Istri Tak Dianggap

Istri Tak Dianggap
ITD - 72. Panik


__ADS_3

"Sayang, aku kok ngakak tega ya ninggalin kamu sendiri dirumah, lebih baik aku batalkan saja deh perjalanan bisnis ini," ucap Hans merasa tak ingin berangkat.


Entah kenapa dia merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi dan Hans takut jika harus meninggalkan Kanaya sendiri di rumah, meski banyak orang menemani Kanaya.


"Kak, disini ada Mama Dinda dan Mama Anne, belum lagi Papa, jadi jangan khawatirkan aku." Kanaya berusaha meyakinkan suaminya agar tidak galau akan keberangkatannya.


"Benar apa kata Naya, disini ada kita-kita, jadi kamu jangan banyak alasan. Cepat pergi sebelum ketinggalan pesawat," sahut Dinda.


Dia sengaja masuk, karena Hans tak kunjung keluar padahal penerbangan tinggal beberapa menit lagi.


"Ma, biar papa saja ya yang berangkat," ujar Hans.


"Nggak bisa, Hans. Papamu sudah bilang kan, kalau dia butuh kamu, jadi cepat susul papamu sekarang juga, dia sudah berangkat terlebih dulu karena takut ketinggalan."


Hans seketika lesu, dia terlihat sangat sedih karena tak bisa membatalkan perjalanan bisnisnya. Mau tak mau, rela tak rela Hans harus meninggalkan istrinya perjalanan bisnis.


Dengan perlahan Hans berjongkok di hadapan perut buncit Kanaya, dia terus mengelus bahkan mencium perut buncit istrinya. Sesekali Hans mendapat balasan sebuah tendangan dari kedua anaknya itu.


"Sayang, kalian yang baik ya di dalam. Papa kerja dulu dan jangan buat Mama susah selagi Papa pergi," ucapnya terus mencium perut Kanaya.


"Iya Papa, adek pasti jadi anak yang baik kok." Kanaya pun membalas ucapan Hans dengan nada bicara anak kecil.


Setelah puas menciumi perut Kanaya, Hans bergegas berdiri sambil mencium kening sang istri. "Kamu baik-baik dirumah," lirih Hans.


"Iya, kamu sudah berkata seperti ini hampir 100x! Cepat pergi sebelum ketinggalan pesawat!" usir Kanaya.


Hans tersenyum kecut, mau tak mau dia hanya bisa mengikuti apa kata istrinya. Meski berat hati meninggalkan Kanaya, tapi akhirnya Hans masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah.

__ADS_1


"Dia terlalu posesif padamu, Nay." Omel Dinda sambil menggandeng tangan menantunya untuk masuk ke rumah.


"Kak Hans dari dulu kan seperti itu, Ma. Jadi nggak kaget, apalagi sekarang ada si kembar makin double posesif." Kanaya sampai terkekeh jika mengingat bagaimana Hans memperlakukannya sangat hati-hati.


"Iya juga sih. Oh iya, usia kandunganmu sekarang sudah tujuh bulan kan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall membeli perlengkapan bayimu?" Usul Dinda langsung dipikirkan Kanaya.


Dia ingin sekali pergi, tapi mama dan papanya akan datang sebentar lagi, jika Kanaya pergi maka mereka tak ada yang menyambut.


"Boleh sih, Ma. Tapi tunggu mama dan papa ku datang boleh? Mereka mau ke sini, mungkin sekarang masih perjalanan," balasnya sedikit tak enak hati.


"Sekalian saja mereka kita ajak jalan-jalan, mumpung bisa bersama, jarang-jarang kita ngumpul bareng," jelas Dinda.


Kanaya pun tersenyum lebar, dia terlihat setuju akan usul mertuanya. "Boleh kalau begitu, Ma. Sambil menunggu mereka datang, aku mau ganti baju dulu."


Dengan perasaan senang, Kanaya pergi ke kamarnya. Sedangkan Dinda lebih memilih menyiapkan beberapa makanan untuk besannya, dia tak mau mereka datang tanpa ada minuman atau makanan sedikitpun, jadi Dinda mempersiapkan semua dengan senang hati.


***


"Aww!"


Kanaya pun hanya bisa menunduk sambil memegang erat perutnya. Tentu tindakan barusan membuat ketiga manusia yang asyik memilih baju langsung panik.


"Naya, kamu kenapa Sayang?" Asloka memang pundak anaknya, tapi malah tangannya di raih Kanaya dan di cengkraman kuat oleh Kanaya.


"Aww, Papa sakit!" Kanaya semakin kuat meremasss punggung tangan Asloka, matanya itu mulai berkaca-kaca ingin menangis.


"Jangan-jangan Naya mau melahirkan?" Anne semakin membuat suasana panik.

__ADS_1


"Tapi kandungannya masih tujuh bulan, masa mau lahir," lirih Dinda sampai tak tega melihat kondisi menantunya.


"Bisa saja prematur, sekarang kita bawa ke rumah sakit segera sebelum --"


"Aakkhhh! Papa!" teriak Kanaya semakin kencang. Anne maupun Dinda melotot kaget, saat air ketuban Kanaya pecah begitu saja dan membanjiri lantai pusat perbelanjaan.


"Laka, cepat gendong Kanaya dia mau melahirkan ini!" Anne berteriak kencang.


Tanpa basa-basi lagi, Asloka menggendong Kanaya dia segera mencari tangga darurat karena posisi mereka ada di lantai tiga. Meski sangat lelah, Asloka tak peduli yang jelas dia tak mau anaknya kenapa-napa.


Setelah selesai drama tangga darurat, kini mereka bisa pergi ke rumah sakit terdekat, Asloka tak bisa membawa Kanaya lebih jauh apalagi kondisi anaknya semakin menjerit karena kesakitan.


Keringat dingin mulai bercucuran, Asloka merasa flashback ke masa-masa Anne melahirkan, sangat gugup dan takut kehilangan.


"Sabar, Sayang! Sebentar lagi kita sampai, sabar sebentar!" Mulutnya tak henti-hentinya mengoceh seperti itu, tanpa sadar Asloka kini menangis sampai suaranya terdengar sangat mengerikan bagi Dinda dan Anne.


Mereka berdua bingung mau menenangkan siap, di satu sisi Asloka yang panik sambil menangis di lain sisi Kanaya terus menjerit karena kesakitan.


"HANS!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Laka : Mak, kamu tega banget sama anakmu Mak. usia sudah tua, kaki rentan masih di suruh gendong orang hamil, kalau misalnya kakiku keseleo terus jatuh gimana makkk!


Emak : jatuh yah kamu dipenjara lah, kok repot! lagian itu anakmu sendiri, masa nggak kuat, ah cemen!


laka menghela Nafas : meski anakku sendiri, tapi —

__ADS_1


Emak : Cerewet! Emak mau tidur, jangan ganggu. Bay!


Laka : Emakkkk!


__ADS_2