintah mu, apapun yang kulakukan juga karena permintaanmu, tapi kenapa sekarang ada rasa tak terima?" tanya Kennan semakin membuat Nabila bungkam.
Nabila merasa terpojok, sehingga dendamnya pada Kanaya semakin besar. Dia juga merasa, Kennan tak lagi mencintainya karena Kanaya. Hanya itu sekarang dalam pikirannya, tak ada hal positif semua negatif.
Tapi, dari sini juga Nabila menjadi paham, jika suaminya ingin dia bisa mengakui kesalahannya dan baru kembali membalas dendam. "Mas, aku mengaku salah. Maaf, iya aku salah Mas." Nabila pun segera memeluk suaminya sangat erat.
__ADS_1
Sementara waktu dia harus mengakui kesalahannya dan memikirkan cara menyingkirkan Kanaya, untuk sekarang dia harus kembali seperti awal, menjadi Nabila pendiam yang tak banyak protes.
"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi Kanaya pasti tidak. Minta maaflah pada dia, jika Kanaya memaafkanmu maka aku juga memaafkanmu."
***
"Lus, Kira-kira anakku nanti mirip siapa ya?" tanya Kanaya sambil memakan buah-buahan dari Lusi.
Akhir-akhir ini Kanaya menjadi gemar makan, setelah hubungannya bersama Asloka membaik. Setiap hari bahkan setiap jam, Kanaya menelpon Asloka hanya demi mendengar suara papanya itu.
Bagi Kanaya, suara Asloka adalah obat penawar rasa sakitnya yang semakin hari semakin menjadi. Wajah teduh dan tutur kata lembut dari papanya lah, selalu membuatnya yakin akan sembuh.
"Pasti mirip Nona, apalagi kalau perempuan pasti menggemaskan seperti Nona," kata Lusi membuat Kanaya tersipu malu.
"Aku rindu kak Brian dan Bian. Kira-kira mereka merindukan aku nggak ya," gumam Kanaya mendadak sedih. Dari kemarin dia ingin sekali berbicara dengan kakaknya, tapi mereka sangat sibuk sehingga Kanaya harus merasa kecewa.
"Mereka sangat merindukan anda Nona, setiap malam mereka selalu menanyakan keadaan Nona. Ini masih ada beberapa chat nya," ucap Lusi agar tak membuat Kanaya terlalu stress dan benar dugaan Lusi Kanaya langsung senang mendengar semua itu.
Tak lama setelah itu, Kanaya mendengar pintu kamar hotelnya terbuka. Dia tak merasa kaget, karena dia pasti tau siapa yang masuk. Sampai akhirnya kedua matanya menangkap sosok lelaki yang beberapa hari ini memenuhi hatinya, siapa lagi jika bukan Kennan.
Kanaya perlahan-lahan ingin berdiri, tapi Kennan langsung menahannya agar tidak terlalu banyak bergerak. "Mau kemana?" tanya Kennan.
__ADS_1
"Mau menyambutmu," balas Kanaya sedikit malu. Dia merasa tak berguna sama sekali beberapa hari ini, apalagi hanya diam di atas ranjang tanpa melakukan apapun.
"Nggak perlu, kamu harus banyak istirahat. Oh ya, hari ini kamu ada jadwal pemeriksaan kan? Sekalian biar aku antar, karena hari ini juga Nabila waktunya check up," kata Kennan.
Kanaya terdiam, dia masih sangat kesal dengan Nabila, tapi Kanaya juga tak berani menolak. Bagaimanapun juga Nabila istri pertama suaminya, mau tak mau dia harus membiarkan suaminya adil.
"Biar Nona Kanaya bersama saya, Pak. Lagian selama ini juga sama saya, jadi —"
"Aku bicara dengan istriku, bukan kamu Lusi!" tegur Kennan.
"Emm, Kak. Benar apa kata Lusi, lebih baik aku berangkat dengan dia. Beberapa hari ini Kakak sudah ada di sampingku, jadi sekarang fokus lah pada kak Nabila," kata Kanaya sebagai tanda dia masih belum ingin bertemu Nabila.
"Kamu masih belum ingin bertemu Nabila, Nay?" tanya Kennan.
"Kak, tanpa ditanya pun Kakak sudah paham kan? Beri aku waktu, setidaknya biarkan hatiku tenang, tapi bukan berarti aku bisa memaafkan kak Nabila begitu saja setelah mengetahui rencana jahatnya," balasnya terus menunduk.
Sejenak hati Kanaya merasa sakit, dia juga membenarkan perkataan Lusi jika jangan terlalu percaya pada Kennan, karena bagaimanapun rasa cintanya akan lebih besar daripada rasa bersalahnya pada dia.
"Baiklah, jika itu maumu. Maaf, jika membuatmu menginginkan kejadian tak mengenakan lagi." Kennan mencium kening istrinya, dia sendiri juga merasa bersalah karena terlalu cepat memaksakan keadaan agar kedua istrinya bisa kembali akur.
...****************...
__ADS_1
Assalamu'alaikum, emak kembali. semoga kalian nggak lupa ya, padahal emak sendiri mulai lupa 😋😋😋
Selamat menguras emosi lagi 😁😁