
Malam hari yang sangat dingin, membuat Kanaya enggan untuk beranjak turun dari atas tempat tidur, sedari tadi wanita itu terus memeluk guling sambil berselimut tebal. Dia bahkan melewatkan makan malam, karena masih nyaman di ranjang.
"Nay, ayo bangun. Kamu belum makan apapun loh, masa gini terus sih," ucap Hans berusaha membangunkan istrinya. Dia juga menarik selimut tebal yang menyelimuti tubuh mungil sang istri.
"Kak, dingin ih. Nanti saja makannya, aku juga masih kenyang," tolak Kanaya sambil menarik kembali selimut tebal nan hangat itu.
"Nggak boleh, pokoknya kamu harus makan. Nanti Mama marah sama aku dan bisa-bisa dikeluarkan dari kartu keluarga," ujar Hans tak membiarkan istrinya terlalu mengabaikan kesehatannya.
Karena tak mendapat respon, maka jalan satu-satunya adalah menggendong istrinya itu. Dengan sangat sigap, Hans menggendong Kanaya sampai wanita itu terkejut dan spontan mengalungkan kedua tangannya ke leher Hans.
"Kak, aku takut jatuh!" pekik Kanaya semakin erat memeluk suaminya.
Sedangkan Hans sama sekali tak menjawab, dia terus berjalan sampai akhirnya mereka berdua sampai di ruang tamu. Dengan perlahan Hans menurunkan istrinya itu, di atas karpet tebal agar kaki Kanaya tak kedinginan.
"Sekarang mau alasan seperti apa lagi? Di depanmu ada api yang bisa menghangatkan ruangan, sekarang makan dan setelah itu bebas mau apa," marah Hans.
"Sudah dibilang aku kenyang. Sumpah Kak, perutku begah rasanya kalau kebanyakan makan." Tolak Kanaya semakin menutup mulutnya, dia sungguh-sungguh tak ingin makan, yang Kanaya ingin hanyalah tidur menikmati hangatnya selimut tebal di dalam kamar.
"Baiklah jika kamu nggak mau makan, aku akan taruh semuanya ke dapur lagi, tapi kalau perutmu mulai keroncongan langsung makan." Hans akhirnya mengalah.
Karena istrinya tak mau makan maka dia hanya bisa membereskan semuanya dan mengembalikan semua ke dapur, sedangkan Kanaya segera berlari ke arah kamar.
Dia baru ingat jika malam ini adalah malam yang sangat dinanti-nanti suaminya. Untung saja otaknya itu bekerja cepat, kalau tidak Kanaya akan melewatkan malam pertamanya berasa Hans.
"Mana ya bajunya, aku ingat tak taruh sini padahal," gumam Kanaya terus mencari lingeriee yang dia beli sebelum berangkat.
"Nah ketemu!" seru Kanaya sangat bahagia.
Tanpa menunggu banyak waktu, Kanaya segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti baju serta membersihkan seluruh area-area terpenting. Tak lupa, dia memakai body lotion serta lainnya agar tubuhnya sangat harum.
Bahkan, Kayana juga membeli parfum khusus hutan Amazone. Agar nanti Hans tak mencium aroma khas yang memalukan, baginya malam ini adalah malam keramat, jadi dia harus tampil sempurna di hadapan Hans.
__ADS_1
"Ternyata sangat seksi sekali," ucap Kanaya sambil membenarkan bra-nya agar kedua bongkah kelapa miliknya terlihat menonjol.
Setelah beres, Kanaya berputar-putar di depan cermin, terlihat jelas kulit tubuhnya merinding karena hawa dingin. Tapi, dengan cepat Kanaya memakai kimono untuk menutupi semua.
Dengan nafas panjang, Kanaya pun segera melangkah keluar dan menanti Hans masuk ke dalam kamar. Sambil menunggu, Kanaya memilih duduk di atas kursi meja rias, jantungnya sangat berdetak kencang saat menanti sang suami.
Perasaan nervous semakin menerpa dirinya, sampai kemudian langkah kaki mulai terdengar di balik pintu dan benar dugaan Kanaya, suaminya kini tengah membuka pintu kamar, sambil tersenyum ke arahnya.
"Belum tidur?" tanya Hans sambil mendekati istrinya. Seketika harum semerbak tubuh Kanaya mulai tercium, Hans merasa ada yang berbeda dari istrinya dan dia merasa Kanaya memang mempersiapkan diri.
"Aku menunggumu," balas Kanaya, dia kemudian memeluk Hans dan bermanja-manja pada suaminya.
"Kamu harum sekali, Sayang." Hans tak bisa membohongi dirinya lagi, dengan perlahan Hans mulai menciumii puncak kepala Kanaya. Namun lama semakin lama, ciumann itu semakin turun di leher putih istrinya.
Kanaya tak menjawab Hans, tapi dia merespon semua dengan cara melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. Bahkan tangan Kanaya sangat aktif meremasss dan menjambak, manja rambut Hans.
"Nay, aku menginginkanmu ...." Suara Hans terdengar sangat serak, matanya mulai diliputi hasrat membara sehingga dia tak bisa menahan lagi.
"Aku milikmu malam ini, Kak."
Mata Hans benar-benar tak bisa berpaling lagi, dengan cepat dia membawa istrinya ke atas ranjang dan mereka berdua akhirnya bisa meneguk surga dunia yang selalu mereka nanti-nanti.
***
Disisi lain, Nabila termenung sambil menatap sedih ke arah foto Kennan. Sudah tak terhitung berapa banyak air mata yang dikeluarkan, tapi do'anya tak pernah bisa dikabulkan oleh Tuhan, padahal dia hanya ingin Kennan dikembalikan, tapi ternyata semua tidak mungkin terjadi.
Hidupnya saat ini benar-benar hancur, tak ada cahaya warna lagi. Nabila begitu menyesali perbuatannya, andai waktu bisa diputar kembali dia lebih memilih hidup berdua saja tanpa anak, mereka pasti akan baik-baik saja.
"Nabila, kamu belum tidur Nak?" Burhan dan Rita menghampiri menantunya itu, karena sudah beberapa hari ini Nabila tak mau keluar dari kamar sehingga membuat mereka semakin khawatir akan kondisi menantunya.
"Belum ngantuk, Pa," balas Nabila tanpa ekspresi.
__ADS_1
Rita menatap pasrah pada suaminya, dia juga tidak tahu harus berbuat apa lagi demi menghibur menantunya itu.
"Nak, Papa tahu kamu sangat terpuruk, tapi juga nggak seperti ini, Sayang, relakan Kennan agar dia bisa tenang disana," lirih Burhan sambil membelai lembut puncak kepala Nabila.
Wanita itu pun menangis, air matanya tak bisa disembunyikan lagi, sehingga isak tangisnya mulai terdengar lirik. "Tuhan nggak adil padaku, Pa. Tuhan selalu mengambil semuanya dariku, aku benci dengan diriku sendiri, Pa."
Nabila semakin menangis, dia sangat marah pada dirinya sendiri, bahkan beberapa kali dia memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak.
"Andaikan saja aku nurut dengan kata-kata Kennan, tanpa anak mereka akan tetap bahagia, andai saja aku nggak bodoh, semua pasti baik-baik saja sekarang, aku benci dengan diriku sendiri, Pa!" teriak Nabila semakin histeris.
Rita tak bisa melihat ini, dia jadi ikut menangis, semua juga kesalahannya dan semua masalah terlahir karena Rita sendiri.
"Bil, jangan begitu, Tuhan itu maha adil. Semua sudah menjadi garisnya, kamu harus menerima semua, tenangkan dirimu Nak, jangan menyalahkan Tuhan." Burhan semakin erat memeluk menantunya.
Saat ini dia tahu betul jika Nabila membutuhkan dukungan penuh dari keluarga, tapi sayang kedua orang tua Nabila sangat acuh akan kondisi anaknya sehingga tak pernah menanyakan kabar Nabila.
"Aku lelah, Pa." Tiba-tiba Nabila melepas pelukan Burhan. Dia menghapus air matanya, expresi wajahnya juga langsung berubah seratus delapan puluh derajat.
"Tidurlah, mungkin dengan tidur kamu bisa menenangkan emosimu. Tapi, sebelumnya minum obatnya dulu," balas Burhan segera mengambil obat dari tangan Rita.
Nabila hanya menganggukkan kepala, dia ambil obat itu dan segera meminumnya. "Pa ... Ma ... Maaf, jika selama menjadi menantu kalian aku belum bisa memberikan kebahagiaan. Kalian keluarga terdekatku, maaf sudah merusak semuanya," ucap Nabila.
"Sudah jangan banyak berpikir, besok pagi Papa antar checkup ke dokter, sekarang cepat istirahat." Pamit Burhan.
Nabila tersenyum lembut ke arah mereka, setelah dia benar-benar sendiri didalam kamar, dengan cepat Nabila melepeh obat yang dia minum tadi. "Maafkan aku, Pa ...."
Nabila segera membuang obat tersebut, dengan langkah gontai dia menuju lemari dan mengambil sesuatu dari sana. Ternyata Nabila sudah merencanakan semua ini dia akan mengakhiri hidupnya malam ini juga.
Hatinya sudah tak kuat menanggung semua beban, Nabila ingin menyusul suaminya sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri.
"Maafkan aku ...."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...