
Kennan menggenggam erat jemari-jemari Nabila, setelah melewati masa-masa kritis akhirnya kini dia boleh masuk menemani istrinya. Berjam-jam hatinya tak tenang karena ini, sekarang Kennan bisa bernafas lega.
Semua masalah telah beres satu persatu, meski kini bisa di bilang jatuh miskin, tapi Kennan tak menyesali semua.
"Bil, ayo bangun Sayang. Kita sudah menemukan pendonor, sekarang kamu bisa sehat seperti dulu," lirih Kennan.
Sedari tadi dia terus menunggu Nabila dan melupakan Kanaya, sedikitpun Kennan belum menelpon atau memberikan kabar melalui chat. Padahal jauh di sana, Kanaya sedang menunggu kabarnya.
"Uuhhh ...."
Mendengar lenguhan dari Nabila, Kennan langsung melihat keadaan istrinya. Dia berdiri di samping Nabila sambil terus memanggil-manggil nama istrinya.
"M-mas ...." lirih Nabila sangat pelan hampir tak terdengar.
"Iya Sayang, aku disini," balas Kennan terus mencium puncak kepala Nabila.
Tak terasa air mata Kennan mulai terjatuh, dia sangat senang melihat istrinya siuman dan rasa khawatirnya pun seketika hilang.
"Kamu masih disini?" Nabila pun ikut menangis. Dia pikir suaminya akan pergi begitu saja dan lebih memilih Kanaya daripada dirinya.
"Jangan terlalu banyak pikiran, Bil. Kamu baru siuman, kesehatanmu belum benar-benar pulih," kata Kennan. Tapi tak didengarkan Nabila, dia semakin menangis sambil memeluk erat suaminya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Mas. Aku lebih baik mati jika kamu memilih Kanaya," ucapnya semakin menangis.
Kennan pun menggeleng, "nggak akan Sayang, nggak akan."
Nabila pun semakin mempererat pelukannya, setelah beberapa menit barulah Nabila merasa tenang. Dia bisa tersenyum kembali, bahkan tak mau melepaskan tangan suaminya.
__ADS_1
Nabila seakan-akan takut kehilangan Kennan jika dia melepaskan tangan suaminya. "Kamu mau makan? Tadi Mama bawa beberapa makanan kesukaanmu," kata Kennan.
"Aku nggak lapar, Mas."
"Baiklah, kalau lapar nanti bilang ya."
Nabila menganggukkan kepala, rasanya seperti mimpi. Suaminya yang beberapa hari ini lebih perhatian pada Kanaya, kini sudah kembali ke pelukannya.
"Oh ya, aku mau bilang beberapa hari lagi kamu akan melakukan pencangkokan jantung, Sayang," ujar Kennan langsung membuat Nabila shock.
Dia masih ingat betul apa kata dokter Jerk, dia bilang pendonor itu ingin uang miliaran dan Nabila menolak karena tak mungkin memiliki uang sebanyak itu.
"Mas! Jangan bilang kamu menyetujui permintaan orang itu?" Nabila sedikit melotot.
"Iya, aku menyetujui permintaannya."
"Mas! Lima miliar nggak sedikit, kita mana ada yang sebanyak itu belum lagi biaya perawatan rumah sakit!" serunya masih tak terima dengan keputusan suaminya.
"Nggak mau! Lebih baik aku ma—"
"NABILA!"
Mereka pun saling menatap tajam dan bergelut pada pikiran masing-masing, kedua sejoli ini sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah sehingga menimbulkan pertikaian. Padahal baru saja mereka berbaikan, tapi dalam sekejap menjadi musuh kembali.
"Oke, aku mau operasi! Tapi dengan satu syarat dan semua akan terjadi tergantung dengan keputusanmu," kata Nabila akhirnya memberikan keputusan meski belum pasti Kennan mau menurutinya atau tidak.
"Apa persyaratannya?" Kennan menunggu harap-harap cemas, entah mengapa hatinya sedikit ragu dengan syarat Nabila. Meski dia berusaha positif thinking, tapi masih ada sedikit rasa takut.
__ADS_1
"Ceraikan Kanaya sekarang juga! Jika kamu setuju, kapanpun kamu ingin aku operasi aku akan setuju. Namun, jika menolak lebih baik ikhlaskan kepergianku sewaktu-waktu."
***
Di negara lain, Kanaya barus saja turun dari pesawat. Dengan telaten Asloka membantu Kanaya naik ke atas kursi rodanya, dia tak mau anaknya ini kecapean jadi sebisa mungkin Asloka memberikan kenyamanan bagi Kanaya.
"Nay, kamu kok murung terus si Nak? Sebentar lagi kita bertemu mama dan kakak-kakakmu, masa nggak ada raut bahagia sama sekali," kata Asloka.
Sedari mereka masuk pesawat, sampai perjalanan enam jam lamanya Kanaya tak pernah tersenyum sedikitpun, yang ada hanya murung dan diam saja.
"Aku bahagia kok, Pa. Mungkin hanya kurang enak badan saja, kepalaku juga sangat sakit." Bohongnya, padahal jauh dalam hatinya memikirkan Kennan. Lelaki itu ingkar janji lagi, bahkan tak ada kabar sedikitpun.
"Kalau memang nggak enak badan, kita langsung pulang saja ya. Tapi sebelumnya Papa hanya mau menginginkan saja, dari awal kamu yang ingin anak ini lahir dengan selamat. Jadi ... kamu tau kan, konsekuensi dari kondisi badan yang stres akan mempengaruhi kandungan?"
Asloka terpaksa memakai cara ini agar anaknya tak sedih lagi, dia tau betul jika Kanaya saat ini memikirkan kennan.
"Lupakan dia, Nak. Kennan bukanlah jodohmu, lebih baik melepaskan daripada mempertahankan seseorang yang sama sekali tak memiliki rasa padamu. Belajarlah dari mamamu, karena dia pernah berada diposisi ini. Namun, mamamu lebih memilih melepaskan daripada sakit hati selamanya."
...----------------...
Hai emak kembali dengan kecantikan yang tidak ada duanya 🤣🤣
maaf ya emak lagi sibuk urus anak ke RS sama mutasi sekolah, jadi agak slow update 🙂🙂🙂
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya HASRAT KAKAK TIRI Author Desy Puspita jangan lupa ya 😍😍